Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..
Tampilkan postingan dengan label dua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dua. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2016

Menghadapi Kekalahan


"Udah takdir kita mau gimana lagi..”

I
a berperan sebagai pelatih tim sepak bola SMA Negeri 2 Sibolga waktu itu. Juli atau Agustus 2010. Berhadapan dengan kesebelasan SMA Negeri 1 Sibolga yang notabene juga tempatnya mengajar. Suporter masing-masing tim sibuk memberi sumbangan semangat. Pertandingan petang itu diselenggarakan oleh Ikamasta Unimed. Aku bersama dua orang teman tiba hampir di ujung pertandingan, setelah siang tadi membeli tiket masuk.
Mata kami dengan cepat mengenali sosok yang tak lagi asing. Ia memberi aba-aba seraya terus memegang berlembar kertas di tangannya. Agaknya kami sedang menyaksikan pertandingan sungguhan seperti sering disiarkan di layar televisi. Bangku stadion baru pertama kalinya kulihat ramai terisi manusia.
Ia bergerak mendekati garis pinggir lapangan, pandangannya tampak terkonsentrasi ke antara anak-anak muda yang tengah mengadu keterampilan. Ia agaknya bukan tipe pelatih yang memaksakan kehendak, ambisius terhadap anak didiknya. Agregat gol satu sama hingga pertambahan waktu. Karena harus ada yang menang, adu pinalti pun jadi solusi.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan bagi kesebelasan SMA Negeri 1. Skor akhirnya 4-3, setelah babak pinalti yang mendebarkan. Kami pulang tak lama setelah peluit akhir dibunyikan. Tak berniat menegur Pak Pres yang dengan cepat menghilang di antara kerumunan pemain dan suporter yang berbaur di lapangan. Beberapa tampak kecewa bahkan menangis.
Hari hampir malam ketika ia menelepon. Terdengar nada kecewa yang tak ditutupi.
Tasi     : “Kayak manalah, nasib kita. Apa mau dibilang lagi..”
Aku     : “Yang nomor tujuh itu tadi kasian kali, Pak.”
Tasi     : “Kenapa?”
Aku     : “Nangis tadi..”
Tasi     : “Iya dia kaptennya pulak kan. Udah maksimal kali dia mainnya kan. Dia yang mati-matian tadi.”

Rabu, 23 Maret 2016

Hampir Berhenti Mengajar


Suatu senja hampir malam, Mei atau Juni 2010, di ujung ekskul dua mingguan yang sekalian jadi ujian semester praktik olahraga. Masih mengambil lokasi di pelabuhan lama. Hari sudah terlalu sore untuk bisa melihat tanpa kesulitan. Jalur angin berada tepat di depan wajah, menyinggahkan butir debu dalam kelopak mata. Suasana yang sebelumnya ramai tenang seketika. Terdengar debur ombak menghantam bibir pantai.

Barisan telah rapi berdasarkan kelas masing-masing. Ada empat kelas. Tak seorang pun membuka suara keras-keras. Hanya ada bisikan kecil yang memang tak mau absen. Ia membuka dengan beberapa pertanyaan dan pernyataan terkait pertandingan voli yang baru usai. Riuh gelak tawa  para siswa mengikuti kata-katanya. Ia menenangkan, tampaknya akan membicarakan sesuatu yang serius.
“Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita,” tuturnya.
Tidak ada tanda-tanda ia tengah bercanda. Meski pandanganku buram untuk menjangkau tempatnya berdiri yang memang jauh di depan, aku tak menemui bualan di wajahnya sana. Aku tak ingat persis bagaimana reaksi para siswa ketika itu. Tapi terasa betul ada aroma penolakan yang kental. Ada keengganan untuk percaya, ada banyak pertanyaan datang kemudian.
Dengan ketenangan yang dalam, ia melanjutkan. Seluruh kelas serius mendengarkan. Seakan tak mau melewatkan satu bagian pun dari cerita. Ia akan pindah, itu yang kupahami sejauh ini. Artinya, tak lagi mengajar di kelas mana pun di sekolah.
“Tapi kayak lagu kalian itu, kan.. ‘Semua indah pada waktunya.’” Ia tertawa agak dipaksakan.
Memajang senyum yang entah bagaimana masih bisa tersimpul. Banyak komentar lantang maupun sembunyi-sembunyi mengekor kemudian. Hampir semuanya bernada ketidaksetujuan. Aku memilih diam saja. Sesekali melirik ke arah sang guru yang baru saja permisi pergi. Setelah dua tahun diajar olehnya, tentu ini bukan kenyataan yang mudah diterima. Ia sosok guru yang terlanjur menyatu dengan kami.
Hari-hari setelahnya berlalu biasa saja. Meski beberapa siswa masih sering membicarakan rencana kepindahan Pak Pres. Kami belum mendapat berita yang mengindikasikan pembatalan perpisahan itu. Tampaknya ada hal yang memang sangat serius tengah terjadi.
Hingga saat pembagian rapor kenaikan kelas tiba. Ia bertanya melalui pesan singkat, siapa saja yang mendapat juara kelas serta adakah di antara kami yang diturunkan dari kelas unggulan (ini merupakan metode belajar yang sering mengharukan di sekolah). Setelah kujawab sekenanya, ia mengalihkan pembicaraan ke topik yang sebenarnya hampir kulupakan.
Sekiranya aku tak salah memahami, ia mengaku ada kemungkinkan masih akan mengajar di semester mendatang. Kabar itu ia peroleh dari seorang rekan guru yang sebelumnya ikut rapat pembagian tugas. Namanya ternyata masih diikutsertakan dalam jadwal mengajar. Meski belum berani memastikan, “Aminlah, Pak.” balasku kemudian.
Benar saja. Ia masih lanjut mengajar kami, bahkan hingga lulus sekolah. Secara resmi, tak pernah ia membuat penjelasan tentang alasan mengapa sampai akan pindah, serta mengapa kemudian batal. Entahlah, tapi ia pernah menyebut soal kontes politik yang dulu berlangsung sebagai penyebabnya (entah apa hubungan kedua perkara tersebut). Dari nada suaranya, ia begitu serius. Namun karena tak memahami dengan jernih, aku pun tak berhak menjelaskan duduk perkaranya.

Menyoal Tukkol

Dalam bahasa Indonesia, tukkol diartikan sebagai gigi berlubang namun sering disamakan saja dengan sakit gigi. Bagi mereka yang punya pengalaman dengan penyakit satu ini, tentu paham betapa tidak nyaman jika tukkol mulai melanda. Tapi, apa hubungannya dengan Tasi? 

Jadi begini ceritanya.. Sewaktu sekolah dulu, untuk kali pertama, gigiku sakit bukan main hingga timbulkan bengkak. Waktu tahu, ia menyarankan, “Cabut aja nanti..” maksudnya ketika sakitnya reda. Kuiyakan meski tak terlalu yakin akan menurut. 

Ia mengaku punya riwayat penyakit yang sama. Bahkan lebih parah karena sekaligus di kanan dan kiri. Sudah lama dicabut sehingga tak pernah kambuh lagi. Entah karena merasa tak dipercaya, ia mengnganga dan menunjukkan bekas pencabutan dengan mimik serius. 

Menghilangkan gigi mungkin memutuskan potensi sakit di masa mendatang. Namun banyak ahli menyarankan untuk sebisa mungkin mempertahankan keberadaan gigi, karena erat kaitannya dengan sistem saraf dan peredaran darah, yang salah-salah dapat berakibat fatal bagi kesehatan.

Minggu, 13 Maret 2016

Karisma Sang Teladan

"Ia adalah gambaran ideal untuk seseorang 
yang benar-benar seseorang.” 


Kalau Shakespeare pernah berujar ”apalah arti sebuah nama”, izinkan aku menjadi seorang oposisi kali ini. Karena bagiku, nama adalah kekuatan yang tertanam kuat dalam doa sang pemberi nama. Seperti juga Prestasi Pandiangan. 

Suatu waktu diadakan lomba lari maraton di Sibolga. Aku dimintai tolong oleh seorang teman untuk mendaftarkan dua nama dalam lomba tersebut. Berhubung tak sempat mendaftar langsung ke kantor Dinas Pariwisata, kumintai tolong Pak Pres, yang memang di hari sebelumnya menyampaikan pelaksanaan lomba tersebut. Ia menyanggupi. Namun kemudian ia berubah pikiran karena mengaku ada kesibukan mendadak. 

“Datang aja ke sana, bilang aja nama bapak..” begitu ia meyakinkanku untuk pergi sendiri. 

Aku mengiyakan saja, namun tak pergi juga lantaran ada pelajaran tambahan di sekolah. Setelah kembali melapor pada malam hari, ia turun tangan. 

“Biar aja bapak yang daftarkan. Kirimlah nama-namanya.” Demikian bunyi smsnya padaku. 

Esok harinya kami membuat janji bertemu. Ia membawa dua nomor dada yang ditulisi spidol hitam di lembar kain putih. 

“Kau kenapa ga ikut?” tanyanya. 

Sabtu, 12 Maret 2016

Betapa Ajaib Hidup Ini

“Kubahagia kau telah tercipta ke dunia. 
Dan kau ada di antara milyaran manusia.” 
Maudy Ayunda, Perahu Kertas


Hari ketika mereka bertemu adalah titik kecil yang lantas berubah jadi lautan cerita. Tak ada niat selain menjumpai seorang rekan guru di SMA Negeri 3. Ia berhenti di meja piket dan tak disangka ditakdirkan berkenalan dengan putri jelita pencuri hati, Aryati Lumban Gaol. Mata keduanya beradu, masih sebatas hubungan seprofesi. Mereka bersalaman seperti kenalan kebanyakan berlangsung. 

“Pandiangan,” demikian ia ingin dikenal saat itu. 

“Lumban Gaol,” tutur lawan bicaranya lembut seraya balas tersenyum. 

Seperti dunia turut merestui kebersamaan mereka, perbincangan ringan hari itu pun berubah jadi saling berbagi kisah hidup. Ada perasaan nyaman untuk berterus terang satu sama lain. Semakin sering ngobrol, semakin mengenal dan tibalah hari untuk menyatakan isi hati. 

Keduanya tengah menikmati makan siang di CafĂ© Ita. Tak tersirat keganjilan dalam tingkah laku siapapun hari itu. Pula tak ada seikat mawar merah atau bingkisan bermotif hati. Namun surga pun tahu, ada kado istimewa bersimpul harapan baik untuk seorang gadis yang tak kalah istimewa. 

Ia memperbaiki sikap duduknya, dengan tenang menarik napas panjang. Lalu memandang

Damai BersamaMu

“Saatnya untk beribdah..lepas smua mslah, 
konsen untk Tuhan.mat pagi mat hri minggu.Gbu” 
Prestasi Pandiangan, 16 Januari 2011 



Minggu selalu jadi hari yang ia tunggu-tunggu. Bukan semata-mata karena Minggu berarti hari bebas tugas, melainkan lantaran bisa menikmati peribadahan dengan Tuhan bersama keluarga dan para jemaat gereja. Setelah sibuk enam hari bekerja, Minggu menjadi begitu berarti buat banyak orang, terlebih mereka dengan rutinitas. Kutipan berikut kiranya bisa memberi penjelasan: 

“Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu 
dari pada seribu hari di tempat lain.” (Mazmur 84:10). 

Minggu pagi. Beberapa kali kami bertegur sapa di jalan. Ia mengendarai motor bebeknya bersama sang Ibu di boncengan. Keduanya tentulah menuju gereja. Mereka terdaftar sebagai jemaat di GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia). 

Ini cerita yang kudapat dari seorang teman dekatnya, seberapa keras pun aku coba membayangkan, selalu saja terasa janggal. Suatu malam, dalam kesenyapan hari ia datang mendekat pada Sang Khalik. Seorang diri dalam kamar yang dibiarkan tanpa sinar lampu,

Rabu, 09 Maret 2016

Ingatan Ketika Jam Olahraga

Olahraga, selain memungkinkan tubuh segar bugar juga bisa melukai jika tak hati-hati dilakukan. Kadang penyebabnya adalah tidak konsentrasi, atau kondisi fisik memang sedang tak mendukung, sakit misalnya. 

Kembali Sabtu siang, jadwal olahraga seperti biasa. Kali ini, lokasi yang akan kami tuju adalah Tor Simarbarimbing, bukit di belakang sekolah. Para siswa bersemangat membayangkan suasana pegunungan yang rindang dan pemandangan hijau di kanan kiri. Masih di kaki gunung, pendakian baru beberapa menit berlalu tapi kaki mulai malas melangkah. Bukannya mendapat suguhan pesona pegunungan, malah perumahan warga bertumpuk tak tertata. 

Di pelabuhan lama, usai ekskul.
Adalah Dini, yang dari tadi seperti kurang bersemangat. Ia mengaku sedang sakit sehingga kesusahan berjalan. Pak Pres (izinkan kusebut demikian karena dengan nama itulah ia biasa dipanggil di sekolah) menemaninya sepanjang pendakian, mereka berada paling hilir barisan, berbincang akrab. 

Tak berapa lama, tibalah di jalur perbukitan sebenarnya. Hanya ada jalanan kecil yang membelah rerumputan untuk bisa dilalui. Puncak dengan mudah dapat dicapai, memperlihatkan lanskap sebagian besar kota Sibolga. Ini kesempatan pertama bagi sebagian besar kami yang ikut pendakian. Entah karena berjiwa petualang atau memang pernah mencoba, Pak Pres bersama beberapa siswa memetik sejenis buah. Harimonting, rasanya hampir tawar dengan sedikit rasa manis dan asam. 

Laut menghampar di barat dan perbukitan hijau di timur, merupakan perpaduan harmonis pemandangan ketika itu. Udara berhembus perlahan melalukan letih yang sedari tadi menempel dari betis hingga telapak kaki. Arakan awan menolong sebisanya dengan sesekali menutupi matahari. Jika berkesempatan menelusuri lebih seksama, mungkin ada hal lain dari tempat itu yang akan menimbulkan decak kagum. Namun kami mesti kembali, sebab hanyadiberi alokasi waktu 90 menit. 

Karena pulang tak dalam rombongan, beberapa orang ketinggalan sementara yang lain telah tiba di sekolah. Pak Pres meminta salah seorang siswa kembali untuk menyuruh mereka mempercepat langkah. Ia meminjamkan sepeda berwarna keemasannya sebagai kendaraan. 

Selama olahraga, khususnya yang menghabiskan banyak energi, ia akan berpesan macam-macam layaknya seorang ibu. Mulai dari “kalau lagi pemanasan, serius, biar nanti nggak luka waktu olahraga”, “kalau menarik kaki atau tangan, mesti sampe terasa, jangan loyo”, “kalau lagi muter-muterin kepala, jangan tutup mata, nanti pusing”, “abis lari jangan langsung lipat kaki, luruskan dulu biar nggak varises”. 

Sehabis olahraga pun ia masih menyempatkan menyampaikan beberapa hal. Di antaranya “Kalau pegal-pegal abis olahraga, jangan diurut, nanti makin lama sembuhnya”, “sepulang olahraga apalagi kalau kehujanan, langsung ke rumah, mandi, minum teh manis hangat. Jangan melalak[1] lagi.” 

Seorang teman menceritakan pengalaman ketika ia sakit bertepatan dengan jam olahraga. Lantaran mengaku tak kuat jika mesti berjalan jauh, Pak Pres membawanya ke lokasi olahraga dengan motor.Teman lain mengalami insiden ketika lari estafet, tangan atau kakinya berdarah cukup banyak usai bergesekan dengan aspal.Pak Pres sigap memeriksa. Sementara seorang lagi terkilirtangannya saat bermain kasti, Pak Pres lekas-lekas mengurut. Ia sigap dan bertanggung jawab. 

Suatu siang sehabis jam olahraga di hari Sabtu, kami kembali ke kelas. Tak lama, dua teman menyadari bahwa ponsel mereka hilang. Spontan semua orang terkejut dan entah bagaimana, Pak Pres tiba-tiba sudah ada di kelas. Ia meminta kami duduk di bangku masing-masing, supaya ia bisa berkeliling memeriksa tas dan laci meja. Barangkali merasa turut bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Namun hingga “geledahan” terakhir, barang yang dicari tak juga dijumpai.Beberapa hari kemudian kelas sudah kami pasangi gembok, kalau tak salah ini saran Pak Pres juga, dan tak pernah lagi ada kejadian serupa. 


[1]keluyuran

Bermain Bersama

Bola tangan, sejenis olahraga permainan yang baru kutahu keberadaannya semenjak duduk di bangku SMA. Sejak pertama diperkenalkan hingga hampir lulus, ini jadi salah satu pengisi jam olahraga paling sering. Pemainnya menggunakan tangan, sebagai pengganti kaki kalau di sepak bola. Berlari sambil saling mengoper bola, berusaha melesatkan bola (biasanya voli) ke gawang lawan. 

Pagi itu, matahari belum naik cukup tinggi ketika kami berlari kecil menuju Stadion Horas. Waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Seperti biasa, lari selalu jadi pembuka olahraga setelah berdoa dalam barisan rapi. Kami kekurangan pemain, beberapa anak kelas kalau tak salah,tengah mengikuti semacam perlombaan akademik. Ia pun memutuskan ikut bermain, kami ada dalam tim yang sama. Ia berdiri di baris depan bersama beberapa lainnya. 

Semangat bermain dalam dirinya mudah sekali menular pada orang lain, tampak jelas sejak menit-menit awal permainan. Ia tak tampak ambisius, lagi pula ini hanya permainan melunasi 90 menit jatah olahraga mingguan. Baru sebentar memegang bola, ia segera mengoper ke rekannya yang lain. Ia bahkan pandai menemukan celah di antara barisan lawan. Untuk sesaat aku ingat bahwa ia seorang atlet sungguhan; menghabiskan hampir seluruh hidupnya bersama olahraga. 

Ia mengatur kencang-lambat ritme permainan, namun lantas mempersilakan orang lain bertindak bebas hingga mencetak gol. Ia bersorak paling keras ketika gawang lawan kemasukan bola, tertawa dan memberi semangat ketika giliran kami kemasukan bola. Dari sedikit pemahaman yang kumiliki, ini termasuk ciri para pemimpin. 

Hasil akhir pertandingan entah berapa, rasanya kekalahan ada di pihak kami waktu itu. Tapi lucunya, kami bahkan tak merasa perlu mengetahui perbandingan skor untuk menikmati permainan. Ini kali pertama sekaligus terakhir kami bermain dalam tim yang sama. 

Tuan Rumah yang Hangat

“Tinggal ini yang ada..” 



Pernah beberapa kali bertamu ke rumahnya di Jalan Huta Batu, Sibolga Julu memberi kesan bahwa ia pribadi yang hangat ketika kedatangan tamu. Waktu pertama menyambangi rumahnya, kami benar-benar buta. Sama sekali tidak tahu ke mana harus mencari alamat, namun segan menanyai langsung yang dicari. Kejadian itu terjadi ketika kami hendak mengantar durian ke rumahnya. 

Kami diantar oleh seorang anak lelaki Pak Ringo, −seorang guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Sibolga−, yang memang rumahnya kami jumpai terlebih dahulu. Ternyata jaraknya tak begitu jauh, sekitar sepuluh menit perjalanan lambat. 

Kami pun sampai di depan rumah sederhana bercat hijau yang berdiri tepat di pinggir jalan. Teman baru kami begitu yakin itu memang rumah yang tepat. Segera saja, kami mencari-cari wajah familiarnya ke kanan kiri, namun belum kunjung ada tanda-tanda keberadaannya. Hari mulai gelap, semoga kehadiran kami tak menggangu. 

Beberapa ibu tengah duduk di teras, asyik mengobrol entah tentang apa. Dari tadi mereka tampak penasaran melihat gerak-gerik kami. 

“Pak Presnya ada, Bu?” tanya salah satu dari kami. 

“Lagi ke sebelah, dek.” jawab salah satu dari mereka yang kemudian memanggil dengan suara agak keras. “Tase..”