“Tinggal ini yang ada..”
Pernah beberapa kali bertamu ke rumahnya di Jalan Huta Batu, Sibolga Julu memberi kesan bahwa ia pribadi yang hangat ketika kedatangan tamu. Waktu pertama menyambangi rumahnya, kami benar-benar buta. Sama sekali tidak tahu ke mana harus mencari alamat, namun segan menanyai langsung yang dicari. Kejadian itu terjadi ketika kami hendak mengantar durian ke rumahnya.
Kami diantar oleh seorang anak lelaki Pak Ringo, −seorang guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Sibolga−, yang memang rumahnya kami jumpai terlebih dahulu. Ternyata jaraknya tak begitu jauh, sekitar sepuluh menit perjalanan lambat.
Kami pun sampai di depan rumah sederhana bercat hijau yang berdiri tepat di pinggir jalan. Teman baru kami begitu yakin itu memang rumah yang tepat. Segera saja, kami mencari-cari wajah familiarnya ke kanan kiri, namun belum kunjung ada tanda-tanda keberadaannya. Hari mulai gelap, semoga kehadiran kami tak menggangu.
Beberapa ibu tengah duduk di teras, asyik mengobrol entah tentang apa. Dari tadi mereka tampak penasaran melihat gerak-gerik kami.
“Pak Presnya ada, Bu?” tanya salah satu dari kami.
“Lagi ke sebelah, dek.” jawab salah satu dari mereka yang kemudian memanggil dengan suara agak keras. “Tase..”
Tak berapa lama orang yang kami tunggu-tunggu pun datang. Ia tersenyum meski tak menyembunyikan rasa heran, barangkali karena kunjungan kami yang tanpa pemberitahuan. Ia lantasmengajak kami ke dalam rumah. Memulai pembicaraan dengan kikuk, ia agak berbeda dibanding sewaktu mengajar. Terasa lebih karib dari biasanya, barangkali menyesuaikan dengan suasana cair saat itu. Meski di jam olahraga pun ia sebenarnya tidak bersikap formal.
Sebentar ia permisi keluar menuju rumah di sebelah kanan. Cat hijau di seluruh rumah menciptakan kesan teduh dan tenteram. Dindingnya terbuat dari papan, sudut-sudutnya kecoklatan barangkali lantaran rembesan hujan. Ia sebelumnya memberi kami kesempatan membongkar bertumpuk-tumpuk album foto miliknya.
Aku selalu suka album foto. Itu seperti menonton video dengan banyak keajaiban di dalamnya. Setiap foto merupakan cuplikan dari rangkaian sejarah hidup, rekaman masa lalu yang kuyakini berperan membentuk diri pemiliknya hari ini. Salah satu foto yang kami perhatikan cukup lama berisi wajahnya yang masih begitu belia. Ia mengenakan baju putih bertuliskan “INDONESIA, Aku Bangga Padamu”. Ini rupanya salah satu foto sewaktu ia membela tim nasional. Matanya sayu, seperti tak tidur beberapa hari. Kacamata hitam tertempel di kerah kaosnya.
Foto-foto lain pun bergantian menggelitik kami. Ia punya banyak teman, entah karena malu difoto sendiri atau memang aktif dalam perkumpulan tertentu. Dan potongan rambutnya selalu jadi bahan tertawaan kecil, “belteng” alias belah tengah rupanya bertahan sejak lama melintasi zaman.
Ia kembali dan menawari kami minuman botol beraneka warna di tangannya.
“Ini yang ada..” tuturnya menyodorkan.
Kami balas berterima kasih lantas menerima pemberiannya. Mencicipi sedikit, dan kembali sibuk membuka lembar demi lembar album. Ia turut memperhatikan foto demi foto, tersenyum, tertawa,dan menceritakan beberapa kejadian lucu.
Setelah diberi buah durian, ia lalu menggeser buah berduri tersebut ke pojok rumah. Senyum terbaca dari wajahnya yang mulai bergaris di kedua sudut mata. Kami tersenyum puas. Aku tak ingat persis mengapa kami memutuskan membawa durian-durian itu ke rumahnya.
Tak berapa lama sesudahnya, kami permisi minta undur diri. Waktu itu malam Minggu, selain tak mau menyita waktunya terlalu lama kami juga ada keperluan lain. Kurang beberapa menit dari pukul 19.00 WIB. Di teras rumah masih ada beberapa ibu yang sedari tadi tenggelam dalam perbincangan seru. Salah satu dari mereka tak lain adalah ibu pak guru. Kami bergantian menyalam lalu berjejer melangkah pergi.
Sekitar pukul 21.00 WIB, aku menerima satu pesan masuk. Tertera nama Pak Pres di sana. Ia mengaku senang dan (kembali) berterima kasih atas pemberian tadi. Ia pun meminta supaya kesehatannya kami doakan.
“Olooo katua..”[1] balasku mengiyakan sekaligus mengakhiri pembicaraan. Ia akan makan duriannya besok pagi, bersama ketan.
Beberapa teman yang sebelum dan setelahnya berkesempatan bertamu ke rumahnya juga memberi komentar serupa. Ia tuan rumah yang menyenangkan. Bukan hanya karena mereka pun ditawari minum, atau dipersilakan pula membuka koleksi fotonya. Namun karena diperlakukan bersahabat selama jadi tamu. Tidak ada kesan kaku meski notabene ia guru dan tamunya siswa.
Kedua kali kami berkunjung ke rumahnya adalah di suatu sore yang agak mendung, hampir malam. Mumpung masih awal tahun, maka kami berangkat dengan modus “bertahun baru” ke rumah pak guru. Kali ini masih juga tanpa pemberitahuan. Kami berlima, masih mengenakan seragam pramuka sepulang pelajaran tambahan di sekolah, dan kali ini datang dengan tangan kosong.
Ia mengaku baru saja selesai berolahraga, mengenakan kaos merah. Untunglah kami datang tepat waktu hingga tak perlu menunggu lama. Karena tak seheran kunjugan sebelumnya, ia menerima kami tanpa banyak tanya. Malam sebelumnya, kami ngobrol lewat telepon tentang rencana perpisahan kelas. Salah satu wacana yang muncul adalah pembuatan jaket bersama. Nah, ia bersedia mengenalkan kami pada temannya yang juga distributor jaket. Menurut pengakuannya, harga yang rekannya tawarkan bisa beberapa persen lebih murah.
Tentu ini tawaran yang tak kami sia-siakan. Jadi, maksud kedatangan kami sebenarnya adalah untuk memastikan kerja sama dengan kenalannya yang ia panggil Franky itu. Pembicaraan tentang jaket hanya berlangsung sebentar, ia lalu meminta kami menyiapkan desain. Kami menyanggupi dan akan berjanji mengirim beberapa hari kemudian.
Ia menyuguhi kami minuman berkaleng biru dengan gambar burung walet di sekelilingnya. Tak ketinggalan turut dihidangkan beberapa bungkus kue kering.
“Tinggal ini yang ada..” ucapnya seakan menyalahkan tahun baruan kami di tanggal setua itu.
Dengan cepat kami menolak dianggap tak menghargai suguhan tuan rumah. Kami berterima kasih untuk sisa-sisa perayaan tahun 2011 yang kami terima.
Setelah merasa cukup dengan informasi yang kami perlukan, kami meminta izin pulang. Ia menawarkan kami membawa pulang makanan, minuman, dan apa saja yang kami temukan dalam kulkas. Tak menyiakan kesempatan, kami pun antusias memindahkan beberapa benda ke dalam tas.
“Taunya bapak kayak mana anak kos..” ucapannya membuat kami tertawa terbahak meski kemudian merasa segan juga lalu beranjak pulang.
[1]Siap ketua..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar