"Ia adalah gambaran ideal untuk seseorang
yang benar-benar seseorang.”
Kalau Shakespeare pernah berujar ”apalah arti sebuah nama”, izinkan aku menjadi seorang oposisi kali ini. Karena bagiku, nama adalah kekuatan yang tertanam kuat dalam doa sang pemberi nama. Seperti juga Prestasi Pandiangan.
Suatu waktu diadakan lomba lari maraton di Sibolga. Aku dimintai tolong oleh seorang teman untuk mendaftarkan dua nama dalam lomba tersebut. Berhubung tak sempat mendaftar langsung ke kantor Dinas Pariwisata, kumintai tolong Pak Pres, yang memang di hari sebelumnya menyampaikan pelaksanaan lomba tersebut. Ia menyanggupi. Namun kemudian ia berubah pikiran karena mengaku ada kesibukan mendadak.
“Datang aja ke sana, bilang aja nama bapak..” begitu ia meyakinkanku untuk pergi sendiri.
Aku mengiyakan saja, namun tak pergi juga lantaran ada pelajaran tambahan di sekolah. Setelah kembali melapor pada malam hari, ia turun tangan.
“Biar aja bapak yang daftarkan. Kirimlah nama-namanya.” Demikian bunyi smsnya padaku.
Esok harinya kami membuat janji bertemu. Ia membawa dua nomor dada yang ditulisi spidol hitam di lembar kain putih.
Aku beralasan tak jago lari apalagi jauh-jauh. Ia malah meledek. Kami tertawa.. Senyumnya tak seperti orang kebanyakan. Ia tak tergesa-gesa melempar senyum. Bahkan seringkali pelit dengan senyumnya. Ia malah sering menunjukkan ekspresi tanpa ekspresi. Meski begitu, ia punya karisma tersendiri. Dari caranya memandang ke arahmu. Teduh namun tegas. Lembut sekaligus berkarakter. Ia tahu betul kapan waktu yang tepat untuk bertindak tepat.
Anak sekolah setingkat SMA sering berkeliaran dekat rumahnya hingga menjelang malam. Bahkan masih dengan seragam sekolah melekat di badannya. Bukan bemaksud menggeneralisasikan, namun anak-anak muda di daerahnya sering dicap bandel karena susah dinasihati bahkan suka bikin gaduh.
Ia mendekati mereka tanpa kesan sok dewasa apalagi menggurui. Menyampaikan beberapa patah kata lalu anak-anak muda itu bergegas pergi, entah pulang entah mencari tongkrongan baru. Ia pribadi yang disegani, bukan ditakuti.
Gaya bijaknya berbicara tak jarang terdengar dalam acara resmi maupun tidak, khususnya di sekitar lingkungan tinggalnya. Ia dinilai paling jago ngomong sehingga jadi langganan mewakili teman-temannya menyampaikan kata sambutan. Baik saat melayat ke acara penghiburan atau perayaan tertentu. Seperti telah menjadi andalan, saat ia sedang tak bisa ikut mereka kewalahan mencari pengganti. Kata-katanya sederhana, jauh dari kesan bersandiwara.
Ia bersentuhan dengan banyak kalangan. Bukan hanya orang-orang dalam bidang pendidikan, namun juga pemerintahan. Ia dikenal luas di antara para pejabat kota. Sewaktu lari sore misalnya, ia terlibat pembicaraan akrab dengan bapak Wakil Walikota, pelatih olahraga, hingga anak-anak muda dengan usia jauh di bawahnya. Tak heran, ketika di tempat yang jauh dari kota Sibolga pun namanya masih banyak dikenal. Jalan bersamanya mestilah siap-siap beramah tamah dengan banyak orang.
Namun yang unik, ia tak lantas menganggap diri sebagai publik figur. Punya banyak kerabat juga berarti banyak hati untuk dijaga. Ia tetap nyaman jadi diri sendiri ketika berhadapan dengan siapa saja. Ia merasa tak perlu berpura-pura, tak perlu mengenakan topeng. Meski begitu, ia tetap menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya. Ketika berhadapan dengan para pemabuk pun ia bahkan tak menggurui tidak pula menghindari. Ia seperti tahu bagaimana mendekati beragam karakter orang. Karena kemampuan itulah maka banyak orang yang bersedia menjadikannya teman. Kita dibuat nyaman menjadi apa adanya. Meski dalam beberapa kesempatan ia akan menyelipkan nasihat, pendengar nasihat itu bahkan sering tak sadar kalau sedang dinasihati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar