“Tersenyumlah menghadapi setiap masalah
dan serahkan semua pada-Nya.”
Prestasi Pandiangan, 28 November 2010
Setiap perjumpaan −kebanyakan tidak terduga− dengannya selalu berarti menerima satu senyuman hangat yang khas. Di mana dan kapan pun bertemu, ia pasti melempar senyum. Sibolga yang sedemikian sempit tentu memberi banyak peluang untuk semakin sering bertemu di luar jam olahraga.
Suatu sore ketika sedang menunggu angkot di pinggir jalan dekat sekolah. Aku dan seorang teman berbincang ringan sebelum menyadari ia datang dengan sepeda ontel keemasan yang kelihatan ringkas dikendarai. Mungkin ia baru dari lapangan Simare-mare, lari seperti biasa.
“Hei..” ia menyapa seraya memandang ke arah kami. Garis melengkung di bibirnya masih menempel hingga badannya berbalik mengikuti jalur kendaraan lalu kian jauh. Mereka begitu serasi: ia, senyumnya, dan sepedanya.
Sorta Irma Soraya Sitompul, teman sekolah yang meski mengaku tak begitu dekat dengan Tasi, ingat betul bahwa ia selalu tersenyum dan ramah terhadap semua orang. Penilaian ini diamini oleh Lidya Agnes Natalia, yang menyebut di mana pun bertemu, Tasi selalu menyapa, selalu tersenyum. (Maaf jika kedua pihak namanya disebut tanpa persetujuan. Jika tidak berkenan, mohon sampaikan kritik agar dilakukan penyuntingan. Terima kasih)
Kejadian lain terjadi pada suatu siang yang terik, di lokasi berdekatan. Kami kelas XI, dan kakak kelas sedang menjalani try out (semacam ujian percobaan) untuk kelulusan, sehingga kami dirumahkan lebih awal.
“Baru belanja kalian ya?” terdengar suara khas yang tak lagi asing bagi kami.
Berasal dari becak dayung berpenumpang satu orang di kiri jalan. Ketika melirik ke arah becak, ia sudah memasang senyum. Ia tentu menilai begitu lantaran melihat barang bawaan menempel di kanan kiri kami. Entah ke mana motor yang biasa ia kendarai.
“Duluan bapak ya,” ucapnya lantas berlalu bersama punggung kepanasan abang becak.
Ia mengenakan kemeja berlengan pendek. Mungkin menuju sekolah, jadi salah satu pengawas ujian. Ngomong-ngomong tentang ujian, ia pernah beberapa kali mengawas di kelas kami. Tidak terlalu ketat. Ia bahkan memberi ruang untuk kami bisa melirik kanan-kiri. Ia malah tidur (atau pura-pura tidur) lumayan lama. Sesekali menegur siswa yang “grasak-grusuk”, itu pun sambil bercanda.
Ini memang bukan contoh yang baik dalam pelaksanaan ujian, bukankah para guru biasanya konsisten dengan pernyataan bahwa kejujuran lebih berharga ketimbang nilai seratus? Entah apa yang ia putuskan dalam hati ketika mengizinkan praktik kecurangan itu berlangsung.
Berikut salah satu status bernada kurang bersemangat di beranda Facebook miliknya. Barangkali ditulis ketika mengawas ujian entah di sekolah mana, tertanggal 23 Oktober 2010.
“Hari yg sgt membosankan bg saya mengawas ujian..”
Namun ketika suasana hatinya sedang tak baik, sukar sekali menemukan senyum itu barang segaris saja. Sebab tiba-tiba ia jadi begitu dingin bahkan menakutkan. Kalau sudah begitu, kami maklum saja, “Oh, lagi dapet..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar