Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Rabu, 09 Maret 2016

Sepak Bola, Semangat Tiada Henti

“Deal?”


“Argentina, Barcelona, Leonel Messi,” demikianlah agaknya bagaimana kegemaran Tasi soal sepak bola dapat digambarkan. Tak tahu mana di antara ketiga objek tersebut yang lebih dulu membuatnya jatuh hati. Sebelumnya, ia mengidolakan Maradona, pencetak gol tangan Tuhan. Ia sering membawa majalah olahraga ke sekolah, meski tak pernah terlihat membacanya. 

2010. Pesta sepak bola dunia empat tahunan kali ini diselenggarakan di Afrika Selatan. Seluruh dunia, termasuk Indonesia seperti tersihir untuk menaruh perhatian atau sekedar melirik ke benua hitam itu. Meski Timnas negeri sendiri kalah sejak babak penyisihan, antusias masyarakat tetap saja tinggi. 

Bersama Batak Sport
Kami tengah beristirahat di barisan bangku bertingkat tangga seratus, baru saja selesai naik-turun entah berapa kali. Seperti biasa, tangga seratus (meski anak tangganya lebih dari seratus), jadi langganan menghabiskan satu setengah jam olahraga. Pepohonan rindang di sekitar mengimbangi lalu lalang kendaraan di seberang jalan. 

“Vitaloka, dukung apalah kau buat Piala Dunia?” tanyanya. 

“Brasil lah Pak..” jawabku sambil tersenyum yakin. 

“Bapak?” 



“Argen..” ia balas tersenyum, tak kalah percaya diri dengan tim yang ia dukung. “Taruhanlah kita?” ia menawarkan. 

Aku mengganguk tanda sepakat, padahal belum tahu aturan main pertaruhan ini: nilai olahragaku 90 jika Brasil keluar sebagai juara, dan 70 jika Argentina yang menang. Aneh juga membayangkan bagaimana pertandingan bola di belahan dunia sana, bisa berpengaruh terhadap rapor seseorang di seberang sini. 

“Deal?” 

“Deal!” kami bersalaman tanda sepakat. 

Lalu ia mulai bercerita tentang betapa besar kemungkinan kekalahanku dalam taruhan. Argentina diperkuat Messi, yang notabene pemain favoritnya. Kaka pun kusodorkan sebagai andalan Brasil. Beberapa teman lain bergabung dalam percakapan. Kami beradu pendapat, masing-masing berargumen layaknya pengamat sepak bola. Lantaran kemudian jadi tak begitu yakin tim Samba akan menang, aku anggap ini sebagai permainan saja. 

Seingatku, sepak bola hanya sekali saja kami pelajari. Itu pun di awal kelas sepuluh kemarin. Mungkin karena olahraga ini terbilang kurang populer di kalangan para siswi, sehingga tentu menurunkan animo berolahraga. :D 

Kelas bubar dan kembali ke sekolah sesaat setelah kami mengakhiri jam olahraga dengan berdoa. Aku dan beberapa teman berjalan paling belakang. Ia berseru. 

“Argen!” pekiknya sambil mengepalkan tangan kanan ke udara, ia menyunggingkan senyum. 

“Brasil!” jawabku juga dengan tangan terkepal menirunya. Ia berbalik, lalu beranjak pergi ke ruang guru. 

Babak demi babak pun bergulir. Beberapa insiden pertandingan sempat kami perbincangkan, sebagaimana komentator sepak bola yang hanya bisa berkoar di luar lapangan. Ia sering nonton bareng di luar rumah bersama teman-temannya, dan meledek waktu tahu bahwa di kampungku, orang-orang harus menggeser arah parabola sebelum bisa menonton. 

Namun pada akhirnya, Argentina maupun Brasil bahkan tak mampu mencapai babak final. 

“Samalah nasib kita ya..” 

Ia mengirimiku pesan singkat berbunyi demikian sesaat setelah Brasil mengikuti jejak Argentina, yang sebelumnya kalah empat gol tanpa balas kontra Jerman. Aku tertawa membacanya. Taruhan kami berakhir dengan sendirinya. 

Spanyol jadi kampiun setelah kalahkan Belanda di partai final. Sebelum pertandingan pamuncak itu, kutanya siapa yang ia prediksi bakal jadi juara dunia. Ia pilih Belanda. Sayang, Andres Iniesta membobol gawang Belanda di menit perpanjangan waktu babak kedua. 

Empat tahun kemudian, ketika kick-off Piala Dunia menggema dari negeri Samba, Brasil, tak ada lagi taruhan di antara kami. Tak ada lagi menang kalah atau kartu merah yang penting untuk diperdebatkan. Meski demikian, aku yakin ia tetap jadi pendukung setia bagi Argentina. 

Suatu hari sewaktu istirahat di ujung jam olahraga yang kami habiskan di Stadion Horas, ia mengambil bola voli dan memainkannya. Dengan lincah ia menggerakkan kaki, kepala, dan badan demi menahan bola dari menyentuh tanah. Itu kali pertama aku menyaksikan adegan demikian, seperti menonton aksi para pesepak bola dengan bayaran mahal di layar kaca. 

Menonton bersama banyak orang ternyata tak membuat Tasi bisa menahan kantuk berlama-lama, terlebih hingga subuh. meski ia sangat bersemangat ketika pertandingan baru mulai, tak berapa lama akan tertidur pulas untuk kemudian bangun lama setelah pertandingan berakhir. Ia lantas sibuk menanyakan skor akhir. Kebiasaan ini bahkan berlaku jika Barcelona, tim favoritnya sedang main. 

“Nonton bola paling heboh, tapi ujung-ujungnya ngorok duluan,” begitu Charles mengenang kekonyolan sahabatnya seraya menahan tawa.

Tidak ada komentar: