Olahraga, selain memungkinkan tubuh segar bugar juga bisa melukai jika tak hati-hati dilakukan. Kadang penyebabnya adalah tidak konsentrasi, atau kondisi fisik memang sedang tak mendukung, sakit misalnya.
Kembali Sabtu siang, jadwal olahraga seperti biasa. Kali ini, lokasi yang akan kami tuju adalah Tor Simarbarimbing, bukit di belakang sekolah. Para siswa bersemangat membayangkan suasana pegunungan yang rindang dan pemandangan hijau di kanan kiri. Masih di kaki gunung, pendakian baru beberapa menit berlalu tapi kaki mulai malas melangkah. Bukannya mendapat suguhan pesona pegunungan, malah perumahan warga bertumpuk tak tertata.
 |
Di pelabuhan lama, usai ekskul. |
Adalah Dini, yang dari tadi seperti kurang bersemangat. Ia mengaku sedang sakit sehingga kesusahan berjalan. Pak Pres (izinkan kusebut demikian karena dengan nama itulah ia biasa dipanggil di sekolah) menemaninya sepanjang pendakian, mereka berada paling hilir barisan, berbincang akrab.
Tak berapa lama, tibalah di jalur perbukitan sebenarnya. Hanya ada jalanan kecil yang membelah rerumputan untuk bisa dilalui. Puncak dengan mudah dapat dicapai, memperlihatkan lanskap sebagian besar kota Sibolga. Ini kesempatan pertama bagi sebagian besar kami yang ikut pendakian. Entah karena berjiwa petualang atau memang pernah mencoba, Pak Pres bersama beberapa siswa memetik sejenis buah. Harimonting, rasanya hampir tawar dengan sedikit rasa manis dan asam.
Laut menghampar di barat dan perbukitan hijau di timur, merupakan perpaduan harmonis pemandangan ketika itu. Udara berhembus perlahan melalukan letih yang sedari tadi menempel dari betis hingga telapak kaki. Arakan awan menolong sebisanya dengan sesekali menutupi matahari. Jika berkesempatan menelusuri lebih seksama, mungkin ada hal lain dari tempat itu yang akan menimbulkan decak kagum. Namun kami mesti kembali, sebab hanyadiberi alokasi waktu 90 menit.
Karena pulang tak dalam rombongan, beberapa orang ketinggalan sementara yang lain telah tiba di sekolah. Pak Pres meminta salah seorang siswa kembali untuk menyuruh mereka mempercepat langkah. Ia meminjamkan sepeda berwarna keemasannya sebagai kendaraan.
Selama olahraga, khususnya yang menghabiskan banyak energi, ia akan berpesan macam-macam layaknya seorang ibu. Mulai dari “kalau lagi pemanasan, serius, biar nanti nggak luka waktu olahraga”, “kalau menarik kaki atau tangan, mesti sampe terasa, jangan loyo”, “kalau lagi muter-muterin kepala, jangan tutup mata, nanti pusing”, “abis lari jangan langsung lipat kaki, luruskan dulu biar nggak varises”.
Sehabis olahraga pun ia masih menyempatkan menyampaikan beberapa hal. Di antaranya “Kalau pegal-pegal abis olahraga, jangan diurut, nanti makin lama sembuhnya”, “sepulang olahraga apalagi kalau kehujanan, langsung ke rumah, mandi, minum teh manis hangat. Jangan melalak[1] lagi.”
Seorang teman menceritakan pengalaman ketika ia sakit bertepatan dengan jam olahraga. Lantaran mengaku tak kuat jika mesti berjalan jauh, Pak Pres membawanya ke lokasi olahraga dengan motor.Teman lain mengalami insiden ketika lari estafet, tangan atau kakinya berdarah cukup banyak usai bergesekan dengan aspal.Pak Pres sigap memeriksa. Sementara seorang lagi terkilirtangannya saat bermain kasti, Pak Pres lekas-lekas mengurut. Ia sigap dan bertanggung jawab.
Suatu siang sehabis jam olahraga di hari Sabtu, kami kembali ke kelas. Tak lama, dua teman menyadari bahwa ponsel mereka hilang. Spontan semua orang terkejut dan entah bagaimana, Pak Pres tiba-tiba sudah ada di kelas. Ia meminta kami duduk di bangku masing-masing, supaya ia bisa berkeliling memeriksa tas dan laci meja. Barangkali merasa turut bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Namun hingga “geledahan” terakhir, barang yang dicari tak juga dijumpai.Beberapa hari kemudian kelas sudah kami pasangi gembok, kalau tak salah ini saran Pak Pres juga, dan tak pernah lagi ada kejadian serupa.
[1]keluyuran