Aris Nugraha. Penulis naskah sekaligus sutradara yang bersahaja. Pertemuan dengannya lantaran seorang kawan mengambil Preman Pensiun 2, sebagai objek penelitian tugas akhir. Berawal dari pesan singkat berisi undangan mendadaknya, kami pun meluncur ke Bandung dengan kereta. Pagi-pagi buta tiba di Kiara Condong, melepas penat sejenak (termasuk diusir petugas lantaran kelamaan), untuk kemudian menggenapi mimpi menyambangi kota kembang.
Bandung tak kalah sibuk dengan kota-kota lain. Pasar dan lalu lintasnya paling menggambarkan keadaan ini. Namun berkat kelihaian berkendara mamang ojek, kami sebentar saja berkutat dengan keriuhan, karena kini kami telah duduk manis menanti di tempat yang ia sendiri minta. Ah iya, sepanjang jalan tadi banyak bangunan tua di kanan kiri, dari arsitekturnya tentu peninggalan Belanda. Mereka indah-indah, masih dirawat dengan sangat baik.

Segera saja, kami lempar pertanyaan pembuka, ingin tahu pendapatnya tentang preman, "Preman itu tentang orang-orang yang bebas, yang punya aturan, dan tujuan sendiri," tuturnya.
Ia dulunya bekerja sebagai loper koran, dan banyak terinspirasi oleh kisah-kisah orang biasa yang hidupnya memberi manfaat bagi orang lain. Ia juga menyukai Horizon, majalah sastra yang membawanya mulai menulis. Sejak sekolah dasar mengaku suka menulis cerita, dan berbeda dari siswa lain, yang berjamaah dengan "pada suatu hari.."
Juni 1999, ia bergabung dengan tim produksi film sebagai clapper. Sang produser menawarinya belajar menulis dan diizinkan membaca banyak buku miliknya. Setelah dua tahun, lahirlah Bajaj Bajuri, naskah sinetron "serius" pertamanya. Tahun 2000, barulah naskah tersebut diproduksi, namun karena keterbatasan dana, ia berani menyutradarai sendiri berbekal pengalaman.
"Baik original maupun bajakan, semua saya telen.." tuturnya mengenang perjalanan menonton sekaligus caranya belajar memahami film. Ia memilih diet jajan dan jalan-jalan demi memenuhi hasrat "menelan" film. Usai banyak dijejali film, berbagai karya kemudian lahir dari pria yang berdomisili di Jakarta itu.
Kang Aris |
Lantas bagaimana proses kreatif menciptakan cerita itu muncul? "Jika saya ingin bercerita, teorinya adalah, saya membuka jendela rumah saya, dan saya melihat tetangga saya." Apa yang ia lihat, diceritakan, lalu diimajinasikan apa yang terjadi sebelum dan setelahnya. "Cerita bagi saya bisa selesai begitu saja, karena waktunya sudah harus selesai."
"Skenario bukan ilmu pasti, bukan rumus matematika. Kita bisa punya teknik sendiri, tapi nggak asal-asalan juga. Kita harus perhitungkan ini nggak bikin pusing penonton." Tuturnya merangkum cara penulisan naskah berdasar pengalamannya.
Ia menyarankan, penulis skenario sebaiknya menulis materi yang benar-benar ia kuasai, bukan setengah-setengah bahkan pura-pura tahu. Selain itu, keberanian mencoba juga harus diterapkan dalam pembuatan karya kreatif semacam film. Ia mencontohkan dengan musik khas Sunda yang dimainkan di Preman Pensiun, yang ternyata disukai orang dari berbagai latar belakang.
Menyoal kepergian artis senior Didi Petet di tengah produksi sinetron, Aris menerangkan, "Meninggalnya Didi Petet (Kang Bahar) bukan merupakan bencana bagi saya, justru itu seperti membenarkan cerita yang saya buat. Satu hari sebelum meninggal dia ketemu saya, dan kita ngobrolin hal yang nggak penting. Saya kan lumayan deket sama dia. Kehilangan seorang teman, partner dalam kreativitas, itu saja."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar