![]() |
| Perjalanan ke Tarutung |
Minggu menjelang sore, biasa ia habiskan bersama teman-teman sekampungnya. Poriaha sering mereka tuju dengan barisan motor untuk sekedar menghabiskan akhir pekan di lapo tuak[1] milik keluarga Ros.
Ketika tiba waktu memesan, Tasi hanya memilih teh tanpa es sehingga sering jadi bahan godaan. Meski bergaul akrab dengan para peminum, ia tak lantas ikut-ikutan mabuk. Bersahabat dengan perokok, ia nyaman saja dan tak membuat jarak. Tanpa diduga, orang-orang merasa diterima berkat perlakuannya.
Lantaran kebiasaan yang sudah menempel lekat-lekat itu, ia pernah diisengi dengan mencampurkan alkohol ke dalam minumannya. Charles, pencerita kejadian ini, tertawa geli mengingat perbuatan mereka.
Icank saban Minggu menerima pertanyaan hendak pergi ke mana darinya. Sekalipun sedang ada kencan, ia tetap menyempatkan diri bergabung dengan yang lain. Jika berjanji datang, ia pasti datang.
Jiwa bertualang yang sejak kecil dipelihara masih mendapat ruang di sela rutinitasnya. Dalam sebuah kesempatan, ia bersama sepuluhan teman mengadakan perjalanan yang mereka sebut touring menuju Tarutung. Melewati jalur sepeda berpuluh tahun silam yang kini mereka jelajahi dengan motor.
Jika dengan sahabat kita bebas bercerita tentang apa saja, Tasi malah membuat semacam pembagian jatah curhat. Ada yang kebagian cerita pribadi, ada pula khusus pekerjaan, bahkan tak sedikit yang hanya diberitahu hal-hal sepele saja. Mengajak makan adalah ritual rutin sebelum ia bercerita panjang lebar.
Lantas bagaimana ketika gilirannya jadi pendengar cerita? “Sering bukan jalan buat yang lain”, kenang teman-temannya lantaran Tasi banyak membantu, mulai dari memberi nasihat, koneksi dengan pihak lain, hingga pinjaman uang. Namun di lain kesempatan, ia malah tertidur pulas di kursi padahal sedang diajak cerita.
[1] Warung minum tuak (air sadapan mayang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar