Betapa rindu aku pada kampung halamanku. Tempat
kelahiran yang selalu timbulkan hasrat kembali tatkala mengenangnya. Harum
sekali, membikin candu dalam setiap garis sejarahnya. Kampung sederhana,
tanpa gedung-gedung pencakar langit seperti bertabur di Jakarta raya Kampungku tak kenal saling menikung, seperti lazim di masyarakat mengaku
modern namun gamang soal cara bersopan-santun. Kampungku kebanggaanku,
sekali selamanya hingga hayat kesudahan.
Lama sudah aku meninggalkannya. Rona di sekujur
bibir yang menggeluyuti tatkala pagi menjelang. Hendak lantang berteriak mengundangnya berkunjung lagi, ke sini ke jiwaku. Sekali lagi saja supaya rindu
ini terobati. Layaknya jampi di muncung berbusa sang dukun sakti.
Pulangkan aku, walau sedetik tak mengapalah. Asalkan tuntas walau sekejap bukan
jadi harga terlalu mahal bagiku.
Kampungku nan permai. Lingkungannya asri tiada dua di seluruh jagad. Darinya aku belajar menyukuri tiap
inci kesusahan yang bersanding manis dengan kemudahan. Darinya aku
mengerti tentang mencintai tanpa permisi. Menyakitkan memang, namun selalu ada
alasan untuk tidak berhenti bersenang-senang menghuni bumi. Darinya
aku memahami pahitnya setia yang sia-sia. Menggetirkan sungguh, namun inilah
hidup. Penuh intrik tanpa kenal saudara sebangsa apalagi semarga.
Kampungku kelewat lekat dalam ingatan penikmatnya.
Terpikat teramat dalam aku pada pesona yang ia tawarkan dalam senyum simpul.
Kecamuk di dada tak mampu menanggung derita serupa ini sebentar lagi saja.
Dapatkah aku meminta jeda? Kembalikan aku ke pelukan hangat kampung halamanku.
Aku hendak diayun lagi di pangkuannya yang tenangkan batin. Mendengar
jelas-jelas suara jangkrik penghibur malam melantunkan nada-nada ceria. Luasnya langit kelam bersedia menjadi kanvas
lukis bagi imajinasi tingkat semesta dalam otak kanan.
Hembusan angin sepoi menghantarkan diri pada mimpi dengan sekelumit
aksara asing tak terterima logika. Heran membuncah dibuat akal yang belum juga
mampu memberi petunjuk.
Aku bingung dalam sendiri lantas kembali terkenang akan
kampungku. Kota-kota sarat misteri, namanya aneh-aneh membikin risau tak
karuan. Segala di dalam kota terlihat seperti tentakel gelap yang kian jauh
dari terang surya. Mereka penuh tipu daya membingungkan, inikah yang kamus
besar beri istilah “globalisasi”. Topeng-topeng terdramatisir yang eloknya
sempat membuat terpana. Ketika sadar, rupanya semua sebatas ilusi tak
berprasangka baik. Tak lagi ada kata untuk dituliskan bersama air mata ini.
Cukup sudah kejatuhanku, kembalikan jerih lelahku yang tercecer percuma ditelan
kota mati kebanggaan peradaban ini! Jangan harapkan aku mengutuk kampungku demi rasa ibamu. Jangan harap, haram itu bagiku.
Kepulan asap yang menyentuh pelataran langit ketika
sore menjadi kawan. Ketahuilah bahwa napas kampungku takkan terhalau diusap
zaman tanpa persahabatan ini. Kampungku akan selalu baik-baik saja. Kubawa
namanya dalam doa yang syahdu setiap kali menarik udara keluar-masuk paru-paru.
Tuhan berjanji menjadi nomor satu dalam memberkatinya. Selamat malam kampungku,
selamat beristirahat untuk mengumpulkan tenaga buat esok mencangkul persawahan kita lagi. Sampai jumpa secepatnya, titip salam buat semua mahkluk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar