“Saatnya untk beribdah..lepas smua mslah,
konsen untk Tuhan.mat pagi mat hri minggu.Gbu”
Prestasi Pandiangan, 16 Januari 2011
Minggu selalu jadi hari yang ia tunggu-tunggu. Bukan semata-mata karena Minggu berarti hari bebas tugas, melainkan lantaran bisa menikmati peribadahan dengan Tuhan bersama keluarga dan para jemaat gereja. Setelah sibuk enam hari bekerja, Minggu menjadi begitu berarti buat banyak orang, terlebih mereka dengan rutinitas. Kutipan berikut kiranya bisa memberi penjelasan:
“Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu
dari pada seribu hari di tempat lain.” (Mazmur 84:10).
Minggu pagi. Beberapa kali kami bertegur sapa di jalan. Ia mengendarai motor bebeknya bersama sang Ibu di boncengan. Keduanya tentulah menuju gereja. Mereka terdaftar sebagai jemaat di GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia).
Ini cerita yang kudapat dari seorang teman dekatnya, seberapa keras pun aku coba membayangkan, selalu saja terasa janggal. Suatu malam, dalam kesenyapan hari ia datang mendekat pada Sang Khalik. Seorang diri dalam kamar yang dibiarkan tanpa sinar lampu, hanya ada sebatang lilin. Berbincang dalam suasana begitu tenteram dengan Pencipta Segala Sesuatu.
Bibirnya menggumamkan serangkaian kata. Seluruh hatinya sedang ditujukan pada sesuatu. Ia meminta sebuah rumah, rumah untuk keluarganya. Saat itu mereka masih mengontrak. Ia pun belum lama jadi PNS. Ia menyampaikan permintaannya dengan jelas, sungguh-sungguh lalu menyerahkan keputusan akhir di tangan Tuhan seraya mengucapkan “amin”.
Ia dikenal tak sering curhat dengan orang lain. Hanya beberapa saja yang bisa ia jadikan teman berbagi pergumulan. Selebihnya, hanya dengan Tuhan dan dirinya sendiri.
Tuhan menjawab doanya. Rumah yang mereka kontrak kini berganti status kepemilikan. Mereka punya rumah sendiri. Dindingnya kayu dan diberi cat hijau muda. Beberapa pot bunga berukuran kecil berjejer di terasnya. Perwujudan doanya tidak semudah kerja jin dalam lampu ajaib aladin yang mengabulkan keinginan sekejap mata. Ia membayarnya dengan perjuangan tidak sedikit.
Gajinya sebagai guru, terlebih karena ia masih terbilang baru tentulah tak begitu banyak. Ia mencari sumber pendapa- tan lain dari keahlian yang ia miliki, melatih. Ia jadi asisten pelatih Persebsi (Persatuan Sepak bola Sibolga) dan beberapa kelompok olahraga lain. Hari-harinya disibukkan dengan serangkaian jadwal berbau seragam.
Sang pemilik rumah memasang harga 60 juta untuk penjualan rumahnya. Tasi paham betul, ia belum sepenuhnya siap untuk harga itu. Bersama Charles, sahabat yang ia sapa “ces” ia nekad meminjam uang ke Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Penyabungan. Pinjaman inilah yang melengkapi pundi-pundi rupiah yang sejak lama ia kumpulkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar