“Biarkan aku berteriak, menentang kerasnya dunia.
Izinkan aku tuk melejit, melawan getirnya dunia.”
Samsons, Revolusi
Ia dilahirkan dengan bakat olahraga dalam DNA-nya. Sejak kecil sudah sangat akrab dengan beragam permainan olah fisik. Waktu terus bergulir dan ia beranjak dewasa. Makin banyak pertandingan ia ikuti, makin luas pula kesempatan ia menyulam prestasi di kancah olahraga. Seorang sahabatnya berujar begini, “Dia bisa main semua jenis olahraga,” ketika kutanyakan apa olahraga yang paling baik Tasi lakonkan. Mengapa ia tak jadi atlet profesional saja? Apa karena di negeri ini atlet tak dijamin kesejahteraannya?
Ketika masih kuliah, ia pernah mendaftar jadi pemain tim nasional sepak bola Indonesia. Setelah mengikuti berbagai tahap seleksi, ia lantas dinyatakan tak lolos. Medan barangkali bukan jalan menuju stadion Gelora Bung Karno. Menyusul kemudian, kesempatan lain pun datang. Kali ini dari cabang hoki, juga untuk direrut jadi tim nasional. Olahraga permainan dari luar negeri yang mengarak lingkaran kecil memasuki gawang lawan. Di Indonesia, pemainnya memakai sepatu roda serta menenteng stik pengoper saat bertanding.
Memutuskan ikut seleksi, namanya tertera di lembar pengumuman final. Ia resmi jadi wakil Indonesia dalam ASEAN Games ke-XXI di Malaysia. Masa persiapan pun bergulir teratur hingga mendekati hari-H. Sewaktu latihan di Lampung, ia menghubungi abangnya Henry (yang sejak lama merantau ke sana) untuk sekedar bertemu pada hari Minggu. Maklum saja, ia hanya diperbolehkan keluar tempat latihan di hari itu.
Pesta olahraga negara-negara se-Asia Tenggara itu dipusatkan di Kuala Lumpur, Malaysia, dari tanggal 8 hingga 17 September 2001. Pembukaannya di Stadion Nasional Bukit Jalil dengan tujuh negara sebagai peserta. Total ada 32 cabang olahraga yang dipertandingkan, termasuk hoki. Tak sia-sia bekerja keras, mereka pulang membawa medali perak sebagai buah tangan ke Indonesia. Membanggakan. Namun siapa sangka, ini menjadi pertandingan terakhir tim nasional Hoki Indonesia di kancah tersebut hingga sekarang (2013).
Medali berwarna abu-abu itu masih terpajang di lemari rumahnya. Bahkan boneka kecil berwujud harimau yang menjadi ikon perhelatan dua tahunan tersebut berdiri dengan senyum mengembang. Saat berkunjung, ia memberi cerita singkat tentang medali itu. Melihat ke sisi lain, berbagai piala, sertifikat, dan medali, berjejer rapi walau tak lagi berkilat bahkan berdebu, masing-masing menyimpan pengalaman tersendiri. Tentang pencapaian yang dibayar dengan waktu dan kerja keras.
Bakat yang diasah, memang tiket yangbisa menjembatani seseorang menuju banyak pengalaman mengesankan. Bakat berbeda dalam diri individu, termasuk merekayang lahir sebagai saudara kembar, (mungkin) adalah cara Tuhan membuat setiap ciptaanNya istimewa.
Tak dapat dipungkiri, ada rasa bangga ketika tahu bahwa kita diajar oleh seorang sarat pengalaman. Orang yang mengajar tak hanya berbekal teori baku semasa di perguruan tinggi, namun pelajaran yang ia dapatkan sendiri melalui perjalanan hidup. Untuk sampai di kelas kami, ia telah melewati banyak momen di luar sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar