Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Rabu, 09 Maret 2016

Tasi Kecil

“Dia harus jadi tentara atau jadi guru,
berprestasi seperti namanya.”
Gurkep



Kisahnya dimulai dari rumah. Kelahirannya dinantikan khusus oleh sang bapak. Selama mengandung, ibunya tak ingat pernah mengidam hal-hal aneh. Semua berlangsung normal hingga hari kelahirannya. Di tahun-tahun pertama dalam hidupnya, ia bahkan tidak mendapat perlakuan istimewa layaknya bungsu kebanyakan. 

Prestasi Mulianto Bintar Pandiangan, meski biasa hanya nama depan dan belakang saja yang ia cantumkan. Ia diberi inisial nama yang sama dengan sang bapak, PMBP, kepanjangan Peter Mula Bisman Pandiangan. Ibunya Dinaria Napitupulu. Lahir pada Jumat, 20 April 1979 di Sibolga, kota kecil di pesisir Sumatera Utara. Ia bungsu dari lima bersaudara, keempat saudaranya laki-laki. Henry Nixon, Neil Amstrong, Harpenas, dan Septri. Untuk selanjutnya dalam buku ini, perkenankan kusebut ia Tasi, nama panggilan di samping Pandi dan Pres.

Bertahun baru ke rumah saudara. 
Tasi si bungsu duduk di tengah.



Keluarga mereka terbilang sederhana, bapaknya mantan tentara yang jadi kepala sekolah dasar. Lantaran profesi itu, sang bapak biasa disapa Gurkep (guru kepala) oleh orang-orang yang mengenalnya. Lantaran penghasilan terbilang kecil, sang ibu menopang biaya hidup keluarga lewat berjualan makanan kecil di kantin sekolah: ketan, mi, dan aneka gorengan. 

Tasi kecil membantu sebisanya. Ia menyediakan daun-daun pembungkus panganan. Bersama Rudolf, Reno, atau sahabatnya yang lain, ia rajin mengitari kaki-kaki bukit demi membawa pulang helai-helai daun. Kaki-kaki kecil nan suka berpetualang. Sebagaimana anak desa kebanyakan, mereka tak takut berkotor-kotor terlebih pada nyamuk yang banyak berkeliaran di hutan. Menjelang sore, dengan bangga meski kelelahan mereka kembali ke rumah. 

Tasi dikenal tak suka bermain di sungai, terlebih mandi di sana. Jika anak sebayanya sedang asyik menenggelamkan diri atau berenang riang di sungai, ia malah pergi tak mau bergabung. Ini kebiasaan yang bahkan tak dipahami oleh teman-teman terdekatnya.

Memasuki masa sekolah, Tasi didaftarkan ke SD 081227 (yang juga dikenal sebagai SD 4) di mana sang bapak bekerja. Status orang tuanya tak lantas membuat Tasi dianakemaskan di sekolah. Ia mengaku tak menyukai pelajaran berhitung, matematika, maunya bermain sepak bola saja. Kedua orang tuanya toh tak menuntut Tasi untuk pandai di semua mata pelajaran. Sang bapak bahkan sering mengajaknya bermain bola di stadion Horas. 

Barangkali terlalu cepat untuk memprediksi kala itu tentang akan jadi apa ia ketika dewasa. Ia mencintai olahraga, sepak bola apalagi. Kakinya lincah sekaligus cepat berlari meski badannya kecil. Bersama saudara atau teman-temannya ia hampir selalu menghabiskan waktu luang dengan permainan menggiring bola itu. Tapi karena banyak pula anak yang menyukai sepak bola, bakat Tasi tampak tak istimewa ketika itu. Philip Carter berpendapat, 

“Bakat adalah tentang seberapa mudah dan cepat 
seseorang dapat belajar di masa depan.” 

Lantaran keasyikan bermain bola, seringkali Tasi meninggalkan tugas rumah. Ia (entah sengaja atau tidak) menelantarkan piring-piring kotor yang memang jadi tanggung jawabnya, abangnya Septri pun ikut-ikutan lalai memasak nasi. Pembagian tugas rumah bagi anak-anak sejak kecil semacam ini jamak dijumpai dalam kebiasaan masyarakat Batak, baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. Tak terhindarkan, si abang sulung, Henry, lantas memberi hukuman kecil. 

Tasi diam saja, tak membela diri, atau berusaha melawan, apalagi mengadu ke orang tua. Barangkali telah menyesal, namun bisa jadi lantaran takut pada si pemberi hukuman. Air mata bahkan tak mengucur dari pelupuknya untuk sekedar mengharapkan rasa iba. Ia terlihat begitu dewasa dengan sikap itu, padahal umurnya masih sangat belia. 

“Aha do tugasmu?”[1] tanya sang abang agak keras kepada dua adiknya yang diganjar berdiri dengan satu kaki. 

“Manucci piring, abang..”[2] jawab Tasi lekas sambil terus tertunduk. 

Setelah diberi beberapa nasihat, ia dan Septri, beranjak mengerjakan tugas masing-masing. Kebiasaan untuk memberi tanggung jawab kepada anak sejak dini patut diteladani. Hal ini jangan dianggap semata-mata pemasungan terhadap masa kecil bahagia anak, melainkan upaya menanamkan disiplin, kerja keras, dan partisipasi dalam keluarga sejak dini. 

Sang Ibu mengaku tak sering marah pada anak bungsunya itu. Kalaupun terjadi, ia anggap wajar saja seperti kebanyakan anak lelaki, misal jika abai melakukan pekerjaan rumah atau bermain bola di tengah hujan. Tak ada kesalahan yang demikian berarti untuk dikenang oleh wanita berambut pendek tersebut. 

25 Juni 1986, ketika duduk di bangku kelas dua, bapaknya meninggal dunia. Penyebabnya penyakit jantung serta umur yang sudah relatif tua. Beliau berpesan khusus untuk Tasi, yang waktu itu tampak tidak sedih ditinggal sang bapak. 

“Sekolahkan dia tinggi-tinggi, sampai kuliah. Dia harus jadi tentara atau jadi guru, berprestasi seperti namanya.” 

Wasiat itu dititipkan lewat sang istri, yang hingga kini (2012) masih ingat betul dengan setiap kata yang diucapkan suaminya. Pesan itu menjadi doa yang tak usang oleh waktu. Dan entah bagaimana, alam semesta pun turut mengamini permintaan terakhir tersebut. Beberapa tahun kemudian, Tasi ikut seleksi tentara yang memang jadi cita-citanya. Namun realita dan harapan tak berjodoh. Lantaran tinggi badan tak mencukupi kriteria, ia gagal dan tak pernah lagi mencoba jadi tentara. 

Sepeninggal suami, sang ibu bersama anak-anaknya pindah dari perumahan sekolah dan mengontrak ke Jalan Huta Batu (di depan rumah mereka sekarang). Tinggal bersama kelima anak lelakinya, sang ibu bekerja lebih keras. Ia tetap berjualan, dengan luasan pasar lebih besar sehingga menjanjikan untung lebih besar. Tasi sesekali mengantar makanan untuk dititipkan di warung-warung, ia pula yang kemudian menjemputnya. 

Wanita memang punya naluri hebat dalam merawat kehidupan, terlebih setelah menjadi seorang Ibu. Dalam usapan lembut tangannya, tersimpan kekuatan dan keberanian, meski kadang dibalut perasaan yang sedemikian rentan terluka. Perempuan berdarah batak, umumnya sudah diberi pengertian tentang menjadi manusia mandiri sejak kecil. Sehingga tidak heran, ketika terpaksa mesti seorang diri mengurus keluarga, Ibu (hampir selalu) mampu bertahan. 

Gaji pensiun sang bapak tak dipungkiri turut membantu perjuangan keluarga yang ia tinggalkan. Bukan hanya secara fisik mereka ditinggalkan, namun juga secara emosional pun psikologis. Seorang anak yang berpisah dari orang tua biasanya kehilangan figur untuk diteladani. Meski hal ini berlaku tak sama bagi setiap anak, namun buktinya sudah jamak kita temui. Orang tua merupakan guru pertama dalam kehidupan anak-anak. 


[1]Apa tugasmu?
[2]Nyuci piring, abang.

Tidak ada komentar: