Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Rabu, 09 Maret 2016

Kelas Perdana

“Sepuluh dua di mana?” 


Mengajar usai menerima akta IV dari Unimed
Akta IV sebagai salah satu persyaratan mengajar.
Masa-masa awal sejak kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Suasana kelas masih canggung lantaran baru saling kenal. Pelajaran olahraga untuk sementara dibawakan oleh seorang guru tegas berbadan tegap yang minta dipanggil Pak Oo meski beliau bernama lengkap Igil Situmorang. Jujur saja, kami sudah sempat nyaman dengan guru yang satu itu. Katanya, guru yang semestinya mengajar kami masih terbilang muda dan sementara ada urusan ke luar kota. 

Di satu Sabtu menjelang siang, 2 Agustus 2008 (aku ingat karena bersamaan dengan ulang tahun seorang sahabat waktu itu), kelas kami kosong tanpa pelajaran. Bukan lantaran sedang istirahat, namun guru bersangkutan tak kunjung masuk. Seperti yang bisa ditebak, suasana kelas campur aduk. Masing-masing sibuk dengan aktivitas sendiri. 

Di pintu kelas bercat kehijauan, seseorang berbadan relatif pendek (sebagai orang dewasa) berdiri seraya menengok ke dalam. Ia mengenakan safari bernuansa kecoklatan. Ia berbicara kepada dua atau tiga siswi di meja terdepan, tak jelas apa yang mereka percakapkan. Setelah menerima petunjuk jari yang mengarah ke kelas sebelah, ia berlalu. Ternyata menanyakan letak kelas sepuluh dua. 

Gurukah ia? Mengapa baru kali ini kelihatan? Aku ingat betul bagaimana respon teman-teman tadi. Mereka menyukainya. Senyum terkembang ditambah gerakan tangan yang aneh ke sana sini menunjukkan betapa terpesonanya mereka. “Manis” atau “keren”, kalau tak salah itu deskripsi yang mereka sepakati. Kalau dipikir-pikir, apanya yang manis? 


Yang membuat tidak habis pikir adalah, mereka baru melihat dan bercakap selintas, lantas bagaimana mungkin pertemuan tak lebih dari enampuluh detik, bisa memberi gambaran seutuhnya tentang seseorang? Oh, mungkin itulah alasan mengapa remaja disebut ababil. 

Siang harinya, kami tidak bergegas mengenakan pakaian olahraga meski tahu jam berikutnya adalah olahraga, karena telah diberi bocoran oleh kelas sebelah. Ternyata benar, yang datang ke kelas tadi itu guru olahraga (sungguhan) kami. Kelas lumayan kondusif ketika beliau datang. Masih dengan setelan yang tadi, berarti benar takkan ada praktik di lapangan. Kami berdiri, mengucapkan salam lalu kembali duduk. Tidak ada yang istimewa darinya waktu itu selain aroma parfum menyengat. 

Ia mengambil spidol, menuliskan dua kata di papan tulis. Prestasi Pandiangan. Jelas itu nama depan yang tidak biasa. Kemudian 20 April di bawahnya, tentu itu tanggal lahir. Tapi orang yang tidak mencantumkan tahun kelahiran, biasanya lantaran hendak menutupi usia. 

Tulisan selanjutnya tidak jelas kuingat. Tapi ia memberitahu beberapa hal (penting) ketika itu. Seperti pernah bergabung dalam Tim Nasional Hoki, yang bertanding di ASEAN Games Malaysia pada 2001, dan menara kembar petronas. Serta semasa kecil sudah bekerja sebagai penjual koran. Para siswa di kelas memperhatikan dengan seksama. Apa ia bercerita hal yang sama pada semua kelas yang ia ajar? 

Ia membacakan nama masing-masing kami, demi mengisi presensi sekaligus berkenalan. Uniknya, ia tak sekedar membaca, sebab setiap nama dikaitkan dengan hal apa saja yang muncul dalam benaknya. Tawa mengiringi beberapa celotehannya. Tak lupa, dua atau tiga siswi lantas disahkan sebagai pariban[1]. Agaknya, ia hendak menciptakan suasana belajar yang tak kelewat kaku. Setelah keduapuluh nama dibacakan (dan dipertanyakan), kami berlanjut ke materi pelajaran. Bab pertama buku bergambar para atlet itu menyoal bola besar. Ia bertanya satu-persatu jenis bola besar yang kami ketahui (eh? apa ukuran standar menentukan sebuah bola dikatakan besar atau kecil?), lantas benda apa saja yang biasa dijumpai di lapangan sepak bola. Masing-masing memberi jawaban meski tak sedikit yang sekedar mengulang jawaban orang sebelumnya. Kelas Sabtu itu diakhiri dengan pelajaran ini. Biasa saja, kan? 


[1]Istilah kekerabatan istimewa antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Batak.

Tidak ada komentar: