Bola tangan, sejenis olahraga permainan yang baru kutahu keberadaannya semenjak duduk di bangku SMA. Sejak pertama diperkenalkan hingga hampir lulus, ini jadi salah satu pengisi jam olahraga paling sering. Pemainnya menggunakan tangan, sebagai pengganti kaki kalau di sepak bola. Berlari sambil saling mengoper bola, berusaha melesatkan bola (biasanya voli) ke gawang lawan.
Pagi itu, matahari belum naik cukup tinggi ketika kami berlari kecil menuju Stadion Horas. Waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Seperti biasa, lari selalu jadi pembuka olahraga setelah berdoa dalam barisan rapi. Kami kekurangan pemain, beberapa anak kelas kalau tak salah,tengah mengikuti semacam perlombaan akademik. Ia pun memutuskan ikut bermain, kami ada dalam tim yang sama. Ia berdiri di baris depan bersama beberapa lainnya.
Semangat bermain dalam dirinya mudah sekali menular pada orang lain, tampak jelas sejak menit-menit awal permainan. Ia tak tampak ambisius, lagi pula ini hanya permainan melunasi 90 menit jatah olahraga mingguan. Baru sebentar memegang bola, ia segera mengoper ke rekannya yang lain. Ia bahkan pandai menemukan celah di antara barisan lawan. Untuk sesaat aku ingat bahwa ia seorang atlet sungguhan; menghabiskan hampir seluruh hidupnya bersama olahraga.
Ia mengatur kencang-lambat ritme permainan, namun lantas mempersilakan orang lain bertindak bebas hingga mencetak gol. Ia bersorak paling keras ketika gawang lawan kemasukan bola, tertawa dan memberi semangat ketika giliran kami kemasukan bola. Dari sedikit pemahaman yang kumiliki, ini termasuk ciri para pemimpin.
Hasil akhir pertandingan entah berapa, rasanya kekalahan ada di pihak kami waktu itu. Tapi lucunya, kami bahkan tak merasa perlu mengetahui perbandingan skor untuk menikmati permainan. Ini kali pertama sekaligus terakhir kami bermain dalam tim yang sama.
Mempunyai seorang guru dengan usia dan jiwa muda, meski tak selalu, dapat memudahkan banyak proses belajar. Ia mengajar dengan menempatkan kami sebagai teman-teman baginya. Tak perlu sungkan bahkan untuk saling menertawakan. Meski begitu, rasa hormat padanya muncul secara alami, tak perlu dipaksakan atau dibuat-buat. Setiap guru berhak mengajar dengan cara apa pun, dan seorang murid berkewajiban menghargainya.
Kasti, olahraga lain yang beberapa kali kami mainkan. Kelas biasanya dibagi menjadi dua tim sama banyak. Bergantian diberi kesempatan memukul bola lalu berlari cepat menuju titik-titik yang disepakati sebagai rumah (home), sambil menghindari tembakan lawan tentunya. Mereka yang turut dalam permainan ini cenderungakan berteriak histeris, terutama, para perempuan.
Masih mengambil lokasi di pelabuhan lama, lapangannya cukup luas hingga memungkinkan pemain bergerak leluasa. Ia berperan sebagai wasit, meski hanya duduk di bawah pohon rindang di pinggir lapangan, entah memperhatikan atau tidak. Ia dan beberapa teman yang tak ikut main lantaran sakit, tertawa lepas ketika ada kejadian lucu di lapangan. Sesekali ia berteriak, tak tahu memberi semangat atau meledek.
Jika boleh menilai, olahraga menjadi penyeimbang di antara rutinitas belajar yang terbilang padat di sekolah. Ia pun pernah mengakui ini, sehingga dengan sengaja “mendesain” jam olahraga sedemikian rupa: mendatangi bermacam lokasi demi mendapati suasana baru, padahal di lapangan sekolah banyak jenis olahraga sebenarnya dapat dilakukan.
Dalam suatu perbincangan, ia membahas beberapa olahraga yang pernah kami mainkan, termasuk kasti. Meski tak detail, namun gambaran besar permainan rupanya masih terekam baik dalam ingatannya.
“Seringkali jatuh kau,” ia berujar sambil tertawa kecil. Aku beralasan bahwa pemain yang jatuh bangun karena menikmati permainan itu keren, padahal memang tak pandai menjaga tubuh tetap seimbang. Ia beralih dengan kejadian lain selama pertandingan (yang aku bahkan lupa pernah terjadi). Ia rupanya tidak benar-benar tak acuh ketika pertandingan berlangsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar