Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Sabtu, 26 Maret 2016

Tentang Seorang Sahabat

Aku mengenalmu tak lebih baik dari siapa-siapa. Dulu di bangku sekolah kita hanya diberi satu kesempatan berada di kelas yang sama. Percakapan basa-basi bahkan tak pernah berlangsung di antara jam belajar pun bermain kita. Masing-masing tampaknya tak menarik bagi satu sama lain (haha :p). Hingga lulus kita praktis sebatas mantan teman sekelas.

Sementara kamu melanjutkan pendidikan berjarak sepelemparan batu dari sekolah sebelumnya, aku pergi lumayan jauh (jika harus ditempuh dengan berjalan kaki). Waktu itu ponsel masih barang aneh dan jarang berkeliaran di saku seragam putih abu-abu. Media sosial serupa Facebook malah belum dapat dibayangkan keberadaannya. Kita menjalani hidup yang dalam hal apa pun tak bersinggungan.

Lalu satu hari namamu menyelip di antara tumpukan pesan singkat. Entah siapa persisnya yang memulai sua bermedia itu. Entah dari mana pula kita menemukan bahan untuk dibicarakan. Dimensi ruang seperti mengempis hingga memeras ingatan tentang orang-orang diam yang dulu lihai kita lakonkan. Kita seperti berteman kembali dalam cara yang sama sekali berbeda. Kita membayar temu-temu sekadar di masa lampau, dan merasa lunas hanya lewat panggilan dan ketikan berbayar.

Tahun-tahun berlalu dan bertukar cerita denganmu sudah bukan perkara cara melainkan waktu. Sebab kamu ada di (hampir) semua "kendaraan ngobrol", tinggal menyetel kesempatan dan kita bisa bertanya kabar hingga falsafah diri, problematika bernegara sampai sudah makan apa belum. Dalam berbagai topik kita tak menemui perang pendapat yang berarti, malah sering sepakat. Jarak ribuan kilometer lenyap namun tak berarti banyak. Toh kita lupa bentuk wajah dan warna suara masing-masing.

Kamu teman, ah, sahabat yang baik hingga merusaknya dengan kata-kata yang (jika boleh memilih) sebaiknya jangan saja kamu sampaikan. Kata-kata yang alangkah lebih menggembirakan seandainya kamu sembunyikan sendiri saja. Kamu menghadirkan suasana canggung yang seketika membikin gaduh.

Padahal aku tahu kita tak pernah jatuh cinta. Kamu atau aku tak pernah diberkahi dengan pengalaman itu. Ya, nyatanya kita memang kelewat banyak bercanda. Kita hanya orang-orang diam yang saling menemukan, lalu saling menjenuhkan. Dan malam ini entah atas alasan apa, sial, aku merindukanmu.

Tidak ada komentar: