Orang Batak selama hidupnya, seakan tak bisa lepas dari dekap tradisi. Sejak lahir hingga kembali ke asal mula
segenap manusia, tradisi selalu punya alasan untuk mengada dalam diri setiap
orang. Senang dan sedih, baik dan buruk, hidup dan mati, adalah pengalaman hidup
yang ditanggapi serius oleh nenek moyang orang Batak. Cara pandang mereka
menyikapi fenomena didasarkan pada nomena, yakni kepercayaan akan campur tangan
penguasa alam semesta dan roh-roh dalam dunia, terhadap kehidupan yang sedang berlangsung.
Tradisi
dapat bersifat rutin maupun situasional. Upacara manabur boni (menabur benih) dan mangallang horbo bius (mempersembahkan kerbau sebelum musim tanam)
merupakan tradisi rutin, sementara upacara mangindo
udan (meminta hujan) dan mangallang
hambing puti atau babi ambat, adalah
tradisi yang masing-masing dilangsungkan saat kemarau panjang dan penyakit
menular menyerang desa.
Wabah
penyakit merupakan bencana besar bagi suatu kelompok masyarakat. Bukan hanya
membatasi aktivitas penderitanya, dalam budaya Batak wabah diartikan sebagai kekalahan
Raja Toba [1]
berjudi melawan Raja Ijau [2].
Pihak pemenang berhak membunuh penduduk lewat penyakit, dan ini dilakukan oleh
bala tentara berupa roh, begu (hantu),
dan setan-setan jahat. Upacara
diperlukan untuk menghalau para pembawa penyakit dan memohon perlindungan bagi
seluruh warga desa, inilah yang disebut upacara mangallang hambing puti (memakan kambing putih) atau mangallang babi ambat (memakan babi
penghambat).
Upacara
mangallang hambing puti dilakukan
jika wabah sudah menyebar dan penduduk sudah jatuh sakit, sementara mangallang babi ambat merupakan
pencegahan/penolak bala sebelum wabah menyerang desa (masih berada di desa
lain). Pelaksanaan keduanya hampir sama, hanya berbeda soal tujaun dan jenis
hewan yang dikorbankan. Pemimpin desa (Raja Huta), datu (dukun/pemimpin spiritual), dan seluruh warga terlibat dalam
upacara ini.
Upacara ini
hanya berlangsung jika desa terserang wabah penyakit, biasanya rojan sibumbung (kolera) dan nge-nge (cacar). Para penatua desa
lantas memimpin tahapan upacara sebagai berikut:
1) Marsungkun, berkumpulnya para pemimpin desa demi menanyakan penyebab
penyakit pada datu (dukun). Setelah diputuskan akan dilaksanakan upacara,
dipilihlah hari yang tepat sesuai parhalaan
(kalender Batak).
2) Marhara, pemberitahuan kepada warga pelaksanaan upacara, menjadi
tugas parhara (pasuruh raja desa).
3) Martabar-tabar, mengusir roh-roh jahat yang membawa wabah. Semua warga
dewasa, laki-laki dan perempuan keluar rumah sekitar pukul 20.00-21.00. Mereka
menggedor pintu dan dinding rumah meneriakkan, “tabar.. tabar.. tabar..” sambil memukul kaleng-kaleng. Roh
penyebar penyakit diyakini akan terusik lalu pergi demi mendengar keributan
tersebut.
4) Mananti, memberitahukan kepada Mula
Jadi na Bolon [3]
dan para sombaon (roh keramat)
bahwa akan diadakan upacara. Pihak Raja
Huta menyediakan sumpit, berisi
beras putih, sirih, dan telur ayam. Disiapkan pula sehelai ulos (kain tenun Batak).
Inilah persembahan yang disampaikan oleh Raja Huta sambil mengucapkan:
“On ma parboa-boaan nami ompung, Inilah pemberitahuan kami wahai leluhur,
dinalaho pasahathon hambing puti. yang akan menyampaikan kambing putih.
Asa puti sohaliapan, puti so habubuhan. Agar putih murni dan suci.
Marsogot diparnangkok ni mataniari.” Besok saat naiknya matahari.
- Mula Jadi na Bolon,
- Boras Pati ni Ruma (roh penjaga rumah),
- Boras Pati ni Tano (dewa penguasa tanah),
- Saniang Naga (dewa penguasa air),
- Bona-bona ni Huta (roh para pembuka desa),
- Si Tuan Habonarah ni Huta (keramat penjaga kebenaran dan keadilan desa),
- Junjungan ni Huta (keramat pujaan desa),
Sombaon ni Humaliang (keramat desa-desa tetangga).Sementara di rumah masing-masing, warga melaksanakan prosesi yang sama, dengan persembahan adalah kue-kue dari tepung beras, yang dibuat berwarna putih [4] dan kuning [5].
5)
Pasahathon Pelean, mempersembahkan hewan upacara. Kambing atau babi dibawa ke
halaman desa untuk disembelih. Bagian tubuh seperti rahang bawah, kepala, ekor,
leher, dan hati, disisihkan untuk dimasak secara utuh. Sementara sisanya dimasak
di tempat lain. Susunan makanan persembahan adalah sebagai berikut: di atas
piring, nasi putih dan kuning diposisikan terpisah, di atasnya ditempatkan
bagian hewan yang dikhususkan. Di sisi kiri diletakkan kue, air penepung tawar
(jeruk purut dan dua jenis rumput), dan daun beringin. Makanan persembahan
ditempatkan di tengah altar. Raja Huta atau
datu kemudian mengucapkan tanggo berikut:
“Hu tonggo ma da omping Mula Jadi na Bolon, Kuundang Mula Jadi na Bolon,
on ma ompung pangelehan nami. Inilah hai leluhur permohonan kami
Sitompion na godang dohot runang marata, Kue yang banyak, dan daun beringin
dohot indahan na porngis, dohot hambing puti, dengan nasi keras dan kambing putih
asa puti ma tutu sohaliapan puti so habubuhan, agar putih murni dan putih suci.
dohot napuran tiar, asa tiar ma bahen, Juga sirih, agar terang kau buat
saluhutna namet-met dohot magodang, yang kecil dan yang besar.
asa lae ma roham, lambok pusu-pusum. Agar murah hatimu, lembut hatimu.
Ooo.. looo.. i.. ompung..” Kabulll.. kan.. lah.. hai leluhur.
- Ompu Raja Ijau,
- Ompu Raja Itoba (raja Toba),
- Boras Pati ni Tano,
- Saniang Naga,
- Bona-bona ni Huta,
- Si Tuan Habonaran ni Huta,
- Junjungan ni Huta,
- Sombaon na Humaliang, dan
- Sahala ni Daompung (arwah nenek moyang).
Makanan yang sudah dipersembahkan kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh
warga. Setiap rumah, parit, dan bagian-bagian penting di desa, pun harus
diperciki air (merinjis), sebagai penutup upacara.
Orientasi terhadap Sistem Budaya
Sistem Kepercayaan
Orang Batak (hingga sekarang) meyakini adanya ikatan antara manusia yang
hidup, dengan roh-roh nenek moyang dan roh dari alam lain. Keterikatan ini demikian
kuat dihidupi dan tercermin melalui tradisi yang mengakar dalam, termasuk
ketika agama mulai berkembang di tanah Batak. Upacara mangallang hambing puti dan babi ambat merupakan salah satu contoh
keyakinan ini. Manusia adalah pihak yang penuh kelemahan dan tidak lepas dari
sakit penyakit, namun ada leluhur dan roh penguasa yang dapat dimintai berkat
untuk melepaskan manusia dari penderitaannya. Berkat baru akan diberikan jika
dilangsungkan upacara tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula. Setiap tahap
bermakna dan setiap detail tidak boleh diabaikan, di sanalah letak kesakralan
suatu upacara tradisi.
Konsep Seni
Tradisi kolektif agaknya paling banyak didapati dalam kehidupan budaya
masyarakat Batak. Upacara misalnya, hanya dapat dilakukan jika pihak-pihak yang
terlibat berperan sesuai ketentuan, jika persembahan (jenis, warna, dan sumber),
sesuai dengan kebiasaan, jika tonggo diucapkan
sebagaimana mestinya. Keterlibatan semua pihak menentukan kelangsungan upacara
berbasis tradisi ini. Meski beberapa tradisi ditulis dalam catatan, namun
banyak lainnya hanya diwariskan dari mulut ke mulut atau melihat langsung
prosesi tersebut berlangsung. Tidak ada upaya signifikan masyakarat adat Batak
untuk melestarikan tradisinya, terlebih di tengah gempuran globalisasi.
Berbagai tradisi lokal sudah dilupakan dan tinggal kenangan dalam ingatan renta
pada tetua desa, yang sebentar akan jadi leluhur.
Nilai Seni
Upacara tradisi dalam fungsinya sebagai seni mengandung nilai teknis,
estetis, dan pesan. Manggallang hambing
puti dan babi ambat berlangsung dalam urutan teknis pasti yang tidak dapat
ditawar-tawar, mulai dari penentuan tanggal pelaksanaan, lokasi upacara,
kualitas hewan dan makanan persembahan, dan perlengkapan lain. Setiap langkah
bernilai dan berpengaruh terhadap keseluruhan upacara. Nilai estetis terlihat dalam
penyusunan makanan dalam komposisi tertentu, baik menurut warna maupun posisi.
Pengucapan tonggo juga sangat menarik
karena terdengar sangat puitis berkat diksi (pemilihan kata) yang indah, di
samping juga bermakna mendalam. Putih kambing misalnya, dijadikan simbol
manusia yang putih murni dan suci. Sementara nilai pesan mengalir sepanjang
upacara, tentang bagaimana berkorban untuk kebaikan seluruh desa, bekerja sama,
merendahkan diri, disiplin dan keteraturan, serta harmonisasi manusia, alam,
dan seluruh semesta.
Dalam segala hal yang terlibat dalam upacara (baik benda maupun manusia),
terdapat simbol yang dapat diartikan sebagai kesatuan berlangsungnya upacara. Prinsip
“bentuk mengikuti fungsi”, dapat pula telusuri dalam upacara menolak wabah ini,
antara lain:
1) Kaleng-kaleng yang dibunyikan untuk mengusir roh jahat. Suara ribut
merupakan hasil (fungsi) yang diharapkan dari bentuk dan pemanfaatan kaleng.
Karena mengharapkan kegaduhan, besar kemungkinan irama tidak begitu
diperhatikan selama kegiatan ini berlangsung.
2) Kambing putih atau dalam keadaan genting, kambing tidak putih pun dapat
diwarnai putih dengan kapur. Hal terpenting adalah warna, bukan ukuran atau
umur hewan persembahan, sebab putih diyakini sebagai cerminan kesucian. Fungsi
sebagai simbol inilah yang paling penting dari seekor kambing putih.
3) Daun sipilit (sejenis rumput),
difungsikan sebagai pemercik air karena bentuknya yang memanjang dan bagus
untuk memercikkan air. Merupakan perlambang pengusir/pengalir penyebab
penyakit.
4) Ulos, merupakan
kain sakral dalam hampir semua upacara orang Batak. Biasanya dikenakan di bahu
sebagai lambang berkat dan penyertaan leluhur.
5) Rudang marata atau daun beringin yang masih hijau, merupakan perlambang kemakmuran.
Beringin ketika berukuran besar, akan menjadi rumah bagi banyak makhluk hidup,
dan kerindangannya memberi kesejukan bagi manusia. Kenyataan (bentuk) inilah
yang direspon orang Batak sebagai bagian dari upacara (fungsi).
Mengingat pengertian estetika dalam pemikiran Jakob Sumardjo, yakni mempersoalkan
hakikat keindahan alam dan karya seni, maka upacara mangallang hambing puti dan babi ambat, merupakan
kebudayaan tidak benda yang bukan hanya sebagai ekspresi (seni) orang Batak,
juga representasi cara pandang dan sikap terhadap fenomena yang ada. Upacara
tersebut tergolong wajah kesenian tradisi karena merupakan eskpresi jiwa yang
tidak hanya menjadi milik perorangan, melainkan milik segenap masyarakat Batak.
Masalah yang kerap menyerang tradisi berbasis keyakinan
semacam ini adalah nilai-nilai mutlak dalam agama. Bangsa Batak yang awalnya
percaya pada Mula Jadi na Bolon sebagai
kausa prima, lantas dihadapkan pada berbagai agama pendatang yang secara
sporadis “menyingkirkan” upacara semacam ini karena dianggap menyimpang bahkan
merupakan dosa. Di sinilah pandangan sebagai manusia yang berakar dalam budaya
lokal dan berpikir global diperlukan, demi menjamin kelestarian seni indah
upacara mangallang hambing puti dan babi
ambat di tanah Batak nan permai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar