Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Jumat, 17 Juni 2016

Bandung dalam Perjalanan


Perjalanan ke Bandung masih menagih janji, minta dipersilakan naik panggung sekali lagi. Mengingat ada beberapa foto yang sempat kupotret, biarlah kubolehkan ia mengada lewat media ini. Sebagaimana kiriman terdahulu, tujuan kami ke kotanya Kang Emil memang untuk menyelesaikan skripsi. Berhubung banyak waktu sebelum kereta kepulangan, kaki kami ajak menapaki beberapa lokasi. 

Set rumah Kang Mus di Jalan Kangkung, Bandung..
Pertama, rumah Kang Mus dalam Preman Pensiun. Di sana sambutan hangat datang dari tuan rumah, yang ternyata sudah hampir "bosan" menerima penggemar serial itu dari berbagai daerah pun luar negeri. Kata beliau, kondisinya masih sama seperti waktu shooting. Bagian dalam pun tak banyak diubah, sekadar menggeser foto sang pemilik rumah.

Lingkungan sekitar rumah juga digunakan untuk set lain, seperti tempat persembunyian para preman.


Mamang penjual kupat tahu.
Di persimpangan, perut lapar dan gerobak kupat tahu dipertemukan oleh takdir. Mamangnya ramah dan mengaku puluhan tahun sudah jualan di Bandung. Untuk pengalaman perdana menikmati jajanan dengan lumuran kacang ini, skornya cukup baik. Rasanya enak! 

NB: Bahan kupat tahu (ketupat, tahu putih, tauge, kecap manis, bawang goreng, dan kerupuk).


Karena sejak awal memang tak merencanakan jadwal perjalanan, jadilah kami ke sana ke mari berbekal insting dan politik tanya-tanya. Urang Bandung ramah, tak perlu segan meminta saran dan arah. Akhirnya kami putuskan naik angkot menuju Masjid Agung nan tersohor. Oh iya, hari itu para tukang angkot (entah berapa rute), demo massal tidak narik karena tak setuju anak sekolahan pulang naik bus umum. Eh? Rejekinya takut diserobot.. Akibatnya banyak penumpang diliputi awan kebingungan yang gelap.

Bandung!
Masjid Agung dan rumput tetangga.
Jalan Asia-Afrika, lokasi KAA.


Tiba di terminal Kalapa, kami lanjut dengan berjalan kaki usai berhitung dengan jarak masjid. Jalanan ramai dengan toko-toko pakaian dan aneka produk kreatif, tak mau kalah, orang-orang lalu lalang menambah padat.

Di teras masjid, banyak ibu yang berjualan kresek, buat tempat sandal/sepatu biar tidak kemalingan. Kami istirahat (tidur) cukup lama di dalam karena sejuk dibanding udara luar, untuk kemudian mendapati hamparan rumput buatan lengkap dengan bunga-bunga di sekeliling. Dilarang keras pakai alas kaki! Bersiaga petugas keamanan di sekitar area, waspadalah.

Meski harapan Kang Emil sidak ke sana tiada terwujud, untung ketemu fotonya. Haha. Menjelang sore hujan turun agak lebat, hingga pengunjung berlarian mencari perteduhan.

Susuran kami selanjutnya adalah jalan terpanjang sedunia, Asia-Afrika. Pernah menyaksikan rekaman prosesi Konferensi yang dihelat di sana, menciptakan suasana meriah waktu melewati jalanan dengan banyak foto Soekarno itu. Baru ingat ternyata pas tanggal 1 Juni, hari lahir Pancasila lewat pidato sang presiden pertama.

Pidi Baiq menyoal Bandung.
Ah, Pidi Baiq malah mengambil lokasi strategis menyampaikan kecintaannya pada kota. Persis di pinggir jalan, tertulis, "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi." Dan semua orang dapat tiba di tingkat yang sama jika tertanam teguh di tanah suatu wilayah, entah kampung, kota, negeri, dunia.

Merah-Putih berjejer rayakan harlah Pancasila.
Peringatan kelahiran Pancasila meriah sekali, paling tidak karena di sepanjang jalan ada merah-putih, pula aneka rupa Soekarno. Tapi entah mengapa ada sendu yang mendalam, sadar bahwa semua euforia itu cuma topeng belaka. Kita bangsa yang sudah lama menanggalkan kebesaran hati, cuma untuk bertelanjang biar dicintai dunia.

Kami memasuki museum KAA, dan hanya menemukan bermacam kenangan bahkan reproduksi ingatan di dalamnya. Ada sekumpulan manusia dari negeri-negeri jauh dan tak terjangkau, pernah benar-benar berkonferensi di sini di suatu waktu. Tentu demikian penting apa yang mereka perbincangkan, lantaran penghormatan atas peristiwa itu masih begitu dimaklumi hari ini.

Ruang Konferensi yang megah dan historis.
Pengunjung paling banyak adalah anak-anak sekolah. Ada yang melintas perlahan sambil  melihat sekenanya, ada yang kelewat asyik memotret hingga lupa mengisi kepalanya, pura-pura ingin tahu, tak ketinggalan ada pula yang serius sekali berupaya menebas benang-benang masa demi bertemu para peserta pertemuan, dan tentu, ada yang hanya tertarik memperhatikan tingkah pola orang-orang, aku.



Meski Bandung bukan kota paling menawan hati sepanjang perjalanan batin, bukan pula kota yang mendatangkan rindu bertubi setelah meninggalkannya, namun Bandung adalah persinggahan yang baik bagi jiwa-jiwa yang mendambakan keabadian dibanding apa pun juga. Kota ini tidak bisa membungkam diri lama-lama, sehingga orang yang datang harus lekas-lekas merencanakan kepulangan.

Berbincang Agak Serius dengan Kang Aris Nugraha

Aris Nugraha. Penulis naskah sekaligus sutradara yang bersahaja. Pertemuan dengannya lantaran seorang kawan mengambil Preman Pensiun 2, sebagai objek penelitian tugas akhir. Berawal dari pesan singkat berisi undangan mendadaknya, kami pun meluncur ke Bandung dengan kereta. Pagi-pagi buta tiba di Kiara Condong, melepas penat sejenak (termasuk diusir petugas lantaran kelamaan), untuk kemudian menggenapi mimpi menyambangi kota kembang.

Bandung tak kalah sibuk dengan kota-kota lain. Pasar dan lalu lintasnya paling menggambarkan keadaan ini. Namun berkat kelihaian berkendara mamang ojek, kami sebentar saja berkutat dengan keriuhan, karena kini kami telah duduk manis menanti di tempat yang ia sendiri minta. Ah iya, sepanjang jalan tadi banyak bangunan tua di kanan kiri, dari arsitekturnya tentu peninggalan Belanda. Mereka indah-indah, masih dirawat dengan sangat baik.

Pukul 08.00, ia tiba dengan motor, mengenakan pakaian serba hitam. Meski canggung, sua pertama kami terbilang bersahabat. Tak lama, kami pun melangsungkan wawancara seputar sinetron besutannya dan (tentu) hubungannya dengan tugas akhir si kawan. Ia mengaku tak menyangka karyanya dapat dianalisis sedemikian rupa.

Segera saja, kami lempar pertanyaan pembuka, ingin tahu pendapatnya tentang preman, "Preman itu tentang orang-orang yang bebas, yang punya aturan, dan tujuan sendiri," tuturnya.

Ia dulunya bekerja sebagai loper koran, dan banyak terinspirasi oleh kisah-kisah orang biasa yang hidupnya memberi manfaat bagi orang lain. Ia juga menyukai Horizon, majalah sastra yang membawanya mulai menulis. Sejak sekolah dasar mengaku suka menulis cerita, dan berbeda dari siswa lain, yang berjamaah dengan "pada suatu hari.."

Juni 1999, ia bergabung dengan tim produksi film sebagai clapper. Sang produser menawarinya belajar menulis dan diizinkan membaca banyak buku miliknya. Setelah dua tahun, lahirlah Bajaj Bajuri, naskah sinetron "serius" pertamanya. Tahun 2000, barulah naskah tersebut diproduksi, namun karena keterbatasan dana, ia berani menyutradarai sendiri berbekal pengalaman.

"Baik original maupun bajakan, semua saya telen.." tuturnya mengenang perjalanan menonton sekaligus caranya belajar memahami film. Ia memilih diet jajan dan jalan-jalan demi memenuhi hasrat "menelan" film. Usai banyak dijejali film, berbagai karya kemudian lahir dari pria yang berdomisili di Jakarta itu.

Kang Aris
Lantas bagaimana proses kreatif menciptakan cerita itu muncul? "Jika saya ingin bercerita, teorinya adalah, saya membuka jendela rumah saya, dan saya melihat tetangga saya." Apa yang ia lihat, diceritakan, lalu diimajinasikan apa yang terjadi sebelum dan setelahnya. "Cerita bagi saya bisa selesai begitu saja, karena waktunya sudah harus selesai."

"Skenario bukan ilmu pasti, bukan rumus matematika. Kita bisa punya teknik sendiri, tapi nggak asal-asalan juga. Kita harus perhitungkan ini nggak bikin pusing penonton." Tuturnya merangkum cara penulisan naskah berdasar pengalamannya.

Ia menyarankan, penulis skenario sebaiknya menulis materi yang benar-benar ia kuasai, bukan setengah-setengah bahkan pura-pura tahu. Selain itu, keberanian mencoba juga harus diterapkan dalam pembuatan karya kreatif semacam film. Ia mencontohkan dengan musik khas Sunda yang dimainkan di Preman Pensiun, yang ternyata disukai orang dari berbagai latar belakang.

Menyoal kepergian artis senior Didi Petet di tengah produksi sinetron, Aris menerangkan, "Meninggalnya Didi Petet (Kang Bahar) bukan merupakan bencana bagi saya, justru itu seperti membenarkan cerita yang saya buat. Satu hari sebelum meninggal dia ketemu saya, dan kita ngobrolin hal yang nggak penting. Saya kan lumayan deket sama dia. Kehilangan seorang teman, partner dalam kreativitas, itu saja."

"Dan itu episode yang paling banjir air mata. Itu kita seminggu Didi Petet meninggal, orang masuk lokasi itu nangis, siapa pun. Baru ngelangkah masuk set, belum syuting. Magis, itu luar biasa."

Di akhir perbincangan, ia berpesan tentang pentingnya dokumentasi gagasan-gagasan yang dianggap bagus dalam industri pertelevisian. Perlu ada kreatifitas cara bercerita, meski sederhana, dapat menarik asal dikemas dengan cerdas. Penelitian digunakan untuk perkembangan film sendiri, supaya kita tidak hidup dalam komplain semata, namun dapat membuka pikiran peneliti di masa depan."

Kamis, 26 Mei 2016

Malam Ini Aku Marah

Kita harus selalu marah. Marah pada keadaan sekarang, marah pada diri yang sekarang. 
Lihat betapa kemarahan adalah kekuatan maha dahsyat! 

Bagaimana Soekarno marah mendapati bangsanya terbelenggu, lalu dengan segenap tenaga, mengangkat "senjata" demi merdeka. Bagaimana Mandela marah pada ketidakadilan, untuk kemudian bangkit merakit Afrika baru. Kemarahan selalu adalah pintu terbuka lebar menuju perubahan revolusioner.

Lalu malam ini, seorang teman membangunkan marah-semarah-marahnya dalam aku. Ah, sialan! Lama sekali aku tidak marah, sudah kelewat jauh menepi ke dunia tenteram. Nyaman menerima status apa adanya. Hingga cara menangani marah, menukarnya jadi kepulan asap pendorong tindakan, terlupakan sungguh-sungguh. Aku marah berdiri sejajar dengan rasa marah yang kehilangan taringnya.

Alamak, ke mana mesti kucari diri, yang menerima marah sebagai ucapan selamat pagi yang bersahabat? Izinkan kuteguk marah sekali lagi, biar hidup tahu betapa marah aku pada marah yang tak kunjung setia.

Minggu, 22 Mei 2016

Kewajiban Televisi Menyiarkan Lagu Indonesia Raya

Seumur-umur, saya belum pernah menyaksikan Indonesia Raya disiarkan di televisi, tentu selain dalam perayaan Hari Kemerdekaan dan berita kemenangan atlet dalam turnamen tertentu. Karenanya, sontak saya terkejut ketika membaca peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang berbunyi: Lembaga penyiaran yang bersiaran 24 jam wajib menyiarkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pada pukul 06.00 waktu setempat, dan penyiarkan lagu wajib nasional pada pukul 24.00 waktu setempat. (Pasal 38 ay 2, Pedoman Perilaku Penyiaran 2012).

Enggan terburu-buru memberi cap pembangkang bagi stasiun televisi, saya pun melakukan penelitian kecil-kecilan. Dimulai dengan penemuan delapan surat peringatan KPI tertanggal 10 September 2015, masing-masing kepada ANTV, GlobalTv, Indosiar, Inews Tv, Kompas Tv, Metro Tv, SCTV, dan Trans Tv. Kedelapannya, tertera dalam surat tersebut, tidak melaksanakan kewajiban menyiarkan Lagu Kebangsaan dan Lagu Wajib Nasional sesuai ketentuan pada Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) KPI Tahun 2012 Pasal 38, dan Standar Program Siaran (SPS) KPI Tahun 2012 Pasal 54. Tepatnya, kedelapan lembaga penyiaran tersebut hanya menyiarkan Lagu Kebangsaan dan tidak menyiarkan Lagu Wajib Nasional. 

Rincian penyiaran Lagu Kebangsaan Indonesia Raya berdasarkan pantauan KPI pada 1-5 September 2015, adalah sebagai berikut: ANTV pada 03.30 wib, GlobalTv pada 04.00 wib, Indosiar pada 05.00 wib, INews Tv pada 04.00 wib, Kompas Tv pada 04.30 wib, Metro Tv pada 06.00 wib, SCTV pukul 04:00 wib, dan Trans Tv pada 03.46 wib. Berdasarkan P3SPS, hanya Metro Tv yang mematuhi jam penyiaran Lagu Kebangsaan, yakni pukul 06.00 waktu setempat. Sementara terhadap kewajiban menyiarkan Lagu Wajib Nasional, serentak semua stasiun televisi membandel.

Rupanya, pada 21 Agustus 2015, KPI Pusat melalui surat edaran Nomor 810/K/KPI/08/15 telah mengingatkan seluruh lembaga penyiaran untuk melaksanakan kewajiban penyiaran Lagu Kebangsaan dan Lagu Wajib Nasional. Sanksi administratif bahkan diancamkan bagi lembaga penyiaran jika tidak patuh, berupa Teguran Tertulis sesuai ketentuan Pasal 79 ay (1) SPS 2012. 


Disiarkan Pukul 24.00, Ditujukan untuk Siapa? 
Lagu Wajib Nasional diharuskan untuk ditayangkan oleh lembaga penyiaran berdurasi siaran 24 jam, pada pukul 24.00 waktu setempat. Di jam selarut itu, siapakah gerangan yang masih bertahan menonton televisi? Anak-anak dan para remaja biasanya sudah disuruh tidur oleh orang tuanya, sehingga orang-orang dewasalah yang (secara logis) masih menonton televisi. Kesimpulan sederhananya, Lagu Wajib Nasional memang ditujukan untuk orang-orang dewasa (dengan ingatan pada Pasal 38 ay (2) SPS: Program siaran klasifikasi D (dewasa) hanya boleh disiarkan antara pukul 22.00-03.00 waktu setempat). 

Padahal jelas-jelas, KPI meyakini penyiaran lagu tersebut merupakan perwujudan fungsi lembaga penyiaran sebagai perekat sosial, pemersatu bangsa dan memperkukuh integrasi nasional. Harapan yang demikian indah, namun agaknya perlu ditafsirkan ulang. Kata-kata dalam fungsi tersebut: sosial, bangsa, dan nasional, melibatkan semua lapisan masyarakat Indonesia, bukan hanya orang dewasa, melainkan segenap warga negara. Sehingga seharusnyalah Lagu Wajib Nasional diberi waktu tayang lebih baik, prime time misalnya? 


Mengamati Lembaga Penyiaran Hari Ini 
Awal tahun 2016, bagaimana wajah aturan penyiaran kedua lagu tersebut? Untuk mengetahuinya, tentu tak ada cara selain menonton televisi. Berikut hasil pengamatan pada 3 Januari 2016: 
1) ANTV, tidak menyiarkan Lagu Kebangsaan pun lagu wajib nasional. 
2) Global Tv, hanya menyiarkan Lagu Kebangsaan pada pukul 04.00 wib. 
3) Indosiar, hanya menyiarkan lagu wajib nasional (Bagimu Negeri) pada 00.05 wib. 
4) INEWS tidak menyiarkan Lagu Kebangsaan pada pukul 24.00 wib. 
5) Kompas Tv, hanya menyiarkan Lagu Kebangsaan pada 04.30 wib. 
6) Metro Tv, hanya menyiarkan Lagu Kebangsaan pada 06.00 wib. 
7) SCTV hanya menyiarkan lagu wajib nasional (Bagimu Negeri) pada 00.04 wib. 
8) TransTv hanya menyiarkan lagu wajib nasional (Tanah Airku) pada 02.40 wib. 
(mohon maaf jika terdapat kekeliruan dalam hasil pengamatan di atas).

Bagaimana dengan TVRI? Lembaga penyiaran berlabel publik ini ternyata jauh lebih mengecewakan. Tidak satu pun dari kewajiban menyiarkan kedua lagu tersebut dipatuhi; pukul 24.00 wib ditayangkan program Poin, dan pukul 06.00 wib langsung diisi dengan Indonesia Pagi. Lembaga penyiaran lain seperti MNCTv, RCTI, dan TV One, masing-masing juga mengabaikan aturan tersebut, sementara Net hanya menyiarkan Lagu Kebangsaan pada 06.00 wib. 

Barangkali, Bapak Presiden memang harus menegur kembali semua lembaga penyiaran seperti 21 Agustus 2015 silam (Kompas: Jokowi Minta Ada Lagu Indonesia Raya dalam Tayangan Televisi), bahkan kalau perlu, sekalian saja dengan KPI. Keduanya toh sama-sama tidak serius mengurus penyiaran Lagu Kebangsaan dan lagu wajib nasional. Tetapi kalau kewajiban tersebut dirasa kelewat memberatkan, ada baiknya segera dibentuk panitia penghapusan pasal terkait, ya kan?

Kau Datang dan Pergi Sesuka Hatimu

Ah, rupanya banyak sekali jenis manusia di bumi yang katanya tak selebar daun kelor, tapi nyatanya maha-sempit ini. Hidup lama-lama kok terasa tak lebih dari sekadar pawai. Ramai dan menggembirakan, lalu hilang lenyap terhisap ke lubang hitam semesta. Lucunya, sebentar saja waktu untuk kedua kejahatan sempurna itu. Menyisakan pertanyaan yang bukan hanya menuntut dijawab, juga membikin sadar. Bahwa yang pergi, hanya pergi karena memilih atau dipilih pergi.

Berani menghitung berapa banyak kehilangan yang kamu sudah alami, sepanjang umur yang belum tahu kapan berujung ini? Cobalah mulai dari waktu, uang, teman, orang-orang yang (kok) ditakdirkan cuma ketemu sekali sama kita, anggota keluarga, barang-barang atau manusia kesayangan, apa saja yang pernah menyentuh rasa memiliki kita. Mereka kenapa pergi sesuka hati? Baru saja berbincang sepanjang malam, eh pagi-pagi sudah raib.

Tolong jangan masukkan Tuhan sebagai variabel, sebab kalau sudah ada "itu kan rencana Tuhan", "itu kan kehendak Tuhan", bisa repot diskusi ini, yakinlah. Anyway, aku lebih suka berbaring di kesimpulan begini, "Mereka pergi ya karena memang mau pergi, atau, bisa jadi ada oknum yang mau mereka pergi". Apa  pun alasan di balik pergi, semoga temu dan kenangan cukup tangguh membebat luka. 

Satu perbandingan muncul di kepalaku sekarang, hidup tak ubahnya jalan raya. Sekali waktu kita bertemu pengendara lain, beriringan hingga tiga atau lima lampu merah, hanya untuk di persimpangan entah keberapa, kembali berpencar arah. Sesekali kita diizinkan berpapasan atau bersinggungan, tapi siapa pun tahu, kita tak pernah benar-benar berada di jalur yang sama.

Sabtu, 14 Mei 2016

Rainbow Connection


I love this song since the very first time.. Awalnya tentu karena nada yang lekas klik di telinga, lantas berkat ilmu terjemahan ala kadarnya, menjumpai barisan aksara indah di sekujur lagu ini, Rainbow Connection. Here it is!

Why are there so many songs about rainbows
mengapa ada begitu banyak lagu tentang pelangi
And what's on the other side
juga apa di lain sisinya
Rainbows are visions
pelangi adalah penglihatan
But only illusions
namun sayang hanya ilusi
And rainbows have nothing to hide
pun pelangi tak sembunyikan apa-apa

So we've been told
kita pernah diberi tahu sesuatu
And some choose to believe it
beberapa orang mempercayainya
I know they're wrong, wait and see
aku tahu mereka keliru, tunggu dan lihatlah
Some day we'll find it
suatu hari kita akan temukan
The rainbow connection
keterhubungan pelangi
The lovers, the dreamers, and me
para pecinta, pemimpi, dan aku

Who said that every wish
siapa bilang semua harapan
Would be heard and answered
akan didengar dan dijawab
When wished on the morning star
ketika dipinta saat bintang fajar
Somebody thought of that
seseorang berpikiran begitu
And someone believed it
dan yang lain mempercayainya
And look what it's done so far
tapi lihatlah akibatnya hingga kini

What's so amazing
apa yang begitu menakjubkan
That keeps us stargazing
hingga kita terus saja melamun
And what do we think we might see
dan apa yang kita kira kita lihat
Someday we'll find it
suatu hari kita akan temukan
The rainbow connection
keterhubungan pelangi
The lovers, the dreamers, and me
para pecinta, pemimpi, dan aku

All of us under its spell, we know that it's probably magic
kita kena mantra, kita tahu itulah sihir

Have you been half asleep?
pernahkah kau setengah tertidur
And have you heard voices?
dan mendengar suara memanggil
I've heard them calling my name
aku mendengar mereka memanggil namaku
Is this the sweet sound
inikah suara yang indah
That called the young sailors?
yang memanggil para pelaut muda?
The voice might be one in the same
itu mungkin suara yang sama

I've heard it too many times to ignore it
aku mendengarnya kelewat sering hingga abai
It's something that I'm supposed to be
itulah aku yang seharusnya
Someday we'll find it
suatu hari kita akan temukan
The rainbow connection
keterhubungan pelangi
The lovers, the dreamers, and me
para pecinta, pemimpi, dan aku

La da da di da da dum da duh da da dum di da ohhh

Songwriters: Kenny Ascher & Paul Williams


Pelangi (n), satu dari sekian banyak fenomena alam raya yang ramai dibicarakan. Aku tak pernah menunggunya, namun selalu berutang kagum setiap kali ia muncul, dalam sampul sayonara bagi hujan rintik. Pelangi adalah juru bius mereka yang beruntung jadi saksi. Dan mendengar saja keindahan pelangi, alangkah jauh dari keindahan itu sendiri. So, go and see, don't let the rainbow wait!

Kamis, 05 Mei 2016

Membaca Rumah Kita

RUMAH KITA 
God Bless 

Hanya bilik bambu tempat tinggal kita 
Tanpa hiasan tanpa lukisan 
Beratap jerami beralaskan tanah 
Namun semua ini punya kita 
Memang semua ini milik kita sendiri 

Hanya alang-alang pagar rumah kita 
Tanpa anyelir tanpa melati 
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman 
Namun semua itu punya kita 
Memang semua itu milik kita 

Haruskah kita beranjak ke kota 
Yang penuh dengan tanya 

Ref 
Lebih baik di sini rumah kita sendiri 
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa 
Semuanya ada di sini 


Lagu berjenis balada ini ditulis oleh Theodore KS pada 1987, dan dibawakan band beraliran rock Indonesia, God Bless. Achmad Albar sebagai vokalis, Ian Antono sebagai gitaris, Donny Fatah sebagai bassis, Teddy Sujaya sebagai drummer, dan Jockie Surjoprajogo sebagai keyboardist. Rumah Kita terdapat dalam album ketiga God Bless, “Semut Hitam” yang rilis pada 1988. 

Lagu berdurasi 4 menit 55 detik ini, dibawakan dengan iringan musik dari gitar elektrik, bass, drum, dan keyboard. Rumah Kita beraliran slow rock, yaitu salah satu genre musik yang berakar pada musik rock. Sehingga, lagu ini terdengar lebih lembut dan pelan dibanding lagu rock pada umumnya. Intro (pembuka) yang pertama kali diperdengarkan adalah keyboard. Intro ini berlangsung selama 25 detik pertama lagu. Suara vokalis (Achmad Albar) mulai masuk pada detik ke-25, dengan lirik “Hanya bilik bambu...” bersamaan dengan alunan pertama gitar. Sedangkan drum mulai terdengar pada menit ke 1:13, dengan ritme lambat dan bunyi tipis. Pada menit ke-1:42, ritme drum mulai cepat dan hentakan lebih dominan. Vokal penyanyi pada menit ini menjadi lebih tinggi dan keras, membawakan “haruskah kita beranjak...” Suara vokalis yang berat tetapi tinggi, terasa berada  “paling depan” sepanjang lagu. 

Rumah Kita berisi pernyataan seseorang (aku lirik) tentang keadaan rumahnya. Berbilik bambu, beratap jerami, yang kosong tanpa hiasan maupun lukisan di dalamnya. Pagar rumah hanya alang-alang, dan tak ada anyelir maupun melati, kecuali bunga bakung di halaman. Aku lirik tidak memiliki rumah tersebut sendirian, melainkan bersama orang lain, dan menyebutnya “kita.” Usai menggambarkan kondisi rumahnya, aku lirik menyatakan bahwa rumah dan segala isinya adalah kepunyaan kita, bahkan disebutkan dua kali dengan kata punya dan milik. Meski ditulis pada 1987, lirik lagu tidak terasa kuno/arkais hingga sekarang. Meski dibawakan oleh band beraliran rock dengan genre lagu slow rock, lagu ini tetap mudah diterima oleh banyak kalangan.

“Pentingnya bunyi dalam puisi, menyebabkan banyak pihak 
kemudian menggubahnya menjadi nyanyian.”
(Sapardi Djoko Damono)

Lirik Rumah Kita dapat disebut sebagai puisi naratif, sebab mengisahkan suatu cerita kepada pembacanya. Karena bentuknya yang ringkas, puisi ini disebut balada. Musikalisasi puisi memang bukan perkara baru di dunia musik tanah air maupun mancanegara. Puisi secara umum, dapat dibagi menjadi puisi berwujud prisma dan transparan. Prisma ketika selain sajak tersurat, ada pula makna tersirat di dalam puisi (bermakna  ganda). Transparan ketika puisi hanya dapat dimaknai secara tersurat (hanya bermakna satu). Pemaknaan terhadap Rumah Kita bersifat prismatik, karena bisa diartikan secara tersirat selain tersurat. Rumah yang dimaksud penulis lirik bisa saja tidak setragis deskripsinya, sebab ada kemungkinan penulis menggunakan metafora. Metafora dapat diartikan sebagai pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (KBBI). 

Rumah dalam sejarah perpuisian Indonesia, malang-melintang diekplorasi para penyair. Mulai Hamzah Fansuri, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, hingga Joko Pinurbo pernah menulis puisi bertema rumah. Gambaran utuh yang muncul usai deskripsi aku lirik terhadap rumahnya adalah rumah yang sederhana, kalau tidak mau disebut gubuk. Berbahan dasar material alam, yaitu: 

1) Bilik bambu
Bilik diartikan sebagai, anyaman dari bilah bambu (untuk dinding), ruangan kecil yang tersekat; kamar. Bilik bambu biasa terdapat di pemukiman warga pedesaan, dan yang menyedihkan, sering digunakan untuk mewakili tempat tinggal masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Padahal, para arsitek sejak beberapa tahun terakhir, mulai melirik bambu untuk dijadikan bahan bangunan modern karena struktur dan kekuatannya disebut-sebut melebihi kekuatan baja. Bambu lantas tidak bisa serta merta diartikan sebagai lambang kemiskinan, karena nilainya yang tinggi, namun pada masa penulisan lirik tersebut, bambu mungkin masih dipandang sebelah mata. 

2) Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Di dalam rumah, rupanya tidak ditemui hiasan (barang apa yang dipakai untuk menghiasi sesuatu: dinding, rumah), maupun lukisan (hasil melukis, gambar yang indah-indah) yang biasanya digunakan untuk memperindah interior rumah. Dapat dibayangkan bahwa rumah berdinding bambu tersebut (mungkin) hanya diisi perabot umum seperti lemari, meja, kursi, dan tempat tidur.

3) Beratap jerami
Aku lirik beralih menjelaskan bahwa atap rumahnya terbuat dari jerami (batang padi yang sudah kering). Hal ini kurang urut sebab sebelumnya pembaca sudah diajak masuk ke dalam rumah untuk melihat ketiadaan hiasan dan lukisan. Jerami terkesan sebagai material yang rapuh, namun karena sebelum dipasang diikat dalam buntalan, jerami menjadi kuat dan bertahan lama. 

4) Beralaskan tanah
Inkonsistensi penulis terjadi lagi dengan mengajak pembaca kembali memasuki rumah demi melihat alas rumah yang hanya tanah. Tanpa kayu, tanpa ubin, terlebih keramik. Bisa dibayangkan ketika hujan, rumah akan becek karena dimasuki air. Ketika hari terik, air dalam tanah akan menguap. Ketika malam pun akan terasa lebih dingin. Kaki penghuni rumah biasanya kotor, apalagi jika tidak mengenakan alas kaki. Tanah dapat pula dipandang melalui kaca mata asal usul manusia. Sehingga keberadaan tanah di seluruh bagian rumah demi selalu mengingatkan penghuninya akan asal usul, dan ke mana ia akan kembali. Kehidupan adalah kesementaraan yang pasti.

5) Pagar rumah alang-alang
Pagar difungsikan sebagai penanda batas kepemilikan tanah, pelindung rumah, keindahan, hingga penangkal angin dan debu dari luar. Namun pagar berbahan alang-alang tampaknya bukan pelindung (dari kejahatan) yang baik, terlebih jika tidak ditata, akan tumbuh sembarangan. Alang-alang atau ilalang merupakan sejenis rumput berdaun tajam yang jika tumbuh di ladang, akan dicabut hingga ke akar-akar oleh petani karena dianggap gulma. Aku lirik menyebut pagar rumahnya adalah alang-alang, yang tidak lain adalah tanaman yang dihindari orang. Rumah ini kemungkinan terletak jauh dari keramaian dan tidak terurus oleh penghuninya, karena ilalang masih dapat tumbuh subur. Penafsiran lain terhadap keberadaan alang-alang demikian adalah ketiadaan pembatas antara penghuni rumah dengan masyarakat di sekitarnya, sehingga orang-orang bebas berinteraksi dengan mereka.

6) Tanpa anyelir, tanpa melati
Kembali ke luar rumah, pembaca diajak memperhatikan halaman yang tidak ditumbuhi anyelir maupun melati. Anyelir (Carnation) sering terdapat dalam karangan bunga atau sebagai hiasan hadiah dalam masyarakat, karena diyakini menandakan emosi seperti cinta, penghormatan, dan daya tarik yang kuat. Sedangkan melati sering dijadikan lambang kesucian dan kemurnian karena warna putihnya. Penggunaan melati banyak terdapat dalam tradisi maupun upacara keagamaan di Indonesia. Masyarakat sering menjadikan kedua bunga tersebut sebagai hiasan di pekarangan rumah karena keindahan dan wanginya. Anyelir dan melati agaknya dipandang istimewa dalam kehidupan masyarakat, sehingga perlu usaha khusus untuk menghadirkannya di rumah.

7) Hanya bunga bakung
Bunga ini sering dijadikan simbol kemuliaan, kesucian, dan keindahan. Bakung bisa ditemui tumbuh subur di hutan, pegunungan, bahkan rawa karena memang tidak memerlukan perawatan khusus. Berbagai warna bakung yang sering dibudidayakan adalah putih, kuning, jingga, juga bintik-bintik. Bakung memiliki tangkai sebagai penopang bunga, serta umbi yang tertanam dalam tanah. Secara umum, bunga ini tidak terlihat istimewa dibanding anyelir dan melati.


“Haruskah kita beranjak ke kota/ yang penuh dengan tanya?”

Menjelaskan posisi geografis rumah yang berada di luar perkotaan, kemungkinan pedesaan. Aku lirik secara tersirat juga membandingkan kehidupan di desa dan kota dalam pernyataannya. Kota dinilai penuh dengan “tanda tanya,” yang diartikan sebagai kebingungan dan misteri. Keadaan demikian tentu membuat penghuni desa yang terbiasa hidup sederhana tidak akan nyaman. Kota dianggap sebagai wilayah terlarang dan berbahaya yang sebisa mungkin dihindari. Maraknya perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan dalih memperbaiki kondisi ekonomi, banyak menyisakan wilayah-wilayah urban kumuh di pinggiran kota. 

“Lebih baik di sini/ rumah kita sendiri” menjadi pembuka refrain lagu ini, dan diartikan sebagai jawaban aku lirik terhadap pertanyaan yang ia ajukan sendiri (haruskah kita beranjak ke kota?). Ketegasan terasa dalam pernyataannya, bahwa tak ada yang lebih baik dari rumah yang jauh dari “kemewahan” tersebut. “Namun semua ini punya kita/ memang semua ini milik kita sendiri” menunjukkan bahwa memiliki walau sedikit, adalah lebih berarti daripada hidup dalam kelimpahan namun berhutang/meminjam. Rumah, segala isinya, hingga pekarangan, diakui sebagai kepunyaan aku lirik, bahkan dipertegas dengan menyebutnya dua kali. Gambaran yang muncul adalah sebuah keluarga yang merasa cukup dengan apa yang mereka miliki, tanpa dibuat kuatir dengan kekayaan material di luar sana. 

“Segala nikmat dan anugerah/ Yang Kuasa/ Semuanya ada di sini”

Penggambaran aku lirik terhadap rumahnya bergeser ke arah spiritualitas, dengan menghadirkan Tuhan dan kuasa-Nya, yakni memberkati rumah dan penghuninya dengan nikmat dan anugerah. Aku lirik tentu orang yang menaruh kepercayaan terhadap Tuhan, jika terlalu tendensius menyebutnya beragama. Kehadiran Tuhan dalam kehidupan seringkali menjadi latar belakang mengapa seseorang bersedia menanggung kekurangan bahkan penderitaan.


Rumah Kita bukan hanya bercerita tentang bangunan fisik tempat penghuninya berteduh dari sengat matahari atau tetes hujan, melainkan tempat "kita" berkumpul dan saling berbagi suka dan duka, menikmati kehidupan bagaimana pun keadaannya. Sehingga meski di luar ada banyak godaan menyilaukan, takkan bergeser rasa cinta para penghuni terhadap rumah mereka. Rumah dalam lagu ini dapat diartikan sebagai milik apa saja, boleh jadi benda-benda material, pun hal-hal imaterial, seperti iman, kekeluargaan, persahabatan, hubungan, dll. Penilaian nilai baik-buruk apa "yang ada" hanya tergantung pada kebesaran hati pemiliknya.