“Bertahun-tahun kemudian, ia tertawa penuh arti
ketika menceritakan dirinya; pengalamannya.”
ketika menceritakan dirinya; pengalamannya.”
Setamat sekolah dasar pada medio Juni 1991, ia melanjut ke SMP Negeri 3 Sibolga. Dari keempat abangnya, ia seorang yang bersekolah di SMP ini. Penuturan salah satu teman, ia ke sana lantaran Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang tak mencukupi untuk ke SMP 2. Sedang dari sang abang, diketahui lantaran ia terlambat mendaftar ke SMP 2.
Sudahlah, perbedaan itu tak perlu jadi soal. Bukankah kereta yang salah pun masih dapat mengantar kita ke stasiun yang tepat? Sekolah ini terletak lumayan jauh dari kediaman mereka waktu itu. Kalau berjalan kaki, barangkali dapat ditempuh selama setengah hingga satu jam.
Tasi remaja makin giat menyukai olahraga, bahkan sudah sering jadi utusan dalam perlombaan di sekolah atau kota. Gelar demi gelar ia peroleh seraya terus berlatih. Jati dirinya makin tajam terasah seiring makin membukitnya pengalaman. Saudara yang lain sebenarnya punya minat yang sama, khususnya terhadap sepak bola, namun sayang tak diseriusi.
Jenis pekerjaan yang sempat ia jajali adalah jadi pengantar koran sejak kelas VIII SMP. Setiap sore ia bersepeda keliling kota, ke rumah-rumah yang berlangganan koran Sinar Indonesia Baru darinya. Jumlah langganannya kira-kira dua puluhan orang. Malu? Sama sekali tidak. Ia mengerjakan pekerjaan itu hingga tamat SMP.
Jenjang pendidikannya berlanjut ke SMA Negeri 1 Sibolga. Jarak ke rumah sudah jauh lebih pendek ketimbang sekolah sebelumnya. Siapa sangka, di sinilah ia bertemu dengan cinta keduanya. Gadis belia seangkatannya yang cantik jelita lagi pandai, Elfrida.
Surat-surat cinta pun mulai dikirimkan lewat perantaraan salah seorang temannya. Namun sayang seribu sayang, tak pernah ada balasan untuk selembar pun dari surat-surat itu. Meski begitu, Tasi belum putus asa. Ia tak lelah memutar otak, mencari cara, walau hanya menemui jalan buntu.
Sungguh, cinta dalam bentuk apa pun adalah kekuatan dahsyat yang bekerja dengan cara-cara misterius. Bagaimana harus kita jelaskan mengapa seseorang bisa jatuh hati? Bukankah ini rahasia alam semesta yang mengiringi perjalanan panjang umat manusia? “Cinta pertama akan membangunkan kesadaran pemuda secara tiba-tiba, dan membuat segalanya berubah,” begitu ujar Kahlil Gibran, sang pujangga.
Bersama teman-teman sekampungnya, ia mendirikan klub sepeda dan diberi nama BBC. Rudolf, salah satu penggagas, mengaku lupa kepanjangan pasti, tapi ada kata Bicycle Club di sana. Perjalanan seru yang pernah mereka adakan adalah ke Aek Raisan. Berangkat dari Sibolga menumpang mobil Opranto, lalu meluncur turun bersepeda kembali ke kota. Menikmati kemegahan alam bersama teman-teman merupakan pengalaman mengesankan.
Anak-anak muda berjiwa petualang yang hidup berdampingan dengan alam semesta. Sejak muda, agaknya mereka sudah tahu bagaimana menikmati hidup. Setibanya di rumah, mereka yang kelaparan kenyang menerima omelan dari orang tua masing-masing. Memang, harus ada harga untuk segala sesuatu, termasuk kegembiraan.
Jam kosong dalam rangkaian jadwal pelajarannya berarti bermain voli atau olahraga lain bersama teman sekelas. Teriknya mentari tak sedikitpun menciutkan semangat anak-anak muda itu, seragam putih mereka lusuh tercampur keringat dan debu. Mereka baru akan berhenti jika ada guru yang bersedia membubarkan. Keesokan harinya, mereka berulah lagi.
Bertahun-tahun kemudian, Tasi tertawa penuh arti ketika menceritakan pengalamannya. Sebab siapa sangka, para guru yang gemar marah-marah itu, lantas akan jadi rekan sekerjanya.
Berbagai pekerjaan tidak tetap lain pun seringkali jadi sumber pendapatan baginya. Salah satunya jadi kuli bangunan, pekerjaan tidak terlalu menyenangkan bagi anak semuda itu. Panas matahari tak lantas membuat semangatnya aus, keringat sebesar biji jagung meluncur satu-satu. Ia tak mengeluhkan keadaan, apa gunanya.
Tasi belum juga berdamai dengan pelajaran hitung-hitungan. Meski begitu, ia yang duduk di kelas IPA 2 itu mengaku pernah mendapat peringkat III entah di kelas berapa. Sebaliknya, hasratnya pada olahraga bertambah besar. Dalam usia yang masih belia, ia bahkan telah dipercaya jadi pelatih tim sepak bola sekolah. Namanya sering terdengar di pentas olahraga kota Sibolga hingga daerah lain.
Dari kemenangan dan kerja serabutan, ia tak perlu lagi minta uang jajan kepada sang Ibu. Bahkan sedikit demi sedikit ia sudah punya tabungan sendiri. Entah dari mana ia memperoleh karakter macam itu. Ia seperti lahir dengan bakat menjadi orang tidak biasa, orang di atas rata-rata.
Hingga lulus SMA, 1997, cintanya pada sang putri tak kunjung bersambut. Ia kehabisan waktu, sementara bangku kuliah telah menanti di depan sana. Tak berapa lama setelah menyelesaikan ujian nasional ia berangkat ke Medan. Mendaftar jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga di Fakultas Pendidikan Ilmu Keolahragaan Unimed (Universitas Negeri Medan). Tanpa tes ia diterima. Perlahan namun pasti wasiat sang Bapak mulai menemukan wujudnya.
Ia tak meminta sepeser pun dari ibunya kala berangkat ke Medan, bahkan tak pula memberi tahu. Tabungannya selama ini dijadikan modal mendaftar ke universitas dan biaya hidup sehari-hari. Ijazah SMA bahkan belum keluar saat ia meninggalkan rumah.
Memulai peran baru sebagai mahasiswa tak membuat kalut atau galau karena kangen rumah. Ia cepat berbaur dengan lingkungan baru. Menghadapi dunia tanpa orang-orang terdekat selama ini. Ia jadi anak kos bersama seorang teman dari kampung, Linto Sihombing. Ke kampus ia berjalan kaki setiap pagi dan makan dengan sistem rantangan (langganan catering).
Selama jadi mahasiswa, tak sekalipun ia mengizinkan ibunya datang berkunjung. Bukan karena tak rindu apalagi tak sayang, ia hanya sungkan merepotkan. Ibunya tentu lelah jika menempuh perjalanan semalaman Sibolga-Medan. Sang Ibu pun terpaksa menekan rindunya dalam-dalam. Menanti waktu paling baik untuk datang menjumpai. Ketika anak-anak beranjak dewasa, Ibu masih mencintai mereka sama banyaknya, jauh atau dekat, di rumah pun di negeri antah barantah.
Beberapa kali ia kembali ke Sibolga lantaran mengikuti turnamen olahraga dari perkumpulan mahasiswa: Ikatan Mahasiswa Sibolga dan Tapanuli Tengah (Ikamasta).
“Dia yang paling sering pulang,” kenang Linto.
Pernah dalam satu kesempatan pulang ke rumah, ia berambut gondrong seperti sedang in masa itu. Segera saja ibunya berang, membuatnya cepat-cepat mengembalikan model rambut ke potongan biasa.
Ia berbuat begitu bukan karena sungguh-sungguh menyukai tren, melainkan hanya untuk bersenang-senang. Model rambutnya dibiarkan belah tengah untuk waktu yang lama, sangat lama bahkan. Ia agaknya merasa nyaman pun percaya diri dengan itu. Di mata teman-temannya, ia sosok yang menaruh perhatian lebih pada perkembangan mode dan penampilan khususnya. Berbagai jenis pakaian, aksesoris atau benda-benda lain menjadi koleksinya.
Berjam-jam tak mengapa ia habiskan untuk berkeliling mall demi menemukan “sesuatu” yang pas di hati. Ini kebiasaan yang lumayan langka di kalangan pria. Sehingga tak mengherankan, jika lemari pakaiannya disesaki bertumpuk perlengkapan. Mungkinkah ia tipe orang yang tak mau keluar rumah dengan penampilan yang itu-itu saja?
Siapa sangka, di perguruan tinggi ia dipertemukan kembali dengan gadis cinta pertamanya. Jurusan yang mereka ambil memang berbeda, namun lantaran tergabung dalam organisasi yang sama (Ikamasta), keduanya jadi sering bertemu. Tasi menjabat sebagai ketua, sementara Elfrida bendahara. Selesai rapat, Tasi kerap menawarkan diri mengantar pulang.
Beberapa kali ia kembali mengutarakan perasaan. Namun sang gadis masih saja teguh pada pendirian. Hingga suatu ketika, entah karena sudah bosan menolak atau jadi benar-benar suka, Elfrida memutuskan menerima cinta Tasi.
Bukan main, Tasi kegirangan. Kawan-kawannya menyoraki tanda ikut bahagia. Akhirnyaaa. Memang waktu yang ia habiskan tak sebentar, usahanya tak sedikit, ditambah penolakan berkali-kali, namun cinta memang selalu layak diperjuangkan.
Tapi ternyata, nyanyian surga itu segera kehilangan nada-nada indahnya. Sebab tak berapa lama, mereka berpisah lantaran kehadiran seorang wanita, yang kemudian bersama Tasi hingga lulus dari perguruan tinggi.
“Playboy dan karena prestasinya,” demikian Linto menjawab ketika ditanya bagaimana Tasi dikenal sewaktu kuliah. Ia setengah tertawa, namun jelas mengisyaratkan kebenaran. Kenangannya jauh berbalik ke masa mereka menumpang di kosan yang sama.
Bagi sebagian orang, playboy mungkin bukan julukan tepat untuk dilekatkan pada Tasi. Namun persahabatan keduanya menjadi garansi bahwa gelar ini tentu beralasan. Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Entah tersembunyi atau terang benderang. Namun seringkali, cinta datang dengan lambat lalu raib terlalu cepat. Yang jelas, cinta (dalam rupa apapun), tak membiarkan kita tetap sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar