Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Minggu, 10 Juli 2016

Gadis yang Memandangi Laut

Pada suatu hari,
lama di belakang Senin, 11 Juli 2016

Mendung dan angin, merekalah teman
Sedang Lea terus memandangi laut
Mencari seseorang di tengah ombak bergelung

Dan malam pun jatuh
Menenggelamkan senja kemilau
Tiada lagi harapan, runtuh semuanya

Percaya bukan untuk orang gampangan
Harapan bukan benda mati tanpa jiwa

Tahu rasa kau, Lea!
Tidakkah kenyataan adalah dosa yang mesti ditebus?
Semakin sakit, semakin mahal

Senin, 04 Juli 2016

Permintaan dari Dalam

Rasanya perayaan tahun baru 2010 masih satu atau dua minggu berlalu. Kami ekskul di pelabuhan lama, sekalian berbagi kue kering, yang diboyong nyata-nyata atau sembunyi-sembunyi dari rumah. Meski hanya dengan sisa-sisa euforia, kami bahagia saja. Selain Pak Pres, aku tak  bisa menduga siapa pemrakarsanya.

Ada yang membawa kue sapit, kue bawang, kue salju, kembang loyang, nastar, terakhir mungkin kacang goreng. Tak semua orang datang dengan sekotak makanan, tapi semua kebagian mencicipi. Tentu bukan karena mujizat “lima roti dan dua ikan,” melainkan karena setiap orang hanya mengambil sedikit.

Melihatku tak menyuguhkan apa-apa, ia minta dibawakan lemang sebagai pengganti. Kuiyakan, meski kalian tahu aku jarang sekali menepati janji. Di Poriaha ada tukang lemang kesohor, nah, ia hanya mau dibelikan dari sana.

Berbulan-bulan setelahnya, lemang tak kunjung tergenapi. Ia sesekali mengingatkan dengan nada kelewat serius meski aku tahu ia bercanda. ”Permintaan dari dalam ini..” begitu katanya yang hampir selalu kujawab “Iya Pak, nanti..”

Setiap kali lewat depan rumah sang penjual lemang, satu-satunya ingatan yang muncul adalah janji yang tak kuniatkan untuk digenapi. Dulu ada banyak sekali kesempatan itu.

Sabtu, 02 Juli 2016

Iklan Djarum di Jam “Steril”

Hampir sebulan iklan Djarum malang melintang di televisi, sepanjang hari, dari pagi hingga malam. Menceritakan tiga keadaan yang sering menimbulkan prasangka, yakni: 1) seorang pria mengamati secara mencurigakan, 2) seorang pria menyerobot antrean (di adegan ini ada Praveen Jordan yang turut mengantre dan mengenakan kaos berlogo Djarum), dan 3) dua kelompok pria membawa benda tajam. Sampai di penghujung iklan, tahulah kita bahwa ada “tukang” rokok di balik amanat baik untuk tidak berprasangka itu.

Awalnya saya mengira iklan ini takkan bertahan lama, bukan hanya karena sekarang bulan Ramadhan, namun iklan rokok kan memang hanya diizinkan disiarkan di jam malam (di atas jam 21.30 WIB). Tunggu, apa Anda masih menganggap iklan Djarum tersebut bukan iklan rokok? Cobalah perhatikan iklan produk sejenis, konsepnya sama bukan? Penonton pertama-tama  disuguhkan cerita “inspiratif” barulah logo produsen atau merek rokok diperlihatkan. Nah sekarang, siapa pula akan luput memahami Djarum mencuri waktu tayang?


Saya tidak tahu persis aturan mana saja yang dilanggar PT Djarum, namun kenyataan bahwa iklan ini masih bebas “berkeliaran” (per 2 Juli 2016) agaknya harus mendapat perhatian serius Komisi Penyiaran Indonesia. 

Jumat, 01 Juli 2016

Sibolga dan Sejarah Kami

Siapa pun memuja kota kelahirannya, terlebih jika di sana jugalah ia dibesarkan..

Sibolga, tentu masih asing bagi sebagian besar kalian. Sebab kotamadya di pesisir Sumatera Utara ini memang jauh dari fenomena. Jarang sekali ada yang membanggakan, terutama soal pencapaian pemerintah, prestasi anak-anaknya, entah di bidang akademik pun lainnya, apalagi teroboson (baca: penemuan) berdayaguna. Kota kami ini jauh dari pemberitaan, tak cuma menggembirakan, bahkan yang memilukan saja terhitung.

Pernah ada film yang diproduksi dengan mengambil beberapa sisi Sibolga sebagai latarnya. Ya, sebatas latar, sebab meski dibuat di lokasi lain pun hasilnya akan sama saja. Mursala, itu judul filmnya. Ah, mereka sekadar mencuri pandang pada kota kami. Cuma menampilkan sedikit suasana senja dari jalan berbukit, lalu "seuprit" saja jalanan di sana, itu pun hanya untuk memfasilitasi iklan salah satu bank yang jadi sponsor.

Tapi kami toh mencintai kota ini sebagaimana adanya. Meski di layar bioskop ia cantik bukan main, tapi kami paham betul ia jauh lebih cantik dibanding penglihatan kamera mahal, terlebih sutradara berpengalaman. Kota dan kami adalah sejarah yang melampaui riset, melebihi penghayatan para bintang film Jakarta. (bersambung)

Rabu, 29 Juni 2016

Upacara Mangallang Hambing Puti dan Babi Ambat pada Suku Batak Toba

Orang Batak selama hidupnya, seakan tak bisa lepas dari dekap tradisi. Sejak lahir hingga kembali ke asal mula segenap manusia, tradisi selalu punya alasan untuk mengada dalam diri setiap orang. Senang dan sedih, baik dan buruk, hidup dan mati, adalah pengalaman hidup yang ditanggapi serius oleh nenek moyang orang Batak. Cara pandang mereka menyikapi fenomena didasarkan pada nomena, yakni kepercayaan akan campur tangan penguasa alam semesta dan roh-roh dalam dunia, terhadap kehidupan yang sedang berlangsung.
Tradisi dapat bersifat rutin maupun situasional. Upacara manabur boni (menabur benih) dan mangallang horbo bius (mempersembahkan kerbau sebelum musim tanam) merupakan tradisi rutin, sementara upacara mangindo udan (meminta hujan) dan mangallang hambing puti atau babi ambat, adalah tradisi yang masing-masing dilangsungkan saat kemarau panjang dan penyakit menular menyerang desa.
Wabah penyakit merupakan bencana besar bagi suatu kelompok masyarakat. Bukan hanya membatasi aktivitas penderitanya, dalam budaya Batak wabah diartikan sebagai kekalahan Raja Toba [1] berjudi melawan Raja Ijau [2]. Pihak pemenang berhak membunuh penduduk lewat penyakit, dan ini dilakukan oleh bala tentara berupa roh, begu (hantu), dan setan-setan jahat. Upacara diperlukan untuk menghalau para pembawa penyakit dan memohon perlindungan bagi seluruh warga desa, inilah yang disebut upacara mangallang hambing puti (memakan kambing putih) atau mangallang babi ambat (memakan babi penghambat).
Upacara mangallang hambing puti dilakukan jika wabah sudah menyebar dan penduduk sudah jatuh sakit, sementara mangallang babi ambat merupakan pencegahan/penolak bala sebelum wabah menyerang desa (masih berada di desa lain). Pelaksanaan keduanya hampir sama, hanya berbeda soal tujaun dan jenis hewan yang dikorbankan. Pemimpin desa (Raja Huta), datu (dukun/pemimpin spiritual), dan seluruh warga terlibat dalam upacara ini.
Upacara ini hanya berlangsung jika desa terserang wabah penyakit, biasanya rojan sibumbung (kolera) dan nge-nge (cacar). Para penatua desa lantas memimpin tahapan upacara sebagai berikut:
1)   Marsungkun, berkumpulnya para pemimpin desa demi menanyakan penyebab penyakit pada datu (dukun). Setelah diputuskan akan dilaksanakan upacara, dipilihlah hari yang tepat sesuai parhalaan (kalender Batak).
2)   Marhara, pemberitahuan kepada warga pelaksanaan upacara, menjadi tugas parhara (pasuruh raja desa).
3)   Martabar-tabar, mengusir roh-roh jahat yang membawa wabah. Semua warga dewasa, laki-laki dan perempuan keluar rumah sekitar pukul 20.00-21.00. Mereka menggedor pintu dan dinding rumah meneriakkan, “tabar.. tabar.. tabar..” sambil memukul kaleng-kaleng. Roh penyebar penyakit diyakini akan terusik lalu pergi demi mendengar keributan tersebut.
4)   Mananti, memberitahukan kepada Mula Jadi na Bolon [3] dan para sombaon (roh keramat) bahwa akan diadakan upacara. Pihak Raja Huta menyediakan sumpit, berisi beras putih, sirih, dan telur ayam. Disiapkan pula sehelai ulos (kain tenun Batak).  Inilah persembahan yang disampaikan oleh Raja Huta sambil mengucapkan:

“On ma parboa-boaan nami ompung,                 Inilah pemberitahuan kami wahai leluhur,
dinalaho pasahathon hambing puti.                   yang akan menyampaikan kambing putih.
Asa puti sohaliapan, puti so habubuhan.          Agar putih murni dan suci.
Marsogot diparnangkok ni mataniari.”            Besok saat naiknya matahari.

      Kalimat di atas, yang disebut tonggo, diucapkan bergantian kepada:
  1. Mula Jadi na Bolon,
  2. Boras Pati ni Ruma (roh penjaga rumah),
  3. Boras Pati ni Tano (dewa penguasa tanah),
  4. Saniang Naga (dewa penguasa air),
  5. Bona-bona ni Huta (roh para pembuka desa),
  6. Si Tuan Habonarah ni Huta (keramat penjaga kebenaran dan keadilan desa),
  7. Junjungan ni Huta (keramat pujaan desa),

Sombaon ni Humaliang (keramat desa-desa tetangga).Sementara di rumah masing-masing, warga melaksanakan prosesi yang sama, dengan persembahan adalah kue-kue dari tepung beras, yang dibuat berwarna putih [4] dan kuning [5].

5)      Pasahathon Pelean, mempersembahkan hewan upacara. Kambing atau babi dibawa ke halaman desa untuk disembelih. Bagian tubuh seperti rahang bawah, kepala, ekor, leher, dan hati, disisihkan untuk dimasak secara utuh. Sementara sisanya dimasak di tempat lain. Susunan makanan persembahan adalah sebagai berikut: di atas piring, nasi putih dan kuning diposisikan terpisah, di atasnya ditempatkan bagian hewan yang dikhususkan. Di sisi kiri diletakkan kue, air penepung tawar (jeruk purut dan dua jenis rumput), dan daun beringin. Makanan persembahan ditempatkan di tengah altar. Raja Huta atau datu kemudian mengucapkan tanggo berikut:

“Hu tonggo ma da omping Mula Jadi na Bolon,          Kuundang Mula Jadi na Bolon,
on ma ompung pangelehan nami.                                     Inilah hai leluhur permohonan kami
Sitompion na godang dohot runang marata,                 Kue yang banyak, dan daun beringin
dohot indahan na porngis, dohot hambing puti,          dengan nasi keras dan kambing putih
asa puti ma tutu sohaliapan puti so habubuhan,          agar putih murni dan putih suci.
dohot napuran tiar, asa tiar ma bahen,                          Juga sirih, agar terang kau buat
saluhutna namet-met dohot magodang,                          yang kecil dan yang besar.
asa lae ma roham, lambok pusu-pusum.                          Agar murah hatimu, lembut hatimu.
Ooo.. looo.. i.. ompung..”                                                    Kabulll.. kan.. lah.. hai leluhur.

      Tonggo ini pun diucapkan berturut-turut seperti saat mananti, namun kali ini ditujukan kepada:
  1. Ompu Raja Ijau,
  2. Ompu Raja Itoba (raja Toba),
  3. Boras Pati ni Tano,
  4. Saniang Naga,
  5. Bona-bona ni Huta,
  6. Si Tuan Habonaran ni Huta,
  7. Junjungan ni Huta,
  8. Sombaon na Humaliang, dan
  9. Sahala ni Daompung (arwah nenek moyang).
Makanan yang sudah dipersembahkan kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh warga. Setiap rumah, parit, dan bagian-bagian penting di desa, pun harus diperciki air (merinjis), sebagai penutup upacara.


Orientasi terhadap Sistem Budaya
Sistem Kepercayaan
Orang Batak (hingga sekarang) meyakini adanya ikatan antara manusia yang hidup, dengan roh-roh nenek moyang dan roh dari alam lain. Keterikatan ini demikian kuat dihidupi dan tercermin melalui tradisi yang mengakar dalam, termasuk ketika agama mulai berkembang di tanah Batak. Upacara mangallang hambing puti dan babi ambat merupakan salah satu contoh keyakinan ini. Manusia adalah pihak yang penuh kelemahan dan tidak lepas dari sakit penyakit, namun ada leluhur dan roh penguasa yang dapat dimintai berkat untuk melepaskan manusia dari penderitaannya. Berkat baru akan diberikan jika dilangsungkan upacara tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula. Setiap tahap bermakna dan setiap detail tidak boleh diabaikan, di sanalah letak kesakralan suatu upacara tradisi.

Konsep Seni
Tradisi kolektif agaknya paling banyak didapati dalam kehidupan budaya masyarakat Batak. Upacara misalnya, hanya dapat dilakukan jika pihak-pihak yang terlibat berperan sesuai ketentuan, jika persembahan (jenis, warna, dan sumber), sesuai dengan kebiasaan, jika tonggo diucapkan sebagaimana mestinya. Keterlibatan semua pihak menentukan kelangsungan upacara berbasis tradisi ini. Meski beberapa tradisi ditulis dalam catatan, namun banyak lainnya hanya diwariskan dari mulut ke mulut atau melihat langsung prosesi tersebut berlangsung. Tidak ada upaya signifikan masyakarat adat Batak untuk melestarikan tradisinya, terlebih di tengah gempuran globalisasi. Berbagai tradisi lokal sudah dilupakan dan tinggal kenangan dalam ingatan renta pada tetua desa, yang sebentar akan jadi leluhur.

Nilai Seni
Upacara tradisi dalam fungsinya sebagai seni mengandung nilai teknis, estetis, dan pesan. Manggallang hambing puti dan babi ambat berlangsung dalam urutan teknis pasti yang tidak dapat ditawar-tawar, mulai dari penentuan tanggal pelaksanaan, lokasi upacara, kualitas hewan dan makanan persembahan, dan perlengkapan lain. Setiap langkah bernilai dan berpengaruh terhadap keseluruhan upacara. Nilai estetis terlihat dalam penyusunan makanan dalam komposisi tertentu, baik menurut warna maupun posisi. Pengucapan tonggo juga sangat menarik karena terdengar sangat puitis berkat diksi (pemilihan kata) yang indah, di samping juga bermakna mendalam. Putih kambing misalnya, dijadikan simbol manusia yang putih murni dan suci. Sementara nilai pesan mengalir sepanjang upacara, tentang bagaimana berkorban untuk kebaikan seluruh desa, bekerja sama, merendahkan diri, disiplin dan keteraturan, serta harmonisasi manusia, alam, dan seluruh semesta.

Dalam segala hal yang terlibat dalam upacara (baik benda maupun manusia), terdapat simbol yang dapat diartikan sebagai kesatuan berlangsungnya upacara. Prinsip “bentuk mengikuti fungsi”, dapat pula telusuri dalam upacara menolak wabah ini, antara lain:
1)   Kaleng-kaleng yang dibunyikan untuk mengusir roh jahat. Suara ribut merupakan hasil (fungsi) yang diharapkan dari bentuk dan pemanfaatan kaleng. Karena mengharapkan kegaduhan, besar kemungkinan irama tidak begitu diperhatikan selama kegiatan ini berlangsung.
2)      Kambing putih atau dalam keadaan genting, kambing tidak putih pun dapat diwarnai putih dengan kapur. Hal terpenting adalah warna, bukan ukuran atau umur hewan persembahan, sebab putih diyakini sebagai cerminan kesucian. Fungsi sebagai simbol inilah yang paling penting dari seekor kambing putih.
3)    Daun sipilit (sejenis rumput), difungsikan sebagai pemercik air karena bentuknya yang memanjang dan bagus untuk memercikkan air. Merupakan perlambang pengusir/pengalir penyebab penyakit.
4)    Ulos, merupakan kain sakral dalam hampir semua upacara orang Batak. Biasanya dikenakan di bahu sebagai lambang berkat dan penyertaan leluhur.
5)   Rudang marata atau daun beringin yang masih hijau, merupakan perlambang kemakmuran. Beringin ketika berukuran besar, akan menjadi rumah bagi banyak makhluk hidup, dan kerindangannya memberi kesejukan bagi manusia. Kenyataan (bentuk) inilah yang direspon orang Batak sebagai bagian dari upacara (fungsi).

Mengingat pengertian estetika dalam pemikiran Jakob Sumardjo, yakni mempersoalkan hakikat keindahan alam dan karya seni, maka upacara mangallang hambing puti dan babi ambat, merupakan kebudayaan tidak benda yang bukan hanya sebagai ekspresi (seni) orang Batak, juga representasi cara pandang dan sikap terhadap fenomena yang ada. Upacara tersebut tergolong wajah kesenian tradisi karena merupakan eskpresi jiwa yang tidak hanya menjadi milik perorangan, melainkan milik segenap masyarakat Batak.

Masalah yang kerap menyerang tradisi berbasis keyakinan semacam ini adalah nilai-nilai mutlak dalam agama. Bangsa Batak yang awalnya percaya pada Mula Jadi na Bolon sebagai kausa prima, lantas dihadapkan pada berbagai agama pendatang yang secara sporadis “menyingkirkan” upacara semacam ini karena dianggap menyimpang bahkan merupakan dosa. Di sinilah pandangan sebagai manusia yang berakar dalam budaya lokal dan berpikir global diperlukan, demi menjamin kelestarian seni indah upacara mangallang hambing puti dan babi ambat di tanah Batak nan permai.



[1] Cucu dari Raja Batak yang memiliki kesaktian tinggi.
[2] Raja-raja yang berkuasa di pantai barat Sumatera/pesisir.
[3] Kausa Prima dalam kepercayaan orang Batak.
[4] Melambangkan permintaan Raja Toba.
[5] Melambangkan permintaan Raja Ijau.

Pustaka:
Kartika, Dharsono Sony dan Nanang Ganda Prawira. Pengantar Estetika. Rekayasa Sains, Bandung. 2004.
Sinaga, D., dkk. Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Sumatera Utara.  Depdikbud, Jakarta: 1985.

Minggu, 26 Juni 2016

Old Shatterhand

Pertemuanku dengan buku ini terbilang sudah lama. Tapi seperti banyak sua tanpa kata-kata, kami sebatas saling pandang, berpisah untuk waktu yang panjang, demi duduk bersama di ruang yang hanya diisi oleh kami berdua, hati semesta.

Tentu, ada begitu banyak pujian untuk Old Shatterhand, terlebih untuk Karl May sang penulis. Apalah artinya satu pujian lagi dariku yang bukan siapa-siapa ini? Tapi bagaimana pun, Anda layak mendapatkannya, tuan yang baik hati. Terima kasih karena menyempatkan menulis, apa pun alasannya. :)

Senin, 20 Juni 2016

Menjelang Angka Pertama

Aku tak butuh hidup seribu tahun lamanya. Cukup kamu saja yang minta, Bung Anwar. Ah, masakan Tuhan mau memberi? Dia terkenal adil, di samping pelit tentunya. Ah, siapa pula aku hingga nekat mendeskripsikan Penguasa Semesta alam, hanya dalam dua kata yang bahkan bukan aku penemunya? Untuk kesalahan yang itu, aku mohon pengertianMu saja, ya.. Aku kelewat dungu memang.

Aku selalu merasa tak diberi waktu lama mendiami bumi. Mungkin hanya perasaan saja, tapi masalahnya adalah, hanya perasaanlah yang aku punya. Pikiran entah mengapa tak kunjung betah diam di aku. Membikin logika sampai insting turut bergegas minggat. Jika hanya itu yang tersisa, bahkan mengatur ritme napas dan jantung pun ia kupersilakan, dengan segala hormat menyertainya. Jadi, berapa lama tepatnya sisa umurku? Bersediakah Kau membocorkan angka pertamanya saja? Ah, betapa pedih jika hanya satu angka itu pula yang kausisihkan sebagai bagianku?


Tapi sekali lagi, apalah aku sampai garang meninggikan suara di hadapan agungMu? Lakukanlah. Selama Engkau Tuhan, selama itu pula Engkau Pengendali. Aduh ibu, mengapa tidak kamu saja yang jadi Tuhan? Setidaknya aku bisa tanpa sungkan menyanggah maumu. Sudah ah, aku capek seharian meneruskan hidup detik ke detik ke menit. Selamat malam Ibu, eh Tuhan maksudnya.