Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Senin, 20 Juni 2016

Menjelang Angka Pertama

Aku tak butuh hidup seribu tahun lamanya. Cukup kamu saja yang minta, Bung Anwar. Ah, masakan Tuhan mau memberi? Dia terkenal adil, di samping pelit tentunya. Ah, siapa pula aku hingga nekat mendeskripsikan Penguasa Semesta alam, hanya dalam dua kata yang bahkan bukan aku penemunya? Untuk kesalahan yang itu, aku mohon pengertianMu saja, ya.. Aku kelewat dungu memang.

Aku selalu merasa tak diberi waktu lama mendiami bumi. Mungkin hanya perasaan saja, tapi masalahnya adalah, hanya perasaanlah yang aku punya. Pikiran entah mengapa tak kunjung betah diam di aku. Membikin logika sampai insting turut bergegas minggat. Jika hanya itu yang tersisa, bahkan mengatur ritme napas dan jantung pun ia kupersilakan, dengan segala hormat menyertainya. Jadi, berapa lama tepatnya sisa umurku? Bersediakah Kau membocorkan angka pertamanya saja? Ah, betapa pedih jika hanya satu angka itu pula yang kausisihkan sebagai bagianku?


Tapi sekali lagi, apalah aku sampai garang meninggikan suara di hadapan agungMu? Lakukanlah. Selama Engkau Tuhan, selama itu pula Engkau Pengendali. Aduh ibu, mengapa tidak kamu saja yang jadi Tuhan? Setidaknya aku bisa tanpa sungkan menyanggah maumu. Sudah ah, aku capek seharian meneruskan hidup detik ke detik ke menit. Selamat malam Ibu, eh Tuhan maksudnya.

Tidak ada komentar: