Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Senin, 04 Juli 2016

Permintaan dari Dalam

Rasanya perayaan tahun baru 2010 masih satu atau dua minggu berlalu. Kami ekskul di pelabuhan lama, sekalian berbagi kue kering, yang diboyong nyata-nyata atau sembunyi-sembunyi dari rumah. Meski hanya dengan sisa-sisa euforia, kami bahagia saja. Selain Pak Pres, aku tak  bisa menduga siapa pemrakarsanya.

Ada yang membawa kue sapit, kue bawang, kue salju, kembang loyang, nastar, terakhir mungkin kacang goreng. Tak semua orang datang dengan sekotak makanan, tapi semua kebagian mencicipi. Tentu bukan karena mujizat “lima roti dan dua ikan,” melainkan karena setiap orang hanya mengambil sedikit.

Melihatku tak menyuguhkan apa-apa, ia minta dibawakan lemang sebagai pengganti. Kuiyakan, meski kalian tahu aku jarang sekali menepati janji. Di Poriaha ada tukang lemang kesohor, nah, ia hanya mau dibelikan dari sana.

Berbulan-bulan setelahnya, lemang tak kunjung tergenapi. Ia sesekali mengingatkan dengan nada kelewat serius meski aku tahu ia bercanda. ”Permintaan dari dalam ini..” begitu katanya yang hampir selalu kujawab “Iya Pak, nanti..”

Setiap kali lewat depan rumah sang penjual lemang, satu-satunya ingatan yang muncul adalah janji yang tak kuniatkan untuk digenapi. Dulu ada banyak sekali kesempatan itu.

Tidak ada komentar: