RUMAH KITA
God Bless
Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan tanpa lukisan
Beratap jerami beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita sendiri
Hanya alang-alang pagar rumah kita
Tanpa anyelir tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita
Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya
Ref
Lebih baik di sini rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
Semuanya ada di sini
Lagu berjenis balada ini ditulis oleh Theodore KS pada 1987, dan dibawakan band beraliran rock Indonesia, God Bless. Achmad Albar sebagai vokalis, Ian Antono sebagai gitaris, Donny Fatah sebagai bassis, Teddy Sujaya sebagai drummer, dan Jockie Surjoprajogo sebagai keyboardist. Rumah Kita terdapat dalam album ketiga God Bless, “Semut Hitam” yang rilis pada 1988.
Lagu berdurasi 4 menit 55 detik ini, dibawakan dengan iringan musik dari gitar elektrik, bass, drum, dan keyboard. Rumah Kita beraliran slow rock, yaitu salah satu genre musik yang berakar pada musik rock. Sehingga, lagu ini terdengar lebih lembut dan pelan dibanding lagu rock pada umumnya. Intro (pembuka) yang pertama kali diperdengarkan adalah keyboard. Intro ini berlangsung selama 25 detik pertama lagu. Suara vokalis (Achmad Albar) mulai masuk pada detik ke-25, dengan lirik “Hanya bilik bambu...” bersamaan dengan alunan pertama gitar. Sedangkan drum mulai terdengar pada menit ke 1:13, dengan ritme lambat dan bunyi tipis. Pada menit ke-1:42, ritme drum mulai cepat dan hentakan lebih dominan. Vokal penyanyi pada menit ini menjadi lebih tinggi dan keras, membawakan “haruskah kita beranjak...” Suara vokalis yang berat tetapi tinggi, terasa berada “paling depan” sepanjang lagu.
Rumah Kita berisi pernyataan seseorang (aku lirik) tentang keadaan rumahnya. Berbilik bambu, beratap jerami, yang kosong tanpa hiasan maupun lukisan di dalamnya. Pagar rumah hanya alang-alang, dan tak ada anyelir maupun melati, kecuali bunga bakung di halaman. Aku lirik tidak memiliki rumah tersebut sendirian, melainkan bersama orang lain, dan menyebutnya “kita.” Usai menggambarkan kondisi rumahnya, aku lirik menyatakan bahwa rumah dan segala isinya adalah kepunyaan kita, bahkan disebutkan dua kali dengan kata punya dan milik. Meski ditulis pada 1987, lirik lagu tidak terasa kuno/arkais hingga sekarang. Meski dibawakan oleh band beraliran rock dengan genre lagu slow rock, lagu ini tetap mudah diterima oleh banyak kalangan.
“Pentingnya bunyi dalam puisi, menyebabkan banyak pihak
kemudian menggubahnya menjadi nyanyian.”
(Sapardi Djoko Damono)
Lirik Rumah Kita dapat disebut sebagai puisi naratif, sebab mengisahkan suatu cerita kepada pembacanya. Karena bentuknya yang ringkas, puisi ini disebut balada. Musikalisasi puisi memang bukan perkara baru di dunia musik tanah air maupun mancanegara. Puisi secara umum, dapat dibagi menjadi puisi berwujud prisma dan transparan. Prisma ketika selain sajak tersurat, ada pula makna tersirat di dalam puisi (bermakna ganda). Transparan ketika puisi hanya dapat dimaknai secara tersurat (hanya bermakna satu). Pemaknaan terhadap Rumah Kita bersifat prismatik, karena bisa diartikan secara tersirat selain tersurat. Rumah yang dimaksud penulis lirik bisa saja tidak setragis deskripsinya, sebab ada kemungkinan penulis menggunakan metafora. Metafora dapat diartikan sebagai pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (KBBI).
Rumah dalam sejarah perpuisian Indonesia, malang-melintang diekplorasi para penyair. Mulai Hamzah Fansuri, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, hingga Joko Pinurbo pernah menulis puisi bertema rumah. Gambaran utuh yang muncul usai deskripsi aku lirik terhadap rumahnya adalah rumah yang sederhana, kalau tidak mau disebut gubuk. Berbahan dasar material alam, yaitu:
1) Bilik bambu
Bilik diartikan sebagai, anyaman dari bilah bambu (untuk dinding), ruangan kecil yang tersekat; kamar. Bilik bambu biasa terdapat di pemukiman warga pedesaan, dan yang menyedihkan, sering digunakan untuk mewakili tempat tinggal masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Padahal, para arsitek sejak beberapa tahun terakhir, mulai melirik bambu untuk dijadikan bahan bangunan modern karena struktur dan kekuatannya disebut-sebut melebihi kekuatan baja. Bambu lantas tidak bisa serta merta diartikan sebagai lambang kemiskinan, karena nilainya yang tinggi, namun pada masa penulisan lirik tersebut, bambu mungkin masih dipandang sebelah mata.
2) Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Di dalam rumah, rupanya tidak ditemui hiasan (barang apa yang dipakai untuk menghiasi sesuatu: dinding, rumah), maupun lukisan (hasil melukis, gambar yang indah-indah) yang biasanya digunakan untuk memperindah interior rumah. Dapat dibayangkan bahwa rumah berdinding bambu tersebut (mungkin) hanya diisi perabot umum seperti lemari, meja, kursi, dan tempat tidur.
3) Beratap jerami
Aku lirik beralih menjelaskan bahwa atap rumahnya terbuat dari jerami (batang padi yang sudah kering). Hal ini kurang urut sebab sebelumnya pembaca sudah diajak masuk ke dalam rumah untuk melihat ketiadaan hiasan dan lukisan. Jerami terkesan sebagai material yang rapuh, namun karena sebelum dipasang diikat dalam buntalan, jerami menjadi kuat dan bertahan lama.
4) Beralaskan tanah
Inkonsistensi penulis terjadi lagi dengan mengajak pembaca kembali memasuki rumah demi melihat alas rumah yang hanya tanah. Tanpa kayu, tanpa ubin, terlebih keramik. Bisa dibayangkan ketika hujan, rumah akan becek karena dimasuki air. Ketika hari terik, air dalam tanah akan menguap. Ketika malam pun akan terasa lebih dingin. Kaki penghuni rumah biasanya kotor, apalagi jika tidak mengenakan alas kaki. Tanah dapat pula dipandang melalui kaca mata asal usul manusia. Sehingga keberadaan tanah di seluruh bagian rumah demi selalu mengingatkan penghuninya akan asal usul, dan ke mana ia akan kembali. Kehidupan adalah kesementaraan yang pasti.
5) Pagar rumah alang-alang
Pagar difungsikan sebagai penanda batas kepemilikan tanah, pelindung rumah, keindahan, hingga penangkal angin dan debu dari luar. Namun pagar berbahan alang-alang tampaknya bukan pelindung (dari kejahatan) yang baik, terlebih jika tidak ditata, akan tumbuh sembarangan. Alang-alang atau ilalang merupakan sejenis rumput berdaun tajam yang jika tumbuh di ladang, akan dicabut hingga ke akar-akar oleh petani karena dianggap gulma. Aku lirik menyebut pagar rumahnya adalah alang-alang, yang tidak lain adalah tanaman yang dihindari orang. Rumah ini kemungkinan terletak jauh dari keramaian dan tidak terurus oleh penghuninya, karena ilalang masih dapat tumbuh subur. Penafsiran lain terhadap keberadaan alang-alang demikian adalah ketiadaan pembatas antara penghuni rumah dengan masyarakat di sekitarnya, sehingga orang-orang bebas berinteraksi dengan mereka.
6) Tanpa anyelir, tanpa melati
Kembali ke luar rumah, pembaca diajak memperhatikan halaman yang tidak ditumbuhi anyelir maupun melati. Anyelir (Carnation) sering terdapat dalam karangan bunga atau sebagai hiasan hadiah dalam masyarakat, karena diyakini menandakan emosi seperti cinta, penghormatan, dan daya tarik yang kuat. Sedangkan melati sering dijadikan lambang kesucian dan kemurnian karena warna putihnya. Penggunaan melati banyak terdapat dalam tradisi maupun upacara keagamaan di Indonesia. Masyarakat sering menjadikan kedua bunga tersebut sebagai hiasan di pekarangan rumah karena keindahan dan wanginya. Anyelir dan melati agaknya dipandang istimewa dalam kehidupan masyarakat, sehingga perlu usaha khusus untuk menghadirkannya di rumah.
7) Hanya bunga bakung
Bunga ini sering dijadikan simbol kemuliaan, kesucian, dan keindahan. Bakung bisa ditemui tumbuh subur di hutan, pegunungan, bahkan rawa karena memang tidak memerlukan perawatan khusus. Berbagai warna bakung yang sering dibudidayakan adalah putih, kuning, jingga, juga bintik-bintik. Bakung memiliki tangkai sebagai penopang bunga, serta umbi yang tertanam dalam tanah. Secara umum, bunga ini tidak terlihat istimewa dibanding anyelir dan melati.
“Haruskah kita beranjak ke kota/ yang penuh dengan tanya?”
Menjelaskan posisi geografis rumah yang berada di luar perkotaan, kemungkinan pedesaan. Aku lirik secara tersirat juga membandingkan kehidupan di desa dan kota dalam pernyataannya. Kota dinilai penuh dengan “tanda tanya,” yang diartikan sebagai kebingungan dan misteri. Keadaan demikian tentu membuat penghuni desa yang terbiasa hidup sederhana tidak akan nyaman. Kota dianggap sebagai wilayah terlarang dan berbahaya yang sebisa mungkin dihindari. Maraknya perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan dalih memperbaiki kondisi ekonomi, banyak menyisakan wilayah-wilayah urban kumuh di pinggiran kota.
“Lebih baik di sini/ rumah kita sendiri” menjadi pembuka refrain lagu ini, dan diartikan sebagai jawaban aku lirik terhadap pertanyaan yang ia ajukan sendiri (haruskah kita beranjak ke kota?). Ketegasan terasa dalam pernyataannya, bahwa tak ada yang lebih baik dari rumah yang jauh dari “kemewahan” tersebut. “Namun semua ini punya kita/ memang semua ini milik kita sendiri” menunjukkan bahwa memiliki walau sedikit, adalah lebih berarti daripada hidup dalam kelimpahan namun berhutang/meminjam. Rumah, segala isinya, hingga pekarangan, diakui sebagai kepunyaan aku lirik, bahkan dipertegas dengan menyebutnya dua kali. Gambaran yang muncul adalah sebuah keluarga yang merasa cukup dengan apa yang mereka miliki, tanpa dibuat kuatir dengan kekayaan material di luar sana.
“Segala nikmat dan anugerah/ Yang Kuasa/ Semuanya ada di sini”
Penggambaran aku lirik terhadap rumahnya bergeser ke arah spiritualitas, dengan menghadirkan Tuhan dan kuasa-Nya, yakni memberkati rumah dan penghuninya dengan nikmat dan anugerah. Aku lirik tentu orang yang menaruh kepercayaan terhadap Tuhan, jika terlalu tendensius menyebutnya beragama. Kehadiran Tuhan dalam kehidupan seringkali menjadi latar belakang mengapa seseorang bersedia menanggung kekurangan bahkan penderitaan.
Rumah Kita bukan hanya bercerita tentang bangunan fisik tempat penghuninya berteduh dari sengat matahari atau tetes hujan, melainkan tempat "kita" berkumpul dan saling berbagi suka dan duka, menikmati kehidupan bagaimana pun keadaannya. Sehingga meski di luar ada banyak godaan menyilaukan, takkan bergeser rasa cinta para penghuni terhadap rumah mereka. Rumah dalam lagu ini dapat diartikan sebagai milik apa saja, boleh jadi benda-benda material, pun hal-hal imaterial, seperti iman, kekeluargaan, persahabatan, hubungan, dll. Penilaian nilai baik-buruk apa "yang ada" hanya tergantung pada kebesaran hati pemiliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar