"Nga Adong Be Begu di Son"
Rumah adalah dari mana segala sesuatu bermula, kehidupan seorang anak mengakar dari sini. Tak peduli jenis keluarga yang kita dikaruniai untuk memiliki, jejak-jejak rumah mengikuti meski kemudian merantau jauh bahkan pindah rumah.
Tasi tinggal bersama Ibu dan Septri, abangnya yang digelari Balang. Sementara saudara lainnya pergi merantau bahkan sejak remaja, membangun bukan hanya kehidupan pribadi namun juga keluarga. Sesekali mereka pulang bersama anak-anak, membikin ramai suasana rumah yang biasa sepi.
Tak banyak percakapan berlangsung antarketiganya. Tasi disebut jarang berada di rumah, dan kalau pun ada tak lantas dibarengi obrolan-obrolan intens.
“Nggak pernah cerita apa-apa”, tutur sang Ibu dengan raut yakin. Dengan kata lain, banyak aktivitas luar rumah Tasi yang luput dari pengetahuannya.
Sepulang mengajar, Tasi biasa makan siang sambil menonton televisi, lantas bertandang sebentar ke lapo. Di sore hari, ia keluar lagi untuk mengajar atau berolahraga. Menjelang malam sudah kembali ke rumah, mandi ke pancur, makan, sesekali ke lapo lagi, untuk kemudian tidur pukul sepuluh atau sebelas. Keesokan paginya ia bangun pukul lima, membantu sang Ibu menyiapkan jualan lalu bersiap kembali bekerja. Hampir saban hari demikian membuat seisi rumah hapal bahkan terbiasa.
“Gulai, mangga, rambutan, langsat..” jawab sang Ibu menyoal makanan kesukaan anaknya. Tasi terbilang tak banyak syarat soal makanan, selera makannya pun cukup baik.
Ia menyuci dan menyetrika pakaiannya sendiri, yang seturut ingatan keluarga, bersih sekaligus rapi sekali. “Dia pande [1] ngambil hati orang tua,” tutur sang Ibu mengenang.
“Dia paling nggak suka orang pembohong,” ungkap Septri. Pasalnya ia pernah kena semprot sang adik lantaran lalai mengembalikan sisa pembelian cat. Bahkan, ketika (entah sengaja atau tidak) mengambil sejumlah uang yang tergeletak di rumah, ia kembali disindir.
“Nga adong be begu di son [2],” ucap Henry menirukan pernyataan Tasi pada Septri.
Ia dikenal sebagai pribadi spontan. Tanggapannya terhadap suatu keadaan bahkan sering tidak terduga. Seperti pada suatu malam, tanpa rencana ia mengajak abangnya Henry ke pasar makan nasi goreng.
Ketika mendapat kunjungan dari para keponakan, ia bisa tiba-tiba saja mengajak mereka keluar. Berkendara motor dengan dua atau tiga anak di boncengan. Di lain kesempatan ia pulang membawa makanan untuk mereka. Bagi keluarga, demikianlah cara Tasi menunjukkan perhatiannya.
Sering mendapat tugas kerja ke luar Sibolga, ia tak alpa membawa pulang buah tangan. Henry pernah mendapat sepasang pakaian olahraga berupa celana kuning dan kaos hitam dari Medan. Meski diliputi rasa heran lantaran baru sekali diberi barang serupa, ia menerima dengan gembira.
[1] Udah ada hantu di sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar