Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Rabu, 23 Maret 2016

Hampir Berhenti Mengajar


Suatu senja hampir malam, Mei atau Juni 2010, di ujung ekskul dua mingguan yang sekalian jadi ujian semester praktik olahraga. Masih mengambil lokasi di pelabuhan lama. Hari sudah terlalu sore untuk bisa melihat tanpa kesulitan. Jalur angin berada tepat di depan wajah, menyinggahkan butir debu dalam kelopak mata. Suasana yang sebelumnya ramai tenang seketika. Terdengar debur ombak menghantam bibir pantai.

Barisan telah rapi berdasarkan kelas masing-masing. Ada empat kelas. Tak seorang pun membuka suara keras-keras. Hanya ada bisikan kecil yang memang tak mau absen. Ia membuka dengan beberapa pertanyaan dan pernyataan terkait pertandingan voli yang baru usai. Riuh gelak tawa  para siswa mengikuti kata-katanya. Ia menenangkan, tampaknya akan membicarakan sesuatu yang serius.
“Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita,” tuturnya.
Tidak ada tanda-tanda ia tengah bercanda. Meski pandanganku buram untuk menjangkau tempatnya berdiri yang memang jauh di depan, aku tak menemui bualan di wajahnya sana. Aku tak ingat persis bagaimana reaksi para siswa ketika itu. Tapi terasa betul ada aroma penolakan yang kental. Ada keengganan untuk percaya, ada banyak pertanyaan datang kemudian.
Dengan ketenangan yang dalam, ia melanjutkan. Seluruh kelas serius mendengarkan. Seakan tak mau melewatkan satu bagian pun dari cerita. Ia akan pindah, itu yang kupahami sejauh ini. Artinya, tak lagi mengajar di kelas mana pun di sekolah.
“Tapi kayak lagu kalian itu, kan.. ‘Semua indah pada waktunya.’” Ia tertawa agak dipaksakan.
Memajang senyum yang entah bagaimana masih bisa tersimpul. Banyak komentar lantang maupun sembunyi-sembunyi mengekor kemudian. Hampir semuanya bernada ketidaksetujuan. Aku memilih diam saja. Sesekali melirik ke arah sang guru yang baru saja permisi pergi. Setelah dua tahun diajar olehnya, tentu ini bukan kenyataan yang mudah diterima. Ia sosok guru yang terlanjur menyatu dengan kami.
Hari-hari setelahnya berlalu biasa saja. Meski beberapa siswa masih sering membicarakan rencana kepindahan Pak Pres. Kami belum mendapat berita yang mengindikasikan pembatalan perpisahan itu. Tampaknya ada hal yang memang sangat serius tengah terjadi.
Hingga saat pembagian rapor kenaikan kelas tiba. Ia bertanya melalui pesan singkat, siapa saja yang mendapat juara kelas serta adakah di antara kami yang diturunkan dari kelas unggulan (ini merupakan metode belajar yang sering mengharukan di sekolah). Setelah kujawab sekenanya, ia mengalihkan pembicaraan ke topik yang sebenarnya hampir kulupakan.
Sekiranya aku tak salah memahami, ia mengaku ada kemungkinkan masih akan mengajar di semester mendatang. Kabar itu ia peroleh dari seorang rekan guru yang sebelumnya ikut rapat pembagian tugas. Namanya ternyata masih diikutsertakan dalam jadwal mengajar. Meski belum berani memastikan, “Aminlah, Pak.” balasku kemudian.
Benar saja. Ia masih lanjut mengajar kami, bahkan hingga lulus sekolah. Secara resmi, tak pernah ia membuat penjelasan tentang alasan mengapa sampai akan pindah, serta mengapa kemudian batal. Entahlah, tapi ia pernah menyebut soal kontes politik yang dulu berlangsung sebagai penyebabnya (entah apa hubungan kedua perkara tersebut). Dari nada suaranya, ia begitu serius. Namun karena tak memahami dengan jernih, aku pun tak berhak menjelaskan duduk perkaranya.

Tidak ada komentar: