“Enaklah jadi guru”
Prestasi Pandiangan, 2011
Dalam suatu perbincangan lewat telepon, sewaktu aku dan teman-teman seangkatan tengah bersiap menyambut pembukaan pendaftaran masuk perguruan tinggi. Barangkali ini bisa disebut konsultasi, walau sebenarnya aku sudah punya rencana sendiri.
Tasi : “Enaklah jadi guru..”
Aku : “Apa enaknya?”
Tasi : “Enaknya.. bisa membagikan ilmu yang kita dapat. Ada rasa kepuasan tersendiri.“
Aku : “Kenapalah jadi guru bapak?”
Tasi : “Baah.. memang udah takdirnya kayak gitu.”
Aku : “Itu kiannya cita-cita bapak?”
Tasi : “Cita-cita?”
Aku : “Iya..”
Tasi : “Mau jadi tentara kiannya dulu. Ale pagellenghu au.[1]
Tapi itulah mungkin jalan Tuhan itu, kan.. (diam sesaat) Kenapa? Mau jadi guru kau?”
Aku : “Hahaha.. Enggak Pak, nanya aja.”
*Percakapan selebihnya melantur ke mana-mana, sehingga tidak perlu dicantumkan di sini.
Ia secara tertulis menerima gelar SPd alias Sarjana Pendidikan dari Unimed tertanggal 1 Oktober 2004. Di transkrip akhirnya, tertera angka 3,02 sebagai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dan predikat “sangat memuaskan” pasca-tujuh tahun kuliah. Ya, masa kuliahnya
ia tempuh selama tujuh tahun. Lama? Sepertinya sebagian besar orang pun berpendapat serupa, terlebih karena ia tidak sekolah kedokteran. Tapi sudah barang tentu, ia tak ingin pula dicap jadi mahasiswa abadi. Sebut saja karena memang takdirnya mesti demikian. Toh ini pun tak lepas dari pilihan-pilihan yang diputuskannya sendiri.
ia tempuh selama tujuh tahun. Lama? Sepertinya sebagian besar orang pun berpendapat serupa, terlebih karena ia tidak sekolah kedokteran. Tapi sudah barang tentu, ia tak ingin pula dicap jadi mahasiswa abadi. Sebut saja karena memang takdirnya mesti demikian. Toh ini pun tak lepas dari pilihan-pilihan yang diputuskannya sendiri.
Ia membuat banyak pilihan, yang selain menunjukkan kemandirian, kebebasan, juga tanggung jawabnya sebagai pribadi. Ia tentu mengerti resiko dari bergabung di Tim Nasional, Pekan Olahraga Nasional (PON), atau jenis perlombaan lain. Menyita banyak waktu berlatih pun bertanding yang terpaksa mengesampingkan studinya. Tapi harga mahal itu pun tidak mematahkan tekadnya, sebab riwayat panjang pengalaman terbukti memperkaya pemiliknya.
Sang ibu untuk kali pertama menjumpai Tasi ke Medan, ditemani Septri. Hari itu sang Ibu berdandan begitu cantik, kebaya merah melekat manis di badannya. Tentulah ia begitu bangga pada anak bungsunya itu. Mungkin tak sebatas karena ia satu-satunya yang bergelar sarjana, melainkan perjuangan yang harus dimenangkan untuk Tasi sampai ke sana.
Saat-saat seperti itu, mereka ulang rentetan pengalaman sejak ia dikandung, dibesarkan, hingga hari ketika ia diwisuda tentu hanya bisa dihayati oleh sang Ibu. Tasi yang dulu mencarikan daun-daun pembungkus kue, kini sudah dewasa. Ia berdiri gagah sebagai pria muda yang berwibawa. Seakan waktu menyulapnya dalam semalam, Tasi kecil yang dulu rewel malam-malam lantaran kelaparan, sudah tertinggal jauh di lorong kenangan.
Ia kian dekat dengan wasiat sang bapak berpuluh tahun lalu. Semoga tiada keterpaksaan dalam pilihan yang ia buat.
“Anak paling dibanggakan..” begitu sang ibu menjawab tentang siapa Tasi baginya.
Tak ada suara terbata, tak ada jeda panjang untuk merangkai kata-kata manis. Jelas itu adalah kebenaran yang ada dalam hatinya.
2005. Tasi dihadapkan pada dua pilihan sulit, ikut PON di cabang Hoki atau mendaftar jadi pegawai negeri? Setelah berpikir jernih dan panjang, ia putuskan jadi guru saja. Atlet belum merupakan profesi menjanjikan kala itu, bahkan hingga sekarang. Menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bukanlah pilihan mudah bagi sebagian besar orang. Perlu keteguhan hati, dan niat serius untuk menerima tanggung jawab ini. Sebab mereka yang bisa bertahan, hanya mereka yang berhati kuat sejak awal.
Coba pikirkan, para guru diwajibkan mengajarkan anak orang pelajaran yang sama setiap tahunnya. Bukankah itu membosankan? Mengajari mereka yang esok hari mungkin akan lupa berterima kasih. Bukankah itu menyakitkan? Namun itulah resiko yang mesti dimaknai sebagai pemicu semangat. Guru adalah guru. Ia seharusnya sudah mempertimbangkan hal ini ketika mendaftar kuliah.
Mengikuti seleksi penerimaan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia lulus sebagai peringkat dua se-kotamadya Sibolga. Lantas ditempatkan di SMA Negeri 2 Sibolga. Pengakuannya, ia tak membayar sepeser pun untuk kelulusan itu. Praktik kecurangan dalam penerimaan PNS agaknya bukan cerita baru, selain mengesampingkan prinsip keadilan, citra guru sebagai pendidik bahkan sudah dicoreng melalui fenomena ini. Menjadi seorang guru olahraga adalah pilihan, sama halnya dengan bersikap jujur. Semakin panjang rute perjalanan yang ditempuh seseorang, semakin sering pula ia dihadapkan pada pengambilan keputusan. Keputusan tepat yang diambil, mengantarkan seseorang pada kelas lebih tinggi, yang pada gilirannya mendekatkannya pada penyelesaian tugas kehidupan. Namun, benar tidaknya keputusan baru akan kita pahami di masa mendatang. Ketika kita mengerti bahwa masa lalu ternyata jembatan menuju hari ini, hidup memang tentang memilih dan dipilih. Berbahagialah mereka yang memilih dengan berani.
[1]Tapi aku terlalu pendek. (Dibanding saudara-saudaranya, Tasi dan Septri berpostur tubuh paling mirip dengan kedua orang tua mereka.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar