Programa Hitam Putih
TRANS7 menayangkan talkshow
berdurasi satu setengah jam ini setiap Senin hingga Jumat pukul 18.00 WIB.
Deddy Corbuzier sang pembawa acara didampingi Chika Jessica, memandu para
bintang tamu berbincang dalam suasana yang dibangun santai. Deddy selalu
mengenakan setelan jas hitam sementara Chika variatif dengan beraneka model dan
warna pakaian.
Waktu penayangan yang termasuk dalam jam tayang utama
(prime time), memungkinkan programa ini ditonton oleh berbagai kalangan
masyarakat. Namun jika dinilai dari konten yang ditawarkan, Hitam Putih
ditujukan bagi penonton usia remaja hingga dewasa. Sayangnya,
selama penayangan tidak dicantumkan klasifikasi penonton ini, sehingga peran
orang tua menjadi lebih krusial sebagai pengawas bagi anak-anak mereka.
Tema Hitam Putih
Bintang tamu yang dihadirkan dalam programa ini tidak
terbatas pada figur-figur publik seperti selebritis, melainkan orang-orang dari
berbagai jenis profesi dan latar belakang. Sehingga tidak jarang dijumpai,
mereka yang menjadi narasumber adalah veteran, pelukis, pengusaha, penemu muda,
politisi, penderita penyakit tertentu, mahasiswa. Hal senada yang (hampir
selalu) bisa kita temukan dalam diri para narasumber adalah: inspirasi.
Tema yang diangkat terbilang sederhana dan humanis. Beberapa
kali menyoal berita-berita terhangat (fenomenal), namun jamak pula menghadirkan
tema di luar perbincangan khalayak umum. Kedua pembawa acara akan menyampaikan
beberapa pertanyaan (yang sudah disiapkan sebelumnya) kepada narasumber. Dari
satu pertanyaan bisa muncul perntanyaan-pertanyaan lain yang seringkali spontan
hingga terkesan kurang sopan (sarkasme[1]).
Menyusur Makna di Balik Tanya dan Tanda
Sebagai programa gelar wicara, Hitam Putih menumpukan
kekuatannya pada konten percakapan antara pembawa acara dan narasumber. Karena
memang hanya berisi lempar-tangkap kata-kata, maka penonton akan sangat
memperhatikan alur percakapan. Membandingkan Hitam Putih dengan beraneka
programa lain, yang sering memadankan talkshow
dengan pertunjukan musik misalnya, mengharuskan programa ini betul-betul
siap membawakan konten menarik.
Hitam Putih sebagai karya audio-visual, tidak dapat
tidak dikaitkan dengan asal usulnya, yakni seni. Programa ini memadukan seni
rekam, pertunjukan, sastra, desain, dekorasi, dll. Kesatuan semua unsur
tersebut merupakan sepaket pesan yang hendak disampaikan pembuat programa
kepada penontonnya. Lantas apa makna yang dapat ditelusiri dari penayangan
Hitam Putih?
Episode tertanggal 17 April 2016 bertajuk “Meme Artis
Cantik” dijadikan sampel untuk membahas makna di balik programa ini. Chelsea
Islan dihadirkan sejak segmen pertama sebagai narasumber, lantaran beredar
luasnya meme tentang dirinya di media sosial. Dua rekannya dalam salah satu
film yang ia bintangi juga dihadirkan di segmen-segmen kemudian. Pertanyaan
yang muncul kemudian adalah, “apa manfaat membahas meme bagi penonton?”,
“mengapa tema ini yang diangkat?”, “apakah semua penonton mendapat manfaat yang
sama dari episode tersebut?”
Hitam Putih tampak konsisten menghadirkan talkshow yang mengangkat nilai-nilai
positif dari seseorang atau sekelompok orang untuk dijadikan inspirasi bagi
penonton. Melalui pertanyaan pembawa acara, narasumber akan digiring untuk
“menampilkan” dirinya yang sebenarnya, tanpa rupa-rupa pencitraan bahkan kesan-kesan
menggurui. Sementara cerita berlangsung, penonton berperan sebagai pendengar
yang sadar atau tidak merupakan penerima pesan meski tidak terlibat dalam
komunikasi di antara kedua pihak di layar televisi.
Sebagaimana dijelaskan di awal, programa ini meletakkan
kekuatannya pada konten percakapan. Deddy Corbuzier selalu tampak penasaran
untuk membongkar cerita yang dimiliki bintang tamunya. Satu pertanyaan pembuka
darinya bisa terus berlanjut dan menghasilkan jawaban-jawaban tidak terduga
dari pihak yang ditanyai. Dalam seni berkomunikasi, keadaan ini bisa
menguntungkan bisa pula merugikan. Menguntungkan bagi pihak yang membutuhkan
informasi, namun bisa jadi merugikan bagi pemberi informasi karena tidak lagi
berotoritas penuh atas informasi yang disampaikannya.
Dua sisi mata pisau di atas, seringkali menjadi alasan
berbagai pihak memuji dan mencibir Hitam Putih. Memuji karena penonton
disuguhkan berbagai informasi yang tidak hanya kulit luarnya saja, namun
mencibir lantaran terkesan tidak menghormati privasi lawan bicara. Deddy bahkan
sering disebut tidak sopan karena
pertanyaan pun komentarnya yang spontan memojokkan narasumber.
Penonton dalam hal ini sudah seharusnya bijak memilih
sendiri dalam kepala dan nuraninya, mana perkara yang memang bermanfaat mana
yang hanya harus dibiarkan berlalu. Selama menyaksikan programa ini memang
banyak hal bisa dijadikan pelajaran, utamanya dari “kesaksian” para narasumber,
apa yang menjadikan mereka diundang ke Hitam Putih adalah pelajaran paling
berharga dari kehadiran bintang tamu.
Deddy Corbuzier akan membacakan beberapa kalimat
inspiratif di akhir programa, biasanya merangkum seluruh segmen dalam kalimat
yang mudah dipahami. Jika diperhatikan dengan serius, Hitam Putih memberi
banyak pelajaran khususnya berkat kehadiran narasumber dan kemampuan pembawa
acara me
Para pembawa acara hadir dalam karakter berbeda namun
saling melengkapi. Deddy tampil sebagai sosok dengan kejujuran, kelugasan, kecerdasan,
ketegasan, dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Ia mampu menangani semua
karakter narasumber dan menemukan sari penting percakapan dengan mereka untuk
dibagikan kepada penonton. Sementara Chika dengan pembawaannya yang sederhana,
atraktif, dan humoris, mampu mengimbangi karakter Deddy.
Pakaian yang dikenakan Deddy dan bagaimana ia
menampilkan dirinya, dapat dibaca sebagai upaya mengemas pembawa acara Hitam
Putih ini sebagai sosok yang berkarakter kuat dan “berkuasa” selama tayangan
berlangsung. Sementara Chika yang berpenampilan ceria dan cerah, menghadirkan
suasana yang santai dan sering memancing Deddy menampilkan sisi humorisnya
pula. Para narasumber yang hadir hampir selalu datang dengan pakaian sesuai
profesinya. Tampak tidak ada upaya untuk menjadikan bintang tamu sebagai
orang-orang yang seragam, melainkan orang-orang dengan karakter masing-masing,
yang dibawa ke panggung Hitam Putih sebagaimana kesehariannya.
Penataan panggung juga dapat dihapami sebagai upaya
yang secara sadar dibuat untuk mengarahkan penonton dan pengisi acara untuk
berbincang dengan santai. Ruangan dirancang sebagai ruang tamu, disediakan sofa
merah untuk Deddy sebagai point of interest berkat warna mencoloknya, dan
sofa biru untuk tamu, dan meja putih. Dihadirkan pula piano di sisi kanan dan
layar besar persis di tengah ruangan. Sebuah karpet lingkaran dengan kursi tamu
berada di tengah mengimbangi perhatian penonton kepada bintang tamu.
Secara umum, makna yang ditangkap paling jelas dari
programa Hitam Putih ada pada konten komunikasi antara pembawa acara dan
narasumber. Pakaian yang dikenakan, ingar-bingar penataan panggung, hingga
kehadiran penonton di lokasi terkesan sebagai unsur-unsur pelengkap dan tidak
esensial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar