Kita harus selalu marah. Marah pada keadaan sekarang, marah pada diri yang sekarang.
Lihat betapa kemarahan adalah kekuatan maha dahsyat!
Bagaimana Soekarno marah mendapati bangsanya terbelenggu, lalu dengan segenap tenaga, mengangkat "senjata" demi merdeka. Bagaimana Mandela marah pada ketidakadilan, untuk kemudian bangkit merakit Afrika baru. Kemarahan selalu adalah pintu terbuka lebar menuju perubahan revolusioner.
Lalu malam ini, seorang teman membangunkan marah-semarah-marahnya dalam aku. Ah, sialan! Lama sekali aku tidak marah, sudah kelewat jauh menepi ke dunia tenteram. Nyaman menerima status apa adanya. Hingga cara menangani marah, menukarnya jadi kepulan asap pendorong tindakan, terlupakan sungguh-sungguh. Aku marah berdiri sejajar dengan rasa marah yang kehilangan taringnya.
Alamak, ke mana mesti kucari diri, yang menerima marah sebagai ucapan selamat pagi yang bersahabat? Izinkan kuteguk marah sekali lagi, biar hidup tahu betapa marah aku pada marah yang tak kunjung setia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar