Perjalanan ke Bandung masih menagih janji, minta dipersilakan naik panggung sekali lagi. Mengingat ada beberapa foto yang sempat kupotret, biarlah kubolehkan ia mengada lewat media ini. Sebagaimana kiriman terdahulu, tujuan kami ke kotanya Kang Emil memang untuk menyelesaikan skripsi. Berhubung banyak waktu sebelum kereta kepulangan, kaki kami ajak menapaki beberapa lokasi.
![]() |
| Set rumah Kang Mus di Jalan Kangkung, Bandung.. |
Pertama, rumah Kang Mus dalam Preman Pensiun. Di sana sambutan hangat datang dari tuan rumah, yang ternyata sudah hampir "bosan" menerima penggemar serial itu dari berbagai daerah pun luar negeri. Kata beliau, kondisinya masih sama seperti waktu shooting. Bagian dalam pun tak banyak diubah, sekadar menggeser foto sang pemilik rumah.
![]() |
| Mamang penjual kupat tahu. |
Di persimpangan, perut lapar dan gerobak kupat tahu dipertemukan oleh takdir. Mamangnya ramah dan mengaku puluhan tahun sudah jualan di Bandung. Untuk pengalaman perdana menikmati jajanan dengan lumuran kacang ini, skornya cukup baik. Rasanya enak!
NB: Bahan kupat tahu (ketupat, tahu putih, tauge, kecap manis, bawang goreng, dan kerupuk).
Karena sejak awal memang tak merencanakan jadwal perjalanan, jadilah kami ke sana ke mari berbekal insting dan politik tanya-tanya. Urang Bandung ramah, tak perlu segan meminta saran dan arah. Akhirnya kami putuskan naik angkot menuju Masjid Agung nan tersohor. Oh iya, hari itu para tukang angkot (entah berapa rute), demo massal tidak narik karena tak setuju anak sekolahan pulang naik bus umum. Eh? Rejekinya takut diserobot.. Akibatnya banyak penumpang diliputi awan kebingungan yang gelap.
![]() |
| Bandung! |
![]() |
| Masjid Agung dan rumput tetangga. |
![]() |
| Jalan Asia-Afrika, lokasi KAA. |
Tiba di terminal Kalapa, kami lanjut dengan berjalan kaki usai berhitung dengan jarak masjid. Jalanan ramai dengan toko-toko pakaian dan aneka produk kreatif, tak mau kalah, orang-orang lalu lalang menambah padat.
Di teras masjid, banyak ibu yang berjualan kresek, buat tempat sandal/sepatu biar tidak kemalingan. Kami istirahat (tidur) cukup lama di dalam karena sejuk dibanding udara luar, untuk kemudian mendapati hamparan rumput buatan lengkap dengan bunga-bunga di sekeliling. Dilarang keras pakai alas kaki! Bersiaga petugas keamanan di sekitar area, waspadalah.
Meski harapan Kang Emil sidak ke sana tiada terwujud, untung ketemu fotonya. Haha. Menjelang sore hujan turun agak lebat, hingga pengunjung berlarian mencari perteduhan.
Susuran kami selanjutnya adalah jalan terpanjang sedunia, Asia-Afrika. Pernah menyaksikan rekaman prosesi Konferensi yang dihelat di sana, menciptakan suasana meriah waktu melewati jalanan dengan banyak foto Soekarno itu. Baru ingat ternyata pas tanggal 1 Juni, hari lahir Pancasila lewat pidato sang presiden pertama.
![]() |
| Pidi Baiq menyoal Bandung. |
Ah, Pidi Baiq malah mengambil lokasi strategis menyampaikan kecintaannya pada kota. Persis di pinggir jalan, tertulis, "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi." Dan semua orang dapat tiba di tingkat yang sama jika tertanam teguh di tanah suatu wilayah, entah kampung, kota, negeri, dunia.
![]() |
| Merah-Putih berjejer rayakan harlah Pancasila. |
Peringatan kelahiran Pancasila meriah sekali, paling tidak karena di sepanjang jalan ada merah-putih, pula aneka rupa Soekarno. Tapi entah mengapa ada sendu yang mendalam, sadar bahwa semua euforia itu cuma topeng belaka. Kita bangsa yang sudah lama menanggalkan kebesaran hati, cuma untuk bertelanjang biar dicintai dunia.
Kami memasuki museum KAA, dan hanya menemukan bermacam kenangan bahkan reproduksi ingatan di dalamnya. Ada sekumpulan manusia dari negeri-negeri jauh dan tak terjangkau, pernah benar-benar berkonferensi di sini di suatu waktu. Tentu demikian penting apa yang mereka perbincangkan, lantaran penghormatan atas peristiwa itu masih begitu dimaklumi hari ini.
![]() |
| Ruang Konferensi yang megah dan historis. |
Pengunjung paling banyak adalah anak-anak sekolah. Ada yang melintas perlahan sambil melihat sekenanya, ada yang kelewat asyik memotret hingga lupa mengisi kepalanya, pura-pura ingin tahu, tak ketinggalan ada pula yang serius sekali berupaya menebas benang-benang masa demi bertemu para peserta pertemuan, dan tentu, ada yang hanya tertarik memperhatikan tingkah pola orang-orang, aku.
Meski Bandung bukan kota paling menawan hati sepanjang perjalanan batin, bukan pula kota yang mendatangkan rindu bertubi setelah meninggalkannya, namun Bandung adalah persinggahan yang baik bagi jiwa-jiwa yang mendambakan keabadian dibanding apa pun juga. Kota ini tidak bisa membungkam diri lama-lama, sehingga orang yang datang harus lekas-lekas merencanakan kepulangan.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar