Suatu senja hampir malam, Mei
atau Juni 2010, di ujung ekskul dua mingguan yang sekalian jadi ujian semester
praktik olahraga. Masih mengambil lokasi di pelabuhan lama.
Hari sudah terlalu sore untuk bisa melihat tanpa kesulitan. Jalur angin berada
tepat di depan wajah, menyinggahkan butir debu dalam kelopak mata. Suasana yang
sebelumnya ramai tenang seketika. Terdengar debur ombak menghantam bibir pantai.
|
Barisan telah rapi berdasarkan kelas masing-masing. Ada empat
kelas. Tak seorang pun membuka suara keras-keras. Hanya ada bisikan kecil yang
memang tak mau absen. Ia membuka dengan beberapa pertanyaan dan pernyataan
terkait pertandingan voli yang baru usai. Riuh gelak tawa para siswa mengikuti kata-katanya. Ia
menenangkan, tampaknya akan membicarakan sesuatu yang serius.
“Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita,” tuturnya.
Tidak ada tanda-tanda ia tengah bercanda. Meski pandanganku
buram untuk menjangkau tempatnya berdiri yang memang jauh di depan, aku tak
menemui bualan di wajahnya sana. Aku tak ingat persis bagaimana reaksi para
siswa ketika itu. Tapi terasa betul ada aroma penolakan yang kental. Ada
keengganan untuk percaya, ada banyak pertanyaan datang kemudian.
Dengan ketenangan yang dalam, ia melanjutkan. Seluruh kelas
serius mendengarkan. Seakan tak mau melewatkan satu bagian pun dari cerita. Ia
akan pindah, itu yang kupahami sejauh ini. Artinya, tak lagi mengajar di kelas
mana pun di sekolah.
“Tapi kayak lagu kalian itu, kan.. ‘Semua indah pada waktunya.’”
Ia tertawa agak dipaksakan.
Memajang senyum yang entah bagaimana masih bisa tersimpul. Banyak
komentar lantang maupun sembunyi-sembunyi mengekor kemudian. Hampir semuanya
bernada ketidaksetujuan. Aku memilih diam saja. Sesekali melirik ke arah sang
guru yang baru saja permisi pergi. Setelah dua tahun diajar olehnya, tentu ini
bukan kenyataan yang mudah diterima. Ia sosok guru yang terlanjur menyatu
dengan kami.
Hari-hari setelahnya berlalu biasa saja. Meski beberapa siswa
masih sering membicarakan rencana kepindahan Pak
Pres. Kami belum mendapat berita yang mengindikasikan pembatalan perpisahan
itu. Tampaknya ada hal yang memang sangat serius tengah terjadi.
Hingga saat pembagian rapor kenaikan kelas tiba. Ia bertanya
melalui pesan singkat, siapa saja yang mendapat juara kelas serta adakah di
antara kami yang diturunkan dari kelas unggulan (ini merupakan metode belajar yang
sering mengharukan di sekolah). Setelah kujawab sekenanya, ia mengalihkan
pembicaraan ke topik yang sebenarnya hampir kulupakan.
Sekiranya aku tak salah memahami, ia mengaku ada kemungkinkan
masih akan mengajar di semester mendatang. Kabar itu ia peroleh dari seorang
rekan guru yang sebelumnya ikut rapat pembagian tugas. Namanya ternyata masih
diikutsertakan dalam jadwal mengajar. Meski belum
berani memastikan, “Aminlah,
Pak.” balasku kemudian.
Benar saja. Ia masih lanjut
mengajar kami, bahkan hingga lulus sekolah. Secara resmi, tak pernah ia membuat
penjelasan tentang alasan mengapa sampai akan pindah, serta mengapa kemudian
batal. Entahlah, tapi ia pernah menyebut soal kontes politik yang dulu berlangsung sebagai
penyebabnya (entah apa hubungan kedua perkara tersebut). Dari nada suaranya, ia
begitu serius. Namun karena tak memahami dengan jernih, aku pun tak berhak
menjelaskan duduk perkaranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar