Ah, rupanya banyak sekali jenis manusia di bumi yang katanya tak selebar daun kelor, tapi nyatanya maha-sempit ini. Hidup lama-lama kok terasa tak lebih dari sekadar pawai. Ramai dan menggembirakan, lalu hilang lenyap terhisap ke lubang hitam semesta. Lucunya, sebentar saja waktu untuk kedua kejahatan sempurna itu. Menyisakan pertanyaan yang bukan hanya menuntut dijawab, juga membikin sadar. Bahwa yang pergi, hanya pergi karena memilih atau dipilih pergi.
Berani menghitung berapa banyak kehilangan yang kamu sudah alami, sepanjang umur yang belum tahu kapan berujung ini? Cobalah mulai dari waktu, uang, teman, orang-orang yang (kok) ditakdirkan cuma ketemu sekali sama kita, anggota keluarga, barang-barang atau manusia kesayangan, apa saja yang pernah menyentuh rasa memiliki kita. Mereka kenapa pergi sesuka hati? Baru saja berbincang sepanjang malam, eh pagi-pagi sudah raib.
Tolong jangan masukkan Tuhan sebagai variabel, sebab kalau sudah ada "itu kan rencana Tuhan", "itu kan kehendak Tuhan", bisa repot diskusi ini, yakinlah. Anyway, aku lebih suka berbaring di kesimpulan begini, "Mereka pergi ya karena memang mau pergi, atau, bisa jadi ada oknum yang mau mereka pergi". Apa pun alasan di balik pergi, semoga temu dan kenangan cukup tangguh membebat luka.
Satu perbandingan muncul di kepalaku sekarang, hidup tak ubahnya jalan raya. Sekali waktu kita bertemu pengendara lain, beriringan hingga tiga atau lima lampu merah, hanya untuk di persimpangan entah keberapa, kembali berpencar arah. Sesekali kita diizinkan berpapasan atau bersinggungan, tapi siapa pun tahu, kita tak pernah benar-benar berada di jalur yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar