Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Senin, 02 Mei 2016

Kampungku

Betapa rindu aku pada kampung halamanku. Tempat kelahiran yang selalu timbulkan hasrat kembali tatkala mengenangnya. Harum sekali, membikin candu dalam setiap garis sejarahnya. Kampung sederhana, tanpa gedung-gedung pencakar langit seperti bertabur di Jakarta raya Kampungku tak kenal saling menikung, seperti lazim di masyarakat mengaku modern namun gamang soal cara bersopan-santun. Kampungku kebanggaanku, sekali selamanya hingga hayat kesudahan.

Lama sudah aku meninggalkannya. Rona di sekujur bibir yang menggeluyuti tatkala pagi menjelang. Hendak lantang berteriak mengundangnya berkunjung lagi, ke sini ke jiwaku. Sekali lagi saja supaya rindu ini terobati. Layaknya jampi di muncung berbusa sang dukun sakti. Pulangkan aku, walau sedetik tak mengapalah. Asalkan tuntas walau sekejap bukan jadi harga terlalu mahal bagiku.

Kampungku nan permai. Lingkungannya asri tiada dua di seluruh jagad. Darinya aku belajar menyukuri tiap inci kesusahan yang bersanding manis dengan kemudahan. Darinya aku mengerti tentang mencintai tanpa permisi. Menyakitkan memang, namun selalu ada alasan untuk tidak berhenti bersenang-senang menghuni bumi. Darinya aku memahami pahitnya setia yang sia-sia. Menggetirkan sungguh, namun inilah hidup. Penuh intrik tanpa kenal saudara sebangsa apalagi semarga.

Kampungku kelewat lekat dalam ingatan penikmatnya. Terpikat teramat dalam aku pada pesona yang ia tawarkan dalam senyum simpul. Kecamuk di dada tak mampu menanggung derita serupa ini sebentar lagi saja. Dapatkah aku meminta jeda? Kembalikan aku ke pelukan hangat kampung halamanku. Aku hendak diayun lagi di pangkuannya yang tenangkan batin. Mendengar jelas-jelas suara jangkrik penghibur malam melantunkan nada-nada ceria. Luasnya langit kelam bersedia menjadi kanvas lukis bagi imajinasi tingkat semesta dalam otak kanan. Hembusan angin sepoi menghantarkan diri pada mimpi dengan sekelumit aksara asing tak terterima logika. Heran membuncah dibuat akal yang belum juga mampu memberi petunjuk.

Aku bingung dalam sendiri lantas kembali terkenang akan kampungku. Kota-kota sarat misteri, namanya aneh-aneh membikin risau tak karuan. Segala di dalam kota terlihat seperti tentakel gelap yang kian jauh dari terang surya. Mereka penuh tipu daya membingungkan, inikah yang kamus besar beri istilah “globalisasi”. Topeng-topeng terdramatisir yang eloknya sempat membuat terpana. Ketika sadar, rupanya semua sebatas ilusi tak berprasangka baik. Tak lagi ada kata untuk dituliskan bersama air mata ini. Cukup sudah kejatuhanku, kembalikan jerih lelahku yang tercecer percuma ditelan kota mati kebanggaan peradaban ini! Jangan harapkan aku mengutuk kampungku demi rasa ibamu. Jangan harap, haram itu bagiku.


Kepulan asap yang menyentuh pelataran langit ketika sore menjadi kawan. Ketahuilah bahwa napas kampungku takkan terhalau diusap zaman tanpa persahabatan ini. Kampungku akan selalu baik-baik saja. Kubawa namanya dalam doa yang syahdu setiap kali menarik udara keluar-masuk paru-paru. Tuhan berjanji menjadi nomor satu dalam memberkatinya. Selamat malam kampungku, selamat beristirahat untuk mengumpulkan tenaga buat esok mencangkul persawahan kita lagi. Sampai jumpa secepatnya, titip salam buat semua mahkluk.

Tidak ada komentar: