Jika lewat membaca kita berkenalan dengan penulis, apa menulis serta merta berarti memperkenalkan diri? Ah, belum tentu kan..

Rabu, 09 Maret 2016

Pembuka

"Salam dari bumi ke langit, 
salam dari kami yang merindukanmu."



Syukur bagi Tuhan Sang pemberi kehidupan. BerkatNya semata-matalah yang mengizinkan semua berlangsung sempurna setiap harinya. Punya waktu luang untuk siapa pun dengan bebas membaca kenangan ini. Buku ini, bagian dari keutuhanmu yang kau titipkan di genggam tanganku.

Dulu, masih terasa segar seperti baru kemarin terjadi. Tapi berlembar-lembar kalender menjadi bukti paling jujur betapa lama kita sudah berpisah. Buku ini adalah dirimu yang kubagikan kepada orang lain. Kepada mereka yang mengenal bahkan tak pernah tahu keberadaanmu. Supaya bukan hanya aku yang belajar, namun sebanyak-banyaknya orang yang bisa bersua lewat tulisan.

Kau mungkin bukan guru terbaik bagi sebagian muridmu. Bukan teman terbaik bagi teman-temanmu. Bahkan barangkali bukan putra atau kekasih terbaik yang pernah seseorang miliki. Tapi, kami takkan menjadi diri kami yang sekarang kalau tidak bertemu denganmu sebelumnya. Setiap hal di bumi terhubung satu sama lain, membuat dunia seperti tenunan selimut raksasa. Dan aku percaya, setiap momen punya alasan.

Ada tujuan baik mengapa kita bertemu beberapa tahun silam. Ada pula alasan mengapa kita berpisah beberapa tahun setelahnya. Maksud Tuhan semata-mata baik.

Hari kemarin adalah sejarah. Hari ini adalah karunia, dan hari esok adalah misteri. Penulisnya mengerti bahwa hidup harus dinikmati. Bumi adalah tempat bertugas sementara.





Bogor, Januari 2014

Tidak ada komentar: