
Sibolga hanya satu kota kecil yang bahkan untuk menemukannya di peta Indonesia perlu kecermatan setara mengerjakan soal olimpiade lompat indah (eh?). Lahir dan beberapa kali setahun menghabiskan liburan di sana, tentu Sibolga hampir kehabisan pesonanya di mataku. Hingga tiba-tiba, aku menemukan keempatnya berkat sekolah sejauh dua jam dari rumah.
Awalnya hanya Tuhan yang tahu untuk apa kami bersua dan bersama. Segenap rumit dan sederhana pertemuan itu agaknya didramatisir sendiri oleh pemilik tangan tersembunyi. Dan jujur saja, pun aku belum begitu yakin telah mengerti selain satu hal: untuk membuatku merindukan mereka. Ah, siapalah aku hingga diberi karunia semacam ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar