Rasanya perayaan tahun baru 2010 masih satu atau dua minggu berlalu. Kami ekskul di pelabuhan lama, sekalian berbagi kue kering, yang diboyong nyata-nyata atau sembunyi-sembunyi dari rumah. Meski hanya dengan sisa-sisa euforia, kami bahagia saja. Selain Pak Pres, aku tak bisa menduga siapa pemrakarsanya.
Ada yang membawa kue sapit, kue bawang, kue salju, kembang
loyang, nastar, terakhir mungkin kacang goreng. Tak semua orang datang dengan sekotak
makanan, tapi semua kebagian mencicipi. Tentu bukan karena mujizat “lima roti
dan dua ikan,” melainkan karena setiap orang hanya mengambil sedikit.
Melihatku tak menyuguhkan apa-apa, ia minta dibawakan
lemang sebagai pengganti. Kuiyakan, meski kalian tahu aku
jarang sekali menepati janji. Di Poriaha ada tukang lemang kesohor, nah, ia hanya
mau dibelikan dari sana.
Berbulan-bulan setelahnya, lemang tak kunjung
tergenapi. Ia sesekali mengingatkan dengan nada kelewat serius meski aku tahu
ia bercanda. ”Permintaan dari dalam ini..” begitu katanya yang hampir selalu
kujawab “Iya Pak, nanti..”
Setiap kali lewat depan rumah sang penjual lemang,
satu-satunya ingatan yang muncul adalah janji yang tak kuniatkan untuk
digenapi. Dulu ada banyak sekali kesempatan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar