Aku tak
butuh hidup seribu tahun lamanya. Cukup kamu saja yang minta, Bung Anwar. Ah,
masakan Tuhan mau memberi? Dia terkenal adil, di samping pelit tentunya. Ah,
siapa pula aku hingga nekat mendeskripsikan Penguasa Semesta alam, hanya dalam dua
kata yang bahkan bukan aku penemunya? Untuk kesalahan yang itu, aku mohon
pengertianMu saja, ya.. Aku kelewat dungu memang.
Aku selalu
merasa tak diberi waktu lama mendiami bumi. Mungkin hanya perasaan saja, tapi
masalahnya adalah, hanya perasaanlah yang aku punya. Pikiran entah mengapa tak
kunjung betah diam di aku. Membikin logika sampai insting turut bergegas
minggat. Jika hanya itu yang tersisa, bahkan mengatur ritme napas dan jantung
pun ia kupersilakan, dengan segala hormat menyertainya. Jadi, berapa lama tepatnya
sisa umurku? Bersediakah Kau membocorkan angka pertamanya saja? Ah, betapa
pedih jika hanya satu angka itu pula yang kausisihkan sebagai bagianku?
Tapi sekali
lagi, apalah aku sampai garang meninggikan suara di hadapan agungMu?
Lakukanlah. Selama Engkau Tuhan, selama itu pula Engkau Pengendali. Aduh ibu,
mengapa tidak kamu saja yang jadi Tuhan? Setidaknya aku bisa tanpa sungkan
menyanggah maumu. Sudah ah, aku capek seharian meneruskan hidup detik ke detik
ke menit. Selamat malam Ibu, eh Tuhan maksudnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar