“Kubahagia kau telah tercipta ke dunia.
Dan kau ada di antara milyaran manusia.”
Maudy Ayunda, Perahu Kertas
Hari ketika mereka bertemu adalah titik kecil yang lantas berubah jadi lautan cerita. Tak ada niat selain menjumpai seorang rekan guru di SMA Negeri 3. Ia berhenti di meja piket dan tak disangka ditakdirkan berkenalan dengan putri jelita pencuri hati, Aryati Lumban Gaol. Mata keduanya beradu, masih sebatas hubungan seprofesi. Mereka bersalaman seperti kenalan kebanyakan berlangsung.
“Pandiangan,” demikian ia ingin dikenal saat itu.
“Lumban Gaol,” tutur lawan bicaranya lembut seraya balas tersenyum.
Seperti dunia turut merestui kebersamaan mereka, perbincangan ringan hari itu pun berubah jadi saling berbagi kisah hidup. Ada perasaan nyaman untuk berterus terang satu sama lain. Semakin sering ngobrol, semakin mengenal dan tibalah hari untuk menyatakan isi hati.
Keduanya tengah menikmati makan siang di Café Ita. Tak tersirat keganjilan dalam tingkah laku siapapun hari itu. Pula tak ada seikat mawar merah atau bingkisan bermotif hati. Namun surga pun tahu, ada kado istimewa bersimpul harapan baik untuk seorang gadis yang tak kalah istimewa.
Ia memperbaiki sikap duduknya, dengan tenang menarik napas panjang. Lalu memandang tepat ke lingkar mata cemerlang guru kimia di hadapannya. Tanpa banyak bumbu, ia meminta hubungan di antara mereka “diperjelas.”
“Sekarang, besok atau minggu depan jawabnya?” tanya sang wanita menahan diri untuk tidak banyak tersenyum.
Sementara menunggu jawaban lebih jelas, Tasi memperlihatkan ekspresi kecewa yang dalam, entah ini bagian dari skenario pertahanan diri atau sungguhan.
“Ga mau nolak..” seru Aryati.
Tiga kata itu menyusup lekas-lekas ke sela-sela udara, menuju indra pendengaran, lika-liku otak, untuk kemudian bermuara di hati dalam hitungan sepersekian detik. Senyum tersungging di wajahnya, di kedua wajah mereka. Langit biru kelihatan tak kuasa menahan cerahnya hari, kebahagiaan menggantung di langit-langit ruangan.
Ada gemuruh besar yang mereda dalam dadanya, semua menjadi lebih jelas sekarang. Hari depan memang kelihatan lebih menjanjikan jika dijalani berdua, mereka pun tampak serasi satu sama lain. Hampir setiap hari setelah siang itu, tak terlewatkan tanpa keduanya sekalipun bertemu. Tak ada yang akan menampik betapa tepatnya Tuhan telah mengizinkan mereka bersama.
Suatu Minggu yang hampir sore. Waktu ketika ia biasa bersama teman-teman “sepermainannya.” Icank menghubungi melalui handphone menanyakan keberadaannya. Ia rupanya tengah bersama sang kekasih. Ia berjanji segera datang menemui teman-temannya yang telah menyiapkan acara hari itu. Icank mengiyakan, meski agak ragu abang sekaligus sahabatnya itu akan segera tiba. Jika pun tak muncul, ia agaknya maklum saja.
Namun tak berapa lama, Tasi berada tepat di hadapan Icank yang menyembunyikan keraguan yang sempat muncul di benaknya. Ia mengerti betapa pantasnya Tasi untuk dipercaya. Dalam perkara ‘hati’ pun ia masih bisa membagi perhatian dengan para sahabatnya.
“Kalau pacar yang serius baru dikenalin,” demikian Linto menjelaskan kedekatan mereka dengan kekasih-kekasih Tasi. “Yang ini yang paling dekat dengan kita,” ia melanjutkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar