"Udah takdir kita mau gimana lagi..”
I
|
a
berperan sebagai pelatih tim sepak bola SMA Negeri 2 Sibolga waktu itu. Juli
atau Agustus 2010. Berhadapan dengan kesebelasan SMA Negeri
1 Sibolga yang notabene juga tempatnya mengajar. Suporter masing-masing tim
sibuk memberi sumbangan semangat. Pertandingan petang itu diselenggarakan oleh
Ikamasta Unimed. Aku bersama dua orang teman tiba hampir di ujung pertandingan,
setelah siang tadi membeli tiket masuk.
Mata kami dengan cepat mengenali sosok yang tak lagi asing.
Ia memberi aba-aba seraya terus memegang berlembar kertas di tangannya. Agaknya
kami sedang menyaksikan pertandingan sungguhan seperti sering disiarkan di
layar televisi. Bangku stadion baru pertama kalinya kulihat ramai terisi
manusia.
Ia bergerak mendekati garis pinggir lapangan, pandangannya
tampak terkonsentrasi ke antara anak-anak muda yang tengah mengadu
keterampilan. Ia agaknya bukan tipe pelatih yang memaksakan kehendak, ambisius
terhadap anak didiknya. Agregat gol satu sama hingga
pertambahan waktu. Karena harus ada yang menang, adu pinalti pun jadi solusi.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan bagi kesebelasan SMA
Negeri 1. Skor akhirnya 4-3, setelah babak pinalti yang mendebarkan. Kami
pulang tak lama setelah peluit akhir dibunyikan. Tak berniat menegur Pak Pres yang
dengan cepat menghilang di antara kerumunan pemain dan suporter yang berbaur di
lapangan. Beberapa tampak kecewa bahkan menangis.
Hari hampir malam ketika ia menelepon. Terdengar nada kecewa
yang tak ditutupi.
Tasi : “Kayak
manalah, nasib kita. Apa mau dibilang lagi..”
Aku : “Yang
nomor tujuh itu tadi kasian kali, Pak.”
Tasi : “Kenapa?”
Aku : “Nangis
tadi..”
Tasi : “Iya dia kaptennya pulak kan. Udah
maksimal kali dia mainnya kan. Dia yang mati-matian tadi.”
Ada kebanggaan nyata-nyata dalam
perkataannya. Ya, pemain bernomor tujuh di punggungnya itu sore tadi tampil
cukup gemilang dalam pandangan orang awam seperti kami. Meski begitu, ia pula yang
menangis paling kentara saat kekalahan menghampiri timnya.
Ia bertanya di mana kami duduk
ketika pertandingan dan mengapa tadi tak menghampiri.
Tasi : “Ga
ada bapak tengok dah, ga kalian panggil bapak..” Ia berujar setengah bercanda
diiringi gelak tawa yang tertahan.
Aku : “Yee..
bikin malu aja..” aku menjawab. Ia tertawa renyah.
Aku : “Apa?”
Tasi : “Banyak
yang nangis.”
Aku : “Bapak
nggak nangis?” tanyaku penasaran.
Ia
lantas bercerita tentang bagaimana harus membesarkan hati para pemainnya yang
bersedih bahkan menangis setelah kekalahan tadi. Meski begitu, ia tetap
mengapresiasi pertandingan khususnya para suporter yang bersemangat. Di
akhir turnamen, SMA Negeri 1 Tukka keluar sebagai juara.
Kusimpulkan, ia
tak tenggelam menyalahkan diri jika ditimpa kekalahan. Tidak pula membabi buta
mencari orang yang mesti bertanggung jawab atas
hilangnya kemenangan. Ia menerima saja, dengan lapang dada. Setelah
melakukan yang terbaik selama bertanding, maka hasil akhir bukanlah hal yang mesti
disesali.
Mungkin kejadian ini tak layak
jadi bukti yang terlalu otentik, terlebih karena ia tidak terlibat secara
langsung (sebagai pemain) dalam pertandingan. Namun biarlah ini jadi gambaran
kecil tentang ketenangannya menanggapi kekalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar